Pernikahan

Adik saya, Hesta. Bersama tunangannya.
Adik saya, Hesta. Bersama tunangannya.

 

Siang ini, saya akan berangkat ke Blitar. Kota kecil di Jawa Timur, tempat dimana saya dilahirkan. Seperti biasa, ketika melakukan perjalanan ke Biltar, kami melakukannya seperti bacpacker. Ini perjalanan jauh. Tentu saja, sedapat mungkin saya harus bisa bisa menikmati setiap kota yang dilewati. Pilihan kami menggunakan kereta Matarmaja.

Di tahun 2013, ini untuk yang kedua kalinya saya ke Blitar. Pertama disaat lebaran idul fitri kemarin. Dan sekarang dalam rangka menghadiri pernikahan adik saya, Hesta, pada tanggal 5 Desember 2013 nanti.

Berempat kami akan kesana: Saya, Maimunah, Faddlan, dan Haya.

Sungguh ajaibnya hidup ini.

Sebelas tahun yang lalu saya hanya seorang diri ketika bolak-balik dari Serang ke Blitar. Sejak sepuluh tahun yang lalu saya tak sendiri lagi ketika pergi ke Blitar. Ada Maimunah, istri tercinta, ada disamping saya. Beberapa tahun kemudian, ada seorang lelaki kecil berada ditengah-tengah kami. Dia Faddlan, buah hati kami yang pertama. Dan kini, seorang ‘peri kecil’ ikut menemani. Namanya, Haya.

Jarang bertemu dengan adik saya, Hesta, hingga sekarang pun saya masih menganggapnya seperti anak kecil saja. Rasanya baru kemarin saya melihatnya menggunakan seragam sekolah dasar, merah-putih. Kini dalam hitungan hari, Hesta akan memiliki rumah tangga sendiri. Bersanding dengan bidadari yang dipilihnya.

Bagi saya, pernikahan selalu memberikan kesan mendalam. Apalagi jika pernikahan itu dilakukan di bulan Desember. Bukan karena Desember adalah bulan penutup tahun, tetapi lebih karena di bulan inilah saya dan Maimunah mengikat janji.

Ya, pada tanggal 14 Desember 2013 nanti, pernikahan kami akan genap berusia 10 tahun. Ada banyak kisah yang terajut indah. Ada banyak perselisihan pendapat. Pertengkaran-pertengkaran.

Namun selalu saja, ada banyak cara bagi kami untuk menyatukan kembali kepingan hati yang sedang berselisih. Karena sesungguhnya, dalam setiap pertengkaran itu, tak pernah benar-benar melakukannya dengan kesungguhan hati. Buktinya, tak sampai sehari setelah itu, kami segera melupakannya.

Malam harinya kami kembali tidur diranjang yang sama. Dalam selimut yang sama. Tertawa dan berbahagia bersama.

“Adakah dua hati yang tak pernah berselisih?”

Rasanya tak akan ada.

Dan pernikahan, adalah sebuah jalan yang akan mengantarkan kita menjadi dewasa. Bukan hanya usia yang merangkak tua. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s