Perbedaan Itu Mendewasakan

Kahar S. Cahyono

Salah seorang sahabat baik saya pernah menyampaikan keinginannya agar saya menjadi anggota dewan. Menanggapi keinginan itu, saya hanya tersenyum. Menganggap perkataannya tak lebih sebagai canda ria sahabat dekat. Meskipun ia bercanda, saya menikmatinya. Setidaknya ada juga yang menganggap saya layak berada diposisi itu, meskipun diungkapkan oleh teman sendiri.

Jika sahabat saya menginginkan agar saya mencalonkan diri sebagai anggota dewan, lain halnya dengan apa yang saya rasakan. Menjadi anggota dewan bukan semata-mata karena keinginan. Untuk menjadi anggota dewan, seseorang harus mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Inilah masalahnya.  Saya tidak memiliki dua-duanya.  Keinginan tidak ada. Kepercayaan? Apalagi!

Tidak memiliki keinginan untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan, jangan diartikan anti politik.

Bagi saya, orang yang memilih sama pentingnya dengan orang yang dipilih. Memilih berarti mempercayai. Dengan memilih, setidaknya kita sudahmenyatakan sikap terkait dengan warna politik kita. Dan itu adalah peristiwa sejarah yang penting. Pilihan kita bisa jadi akan merubah wajah dunia.

Sulit untuk membantah, bahwa mereka yang mendapat gelar ‘wakil rakyat’ itu adalah orang-orang yang terpilih. Terlepas dari cara yang mereka lakukan untuk memenangkan pemilihan, toh posisi mereka sama-sama menjadi anggota dewan. Disini, seorang bandit dan pejuang sejati sama-sama memiliki  sebuah kursi. Itulah sebabnya, saya tidak sependapat dengan orang yang bersikap apolitis karena beralasan gedung dewan diisi para bajingan. Jika permasalahannya memang demikian, mengapa kita tidak memasukkan sebanyak-banyaknya orang baik agar para ‘bandit’ itu tidak memiliki kesempatan?

Tetapi inilah yang terjadi sekarang. Definisi baik menurut setiap orang tidaklah sama. Rambut boleh sama hitam, namun isi kepala seringkali berbeda.

Saat ini, misalnya, menjelang Pemilu 2014. Ada banyak pilihan yang disodorkan kepada kita. Tentu tak akan ada yang bisa memaksa. Karena didalam bilik suara, kewenangan mutlak ada ditangan kita. Satu hal yang harus kita pahami, pemilu adalah kesempatan untuk memenangkan kepentingan kita.

Sebagai buruh, tentu saja, saya akan memenangkan kepentingan buruh dengan memilih caleg kader buruh. Saya tidak malu untuk mengajak kawan-kawan memenangkan caleg kader buruh. Jika kemudian kita menang, maka sesungguhnya kemenangan itu bukanlah orang yang kita pilih. Bukan pula kemenangan partai tempat ia bernaung. Yang menang adalah kepentingan kita. Kepentingan kaum pekerja.

Bisa jadi pilihan kita berbeda. Meskipun begitu, tidak seharusnya perbedaan menjadi alasan buat kita saling bermusuhan. Perbedaan itu mendewasakan.

Jika karena perbedaan itu kemudian kita saling bermusuhan, sesungguhnya kita sudah mengalami kekalahan sebelum pemilihan diselenggarakan. Tentu kita tidak ingin kalah, bukan? Karena itu, mari tetap bergandengan tangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s