Persahabatan Yang Indah

kisahBersediakah dirimu mendengar sebuah kisah tentang persahabatan yang indah. Persahabatan yang saling menguatkan satu sama lain. Bukan semata-mata dekat ketika ada ‘maunya’. Bukan pula sekedar bersama, yang tidak jelas akan berbuat apa.

Jika engkau mau, baiklah, akan kuceritakan kepadamu.

Ini tentang sekelompok pekerja, yang pemikiran dan tindakannya melampaui dinding-dinding perusahaan. Sosok yang sadar dengan sesadar-sadarnya, bahwa status karyawan, cepat atau lambat akan berakhir. Dan pada akhirnya, yang tersisa dari semua itu adalah kebaikan-kebaikannya.

Memang, akan selalu ada, diantara kita yang nanti akan dikenang sebagai pecundang. Penjilat pantat atasan. Menghianati kawannya sendiri.

Tetapi jika boleh memilih, tentu aku akan memilih sebagai orang yang dikenang karena kebaikan-kebaikannya itu. Tak terbayang bagaimana malunya anak dan istriku, jika kelak mengetahui bapak dan suaminya adalah pecundang, justru disaat kawan-kawannya sedang berjuang.

* * *

Mereka tidak saja bekerja di perusahaan yang sama. Tidak juga karena berorganisasi dalam satu bendera. Lebih dari itu, mereka dipertemukan, berteman, dan kemudian berjalan beriringan dalam sebuah kesadaran. Kesadaran yang mencerahkan, bahwa sebagai manusia mereka harus tetap hidup di atas nilai-nilai kemanusiaan. Kesadaran yang sama, yang kemudian menuntun mereka, bahwa siapapun yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan adalah musuh bersama bagi manusia.

Tahukah dirimu, itulah yang membuat mereka bergandengan semakin erat, ketika ada yang mencoba mengganggu. Tak peduli dengan warna kulit. Berasal dari suku mana. Apa statusnya dalam pekerjaan. Apakah gajinya di atas atau jauh dibawah UMR. Mereka hanya percaya pada satu hal: bahwa dimanapun mereka berada, penghisapan manusia atas manusia haruslah dihentikan.

Mereka peduli. Bukan hanya di pabrik tempatnya mengabdi. Tetapi, juga, di pabrik-pabrik lain tempat kawannya bekerja. Bukan saja tentang urusan pabrik dengan segala dinamikanya. Sebab mereka juga berbicara tentang jaminan sosial, penolakan terhadap kenaikan BBM, juga bagaimana memberikan pertolongan kepada korban banjir.

* * *

Kukira, seperti inilah persahabatan yang indah itu.

Mereka tidak cukup memiliki uang untuk membeli kesenangan. Tetapi senyum tulus, solidaritas yang ikhlas, kebersamaan yang jauh dari kepentingan dan ambisi pribadi, lebih dari cukup untuk membuat mereka menjadi manusia yang sebenar-benarnya.

6 thoughts on “Persahabatan Yang Indah

  1. Salam hangat dari sahabat. Meski tidak seangkatan di sekolah, kiranya persahabatan tak menjadikan itu sebagai celah. Dari Blitar yang pernah mendidikmu. Dari Blitar yang tertanam tali pusarmu.🙂

  2. menginspirasi…faktanya,masih banyak yg terlena dgn iming-iming nyaman..gaji diatas UMR…
    sedih…..tapi,semoga bisa membuka hati yg msh tertidur..
    –ijin share…..salam solidaritas

    *aku eks.L2/1996,STMN Blitar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s