Menjadi Bintang

Dia masih berdiri di situ. Lebih dari 30 menit yang lalu. Melihatmu duduk berdua di teras depan rumah dengan lelaki yang kau cinta. Melihatmu berbincang santai dengannya, tertawa penuh makna, apalagi ketika sesekali engkau menyandarkan kepalamu di pundaknya.

Jika saja engkau tahu, apa yang dirasakannya saat itu. Sakit yang sulit dimengerti. Luka yang entah karena apa.

Aku tahu, engkau pun masih belum sepenuhnya lupa, dialah yang dulu sering berada disampingmu. Melewati malam di pinggir pantai yang berhiaskan kembang api, ketika dia menggendongmu menyusuri rel kereta api, makan malam di pinggir jalan, atau ketika berada di dermaga Pulau Untung Jawa, melihat orang-orang yang malam itu asyik memancing ikan di laut. Barangkali memang beginilah dua sisi mata uang dari apa yang disebut sebagai cinta: sumber dari bahagia, sekaligus duka lara.

Meski cinta terkadang menyakiti, namun tak pernah jemu kita berusaha menemukan keberadaannya. Sebab, dibalik itu, ia menawarkan berjuta rasa. Mereka yang tak pernah mengenal cinta, tak akan bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab, bahagia itu adalah cinta.

Lelaki disampingmu melihatnya. Tetapi masih juga belum menyadari, jika yang memperhatikan kalian sedari tadi adalah seseorang yang pernah dekat denganmu – sangat dekat bahkan. Engkau juga melihat dia. Hanya sebentar, karena tak lama kemudian engkau menggeser tempat duduk sehingga hanya nampak punggungmu yang terlihat olehnya.

Dia sangat yakin, engkau menyadari kehadirannya. Barangkali engkau hendak menghalau kekhawatiranmu, bahwa bukan dia yang hadir di tengah kalian. Ach, sedari dulu, engkau memang jago bersandiwara.

Engkau menyelonjorkan kakimu.

Sepeda motor melintas pelan di jalan kecil depan rumah.

Dan bersamaan dengan itu, dia merasa terlempar ke masa lalu. Masa-masa yang ingin ditinggalkannya, tetapi selalu menggelayuti langkahnya. Dia tidak pernah lupa dengan kebiasaanmu ini. Caramu berbicara, dengkuran halusmu disaat terlelap dalam tidur, juga bahasa tubuhmu disaat menginginkan sesuatu.

Malam semakin larut. Dahulu, di malam-malam seperti ini, engkau dengannya selalu menghitung bintang. Saling berdebat saat berusaha mencari dan menemukan satu bintang paling indah dari ribuan yang berkilau di atas sana. Dan tentu saja, kita tidak bisa menemukannya.

“Nggak ada yang paling indah,” ujarnya.

Engkau masih diam. Mencari di sudut-sudut langit.

“Owh, pantesan kita tidak menemukan di atas sana. Ternyata bintang yang paling indah ada disini. Disampingku….”

Engkau mencubit pinggangnya.

Begitulah kita. Selalu sederhana dalam mengungkapkan rasa. Maka sulit untuk dipercaya, jika malam ini engkau menjadi orang asing di sudut matanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s