Lebaran yang Selalu Menjadi Alasan

Saat menulis catatan ini, arus balik lebaran sedang terjadi. Banyak orang sedang bergegas meninggalkan kampung halaman, untuk kembali menjalani rutinitas. Pemandangan tahunan seperti ini, memang selalu menarik untuk diceritakan. Apalagi, jika kita juga menjadi bagian daripadanya.

Lebaran selalu menjadi daya tarik yang dahsyat. Hampir semua orang membicarakannya. Menunggu kehadirannya. Sebagian besar energi kita pun tercurah untuk sebuah ritual tahunan itu. Bisa anda bayangkan, sisa upah yang dikumpulkan selama dua belas bulan, tidak jarang hanya untuk satu tujuan: agar bisa mudik saat lebaran.

Lebaran selalu menjadi alasan. Alasan untuk menunda banyak agenda yang semestinya mendesak untuk dituntaskan. Dengarkan pendapat seorang kawan, “nanti saja permasalahan ini kita diskusikan sehabis lebaran.” Ini baru satu hal. Sebab kemudian, pada kenyataannya, hal-hal yang lain pun juga berlaku rumus yang sama: nanti saja kita kerjakan setelah lebaran.

Padahal, sejujurnya semua itu bisa diselesaikan tanpa harus menunggu lebaran berlalu. Tetapi itulah faktanya. Dan ternyata, kita memang suka dengan sensasi itu. Sebuah sensasi untuk melupakan semua problema, merayakan kemenangan, berkumpul dengan keluarga sembari bernostalgia pada satu masa yang senantiasa melantunkan kidung cinta.

Lebaran selalu mengingatkan kita, bahwa memiliki waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan orang-orang tercinta adalah hal yang istimewa. Saat berjabatan tangan dalam hangatnya genggaman, kita merasa di dunia ini tidak hidup sendirian. Saat-saat seperti ini, saat-saat kita nyaris melupakan jika ‘kerja lembur’ adalah kewajiban yang tak boleh terlewatkan. Bahwa solidaritas adalah satu-satu jawaban untuk menyelesaian permasalahan secara bersama-sama, agar yang ringan bisa sama dijinjing dan yang berat sama dipikul. Dan inilah kemenangan yang sesungguhnya: saat hari ini menjadi lebih baik dari hari yang kemarin.

Beberapa hari lagi, liburan akan usai, dan kita kembali disibukkan dengan rutinitas. Beberapa kawan, bahkan hari ini sudah kembali bekerja seperti biasa. Pun tak sedikit yang tetap masuk kerja, bahkan saat sebagian besar dari kita sedang menyantap opor ayam, persis pada hari ‘H’ lebaran.

Jika memang lebaran adalah sebuah alasan, tentu kita ingin itu adalah alasan untuk menjadi lebih baik dari bulan-bulan yang kemarin. Menjadi lebih bersemangat, dan pada akhirnya menularkan semangat itu pada yang lainnya.

Akhirnya, dalam kesempatan ini saya mengucapkan: Taqobbalallahu Minnaa Wa Minkum. Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Mohon maaf atas semua kesalahan yang pernah saya perbuat pada Anda….

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s