“Kita Tak Akan Pernah Melupakannya…”

Beberapa hari ini saya mulai menulis kisah tentang pengeroyokan, pembacokan, dan dugaan percobaan pembunuhan terhadap buruh Bekasi pada saat mogok nasional berlangsung. Kejadian di hari Kamis, 31 Oktober 2013 itu, tak boleh sedikitpun hilang dari ingatan kita. Lagipula kejadian itu bukan hanya persoalan Bekasi saja. Ini adalah ancaman bagi demokrasi. Ancaman bagi kemanusiaan. Dan tentu saja, menjadi persoalan bagi kita semua.

Buruh yang dikeroyok dan dibacok itu bukanlah pelaku tindak kriminal. Mereka sedang melakukan aksi mogok nasional. Sebuah aksi serentak di lebih dari 100 Kabupaten/Kota dan 15 Provinsi. Sebuah aksi yang dilakukan secara sah, sesuai dengan Undang-undang.

Bahkan, kepada Mabes Polri, aksi ini pun sudah diberitahukan jauh-jauh hari.

Hari itu, belasan orang buruh terluka dan bersimbah darah. Mereka dibacok dengan pedang, golok, dan samurai. Ada yang diinjak-injak dan diseret motor. Ada juga yang dipukul dengan pipa besi. Sulit untuk dibayangkan, jika kekejian seperti ini dilakukan oleh manusia.

“Tentu kaum buruh tak akan pernah melupakannya,” itu janji kita semua.

Generasi yang akan lahir, nanti, harus tahu cerita ini. Sebuah kisah, yang disebut oleh Tempo: “Mogok Dalam Kepungan Balok.”

Anak-anak harus tahu, bahwa orang tuanya adalah orang tua yang pemberani. Bahkan anak-anak dari anak kita itu juga harus mengerti, jika kesejahteraan yang mereka dapatkan adalah hasil perjuangan. Bukan didapat dari belas kasihan.

Berawal dari pemikiran itu, saya mulai mengumpulkan data. Merangkai kepingan-kepingan kisah, menjadi sebuah cerita yang utuh. Saya berharap, buku ini bisa diterbitkan bertepatan dengan peringatan 100 hari kekerasan buruh di Bekasi.

Tak muda, memang. Apalagi selain menulis, saya juga memiliki banyak pekerjaan lain. Tetapi tak ada yang tak mungkin ketika kita melakukannya dengan hati. Dengan sepenuh cinta.

* * *

Oh ya, hari ini juga bertepatan dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan kaum buruh ke Mabes Polri, Istana Negara, dan Kantor Gubernur DKI Jakarta. Selain tentang UMK, buruh juga menuntut agar aktor intelektual penyerangan segera ditangkap.

Hampir satu bulan beristiwa ini berlalu. Akan tetapi dalang dibalik semua kejadian ini tak juga tersentuh.

Hari ini, seperti juga hari-hari kemarin dan nanti, kita meminta pihak kepolisian bekerja lebih cepat lagi.

Salam Solidaritas: Kahar S. Cahyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s