Benci

“Aku benci dengan dirimu. Muak melihat mukamu!”

Sekeranjang sumpah serapah berhamburan ke udara. Kemarahan yang tak terbendung. Kebencian yang tak bisa lagi dihalangi, dan rasanya akan kekal terbawa mati. Bila boleh meminta, dalam situasi seperti ini, ingin sekali melihatnya mampus kejatuhan buah salak (yang segede gunung).

Begitulah jika kebencian sudah merasuk kedalam dada: tak ada lagi logika. Semua hal dinilai dengan rasa, yang seringkali hanya berupa fatamorgana. Salah benar tidak lagi menjadi ukuran. Sebab yang terpenting adalah bagaimana agar kebencian itu tersalurkan, yang biasanya dilampiaskan dengan cara menyakiti. Tak peduli, meski diantara keduanya pernah saling mencintai.

Mendengar pertengkaran suami istri di depan kontrakan pada siang yang terik itu membuat kita terdiam. Engkau merapatkan tempat dudukmu. Mendekat kepadaku. Seolah hendak mencari tempat bersandar, agar kuat menyaksikan dua orang yang pernah saling mencinta dan melahirkan anak-anak yang manis itu kini terlibat dalam perang dunia ketiga.

Sesaat kemudian engkau memandangku. Aku juga memandangmu. Dan ketika mata kita bertemu, engkau tersipu. Sebelum akhirnya kita sama-sama tersenyum. Ini adalah momentum yang tak akan pernah kulupakan. Dirimu semakin terlihat anggun jika seperti ini. Apalagi dengan rambut berponi yang membentuk hurub ‘S’, sebagai ciri khas dirimu.

Terdengar suara piring dibanting. Pintu ditutup dengan keras. Bunyi berdentum dan kaca-kaca jendela pecah berantakan. Tak lama kemudian suara sepeda motor di gas, terdengar bunyi meraung, sebelum akhirnya sunyi.

“Cinta dan benci itu beda tipis,” kuharap engkau tidak akan pernah melupakan kalimat ini. Kalimat yang pernah kutujukan kepadamu, saat kita duduk di pinggir danau, tidak jauh dari rumah kita. “Terkadang bahkan kita nyaris tidak bisa membedakan, cintakah yang kita rasakan, atau kebencian….”

“Jangan terus berpuisi, Pras. Kadang puisi hanyalah gugusan mimpi. Kita ini hidup dalam dunia nyata. Aku tak ingin berspekulasi tentang cinta dan benci. Aku hanya ingin hubungan kita berjalan dengan apa adanya. Bercinta jika memang saling mencinta, dan membenci jika memang harus ada yang dibenci

“Aku tidak bisa membayangkan jika satu saat nanti engkau membenciku,” gumamku.

Seekor angsa melintas di depan kita. Kehadirannya begitu mempesona. Apalagi saat ia berenang perlahan, seakan memang sengaja hendak melihat seberapa dekatnya kita.

“Ren….”

“Iya, Pras….”

“Mengapa engkau diam?”

“Aku nggak tahu, mampukah aku untuk tidak membencimu disaat kita tak lagi bersama. Tapi percayalah, kebencian itu tersebab karena cinta. Jika saja kita tidak pernah saling mencinta, tidak ada alasan buatku untuk membencimu bukan?”

Kini gilirankan yang diam. Mencoba untuk mengeja kembali kata-katamu barusan, mencernanya secara perlahan.

“Kukira tak ada bedanya. Bukankah benci dan cinta adalah sama-sama soal rasa. Sama-sama cerminan dari perasaan kita, yang keluar dari hati. Seperti halnya aku kesulitan menemukan alasan mengapa mencintaimu, mungkin seperti itu juga kelak ketika aku harus membencimu.”

Aku sedang memandangmu, tepat saat engkau berkata, “Bahkan saat ini pun aku sedang membencimu, Pras….”

“Kamu? Ada apa, Ren. Kesalahan apa yang sudah aku perbuat pada dirimu.” Aku sungguh panik.

“Ya…. Benci yang teramat sangat, bahkan.”

“Memang salahku apa, Ren?”

“Aku benci, kamu. Maksudku, benar-benar cinta….”

Seulas senyum menghias wajahmu.

“Satu kosong,” ujarmu penuh kemenangan, setelah berhasil memperdaya diriku.

“Ya, aku juga benar-benar mencintaimu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s