Sebuah Taman yang Kita Perbincangkan Tadi Malam

Lampu sudah engkau matikan, ketika malam ini kita berbincang didalam kamar depan. Tempat ini memang menjadi tempat paling favorit bagi kita untuk berdua. Tempat paling nyaman buatku untuk menulis berbagai judul buku, juga tempat buatmu setiap pagi menaruh secangkir kopi di atas meja yang berserakan buku. Kita sudah sama-sama mengerti, saat-saat seperti ini adalah menit-menit yang sangat berarti dalam kebersamaan kita. Saat-saat yang tidak mungkin menjadi mungkin: ketika tak ada lagi jarak dan jarum jam seperti berhenti berdetak.

Engkau merebahkan badanmu di atas ranjang tempat tidur kita. “Aku ingin membuat taman di depan rumah kita. Ada bunga-bunga, ada batu-batu kecil di pinggirnya, ada kolam tempat Fadlan memelihara ikan. Ada ayunan di sana, tempat kita berdua menikmati rembulan di saat malam sambil mendengarkan simfoni lagi cinta.”

Aku tersenyum. Membicarakan rencana-rencana kedepan memang selalu menyenangkan. Sambil merebahkan badan, disebelah kirimu, lirih aku berucap, “Aku justru ingin membangun satu ruangan di tempat yang ingin kau buat taman itu untuk menaruh buku-buku kita. Ada dua meja dan dua kursi. Satu untuk dirimu menilai hasil pekerjaan murid-muridmu, satu buatku untuk menyelesaikan semua pekerjaanku.”

Dalam keremangan, aku masih bisa melihat engkau membalikkan badan. Menghadapku. Nafasmu yang hangat menerpa telinga.

“Kita memang selalu berbeda. Engkau selalu mengutamakan pekerjaanmu. Pikiranmu hanya dipenuhi oleh orang-orang yang ada diluar sana.” Kekecewaankah yang barusan engkau ucapkan, atau bentuk lain dari kepasrahan?

“Justru karena perbedaan itulah kita bersama. Jika bukan karena itu, lalu apa indahnya warna-warni sang pelangi?”

“Karena itulah aku ingin membuat taman. Percayalah padaku, sebuah taman bisa memberikan kedamaian. Mendekatkan kita. Bukan hanya dalam rasa, tetapi juga secara nyata.” Engkau masih mempertahankan argumentasimu.

“Aku sebenarnya sudah menyiapkan sebuah taman yang luas. Tempatmu dan tempatku menyatu. Tempat Fadlan dan Haya berlarian, menikmati masa kecilnya yang indah.”

Mendengar itu, engkau hanya memajukan bibirmu lima centi.

“Engkau tidak ingin bertanya, dimana taman itu ada?”

“Dimana?”

Aku meraih telapak tanganmu, dan menaruhnya di dadaku. “Disini. Didalam hatiku.”

Engkau tersenyum. Matamu bersinar, air mata bahagia begitu jelas terlihat disana. Seperti telaga, membuatku betah berlama-lama berenang didalamnya. Menyelam hingga ke dasarnya, atau sekedar mengitari pinggirnya dengan perahu angsa.

“Gombal banget sech….”

“Boleh saja engkau tak percaya. Tapi memang begitulah adanya.” Dan pada detik selanjutnya, kata-kata menjadi tidak lagi menjadi bermakna. Cinta memang selalu menyediakan ruang dan tempat untuk bersama. Seperti bunga, yang senantiasa merelakan kupu-kupu hinggap di putiknya. Karena ia tahu, dengan cara itulah ia bisa menghentikan waktu. Untuk selalu menjadikan perasaan ini indah seperti pada awalnya, ketika pertamakali terjatuh dalam cinta.

One thought on “Sebuah Taman yang Kita Perbincangkan Tadi Malam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s