Sebuah Sensasi yang Tak Ingin Dimiliki Sendiri

Sahabatku, Herman….

Barangkali masih banyak diantara mereka yang tak pernah mengerti, mengapa kau akhirnya mengambil pilihan sulit seperti ini. Dengan posisi itu, setidaknya kau sudah cukup nyaman sebagai seorang karyawan: memiliki jabatan, upah lebih tinggi dengan berbagai fasilitas yang diberikan perusahaan.

Tapi kau memiliki pilihan sendiri. Ketika kawan-kawanmu mengajak bergabung dengan serikat pekerja, tanpa pikir panjang engkau mengiyakan. Tak hanya tercatat menjadi anggota, bahkan, engkau juga menjadi salah satu pengurus dengan posisi strategis: Sekretaris.

Lantang kau sampaikan protes ketika hak kawan-kawanmu tak diberikan, meski engkau sudah mendapatkan lebih dari yang mereka dapatkan. “Ini bukan tentang saya. Ini tentang keadilan. Bahwa setiap manusia harus dihargai kemanusiaannya,” katamu sore itu. Saat kita ngopi bareng di pinggir danau Citra Raya.

Kau cerdas. Juga berani. Itulah barangkali yang kemudian membuat management memecatmu. Memandang dirimu sebagai ancaman yang harus disingkirkan.

Lalu orang-orang berkata, “Tuh, tahu sendiri akibatnya. Sudah enak-enak kerja kok banyak tingkah.” Sebagian dari mereka, adalah orang yang pernah kau bela ketika haknya dirampas oleh Pengusaha.

Barangkali kita perlu memberi tahu orang-orang seperti ini tentang bagaimana menjadi manusia. Kalian bisa saja menjadi penjilat dan cari muka, tetapi percayalah, cara-cara picik seperti itu hanya akan menyesakkan dada. Tak mungkin ada kebahagiaan pada ‘robot bernyawa’ yang tak memiliki kepribadian. Percayalah….

Dan kau, Herman, beri tahu mereka bahwa ada sensasi luar biasa ketika kita terjatuh dan mendapati lutut kita berdarah. Ketika itu terjadi, tak usah buru-buru bangun lagi dan kembali berlari. Mereka punya kesempatan untuk istirahat dan menyaksikan bagaimana luka-luka menjadi kering dengan sendirinya, seperti kata-kata buruk yang hilang dari kepala dan rasa sakit hati yang pelan-pelan tiada bukan karena kita telah memaafkannya tetapi karena kita makin pelupa. Begitu Fahd Djibran menulis.

Kemudian, setelah rasa sakit itu pergi, kita pasti akan kembali berlari. Lebih cepat lagi, karena setiap pengalaman yang kita miliki akan menempa jiwa kita menjadi lebih berarti.

Selamat pagi, Her. Mari kita rayakan akhir pekan ini.

Sahabatmu,
Kahar S. Cahyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s