“Biar saja mereka tak bersedia disebut buruh…”

Diskusi bersama kawan-kawan Sentraco Garmindo
Diskusi bersama kawan-kawan Sentraco Garmindo

Pernyataan ini saya dengar dari seorang kawan. Ia, beberapa kali menegaskan kepada saya bahwa dirinya bukanlah buruh. Kawan saya ini lebih suka menyebut dirinya sebagai karyawan professional. Seseorang yang melakukan pekerjaan, lebih karena tuntutan profesi. “Tentu saja, karyawan dan buruh adalah dua hal yang berbeda,” katanya.

Memang, saat kata “buruh” disebut, seringkali yang tergambar dalam benak banyak orang adalah mereka yang bekerja dibalik dinding pabrik, tinggal di rumah petak/kontrakan, tereskploitasi, tukang demo, lembur hingga tengah malam akan tetapi tetap saja tidak mampu menutup kebutuhan hidup. Sementara, kawan saya, saat ini bergaji lima kali lipat dari UMK Jakarta. Tidak perlu berdesakan di metromini atau bus kota, karena perusahaan memberikan fasilitas mobil untuk memudahkan aktivitasnya.

Saya tidak akan berdebat soal istilah disini. Alasannya sederhana saja. Sebab setiap orang boleh menyebut apa saja tentang dirinya: pegawai swasta, karyawan, kuli, buruh, pekerja, bahkan profesional sekalipun.

Silahkan, kata mana yang nyaman digunakan untuk menyebut statusnya. Namun satu, selama ia masih bekerja dan mendapatkan upah dari orang lain, ia tidak bisa mengelak untuk dikategorikan sebagai buruh.

Jadi, bila ada yang berkata, “Saya bukan buruh,” hanya semata-mata dirinya telah mendapatkan gaji besar dan kedudukan tinggi di perusahaan, jangan terlalu risau. Apalagi iri hati. Bukankah cita-cita pendiri republik ini adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua warga negara?

Hanya, memang, seharusnya semua itu diimbangi dengan pengetahuan tentang siapa dirinya. Buruh itu apa dan harus bagaimana? Apa benar hanya dengan menuntut kenaikan gaji sudah cukup? Bagaimana dengan pemahaman ekonomi politik?

Foto-foto dibawah ini adalah saat saya, M. Rasukan dan Suhirman (keduanya pengurus PC SPAI FSPMI Tangerang) berdiskusi dengan buruh Sentraco Garmindo pada hari Kamis, 23 Januari 2014, kemarin. Saya senang bisa menjadi bagian dari buruh yang melawan. Mereka tidak mengiba sebagai korban. Dan semakin saya dekat dengan mereka, saya semakin menyadari bahwa begitu banyak harapan yang bertebaran.

2

3

4

5
Catatan Perburuhan: Kahar S. Cahyono

One thought on ““Biar saja mereka tak bersedia disebut buruh…”

  1. terimakasih bung…
    insya ALLAH buruh pt sentraco garmindo akan tetap semangat dalam berjuang,terimakasih juga kami sudah di anggap sebagai bagian dari anggota SPAI FSPMI.jangan bosan-bosan untuk terus membimbing kami.
    salam perjuangan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s