Ternyata Tidak Sesederhana yang Kita Duga

Baru-baru ini saya membaca buku The Other Side of Me (Sisi Lain Diriku), yang ditulis oleh Sidney Sheldon. Sebuah memoar yang menceritakan bagaimana kreatif seorang Sheldon dalam menulis: Drama, Skenario Film, Novel. Terus terang, buku ini memberikan gambaran lain kepada saya tentang bagaimana kehidupan seorang penulis.

Kesuksesan tidak pernah datang sebagai sebuah kebetulan. Ia harus direbut. Diperjuangkan. Begitu juga dengan apa yang terjadi pada diri Sidney Sheldon. Kehidupannya penuh dengan perjuangan dan keraguan, kegagalan dan kesuksesan. Keluarganya miskin, tetapi itu tidak membuatnya lantas berhenti untuk menggapai mimpi.

Saya tidak hendak menyamakan diri saya dengan Sheldon. Hanya saja, sebagai orang yang memiliki pasion menulis, saya suka mengetahui banyak hal tentang bagaimana para penulis itu melakukan proses kreatifnya. Ada yang berbasis riset, pengalaman, bahkan dari pemikiran mendalam terhadap sebuah permasalahan.

Seperti yang saya lakukan sore kemarin di Sastra Plaza. Tempat para aktivis FSPMI biasa berkumpul dan berdiskusi. Saya sedang bersama Siti Komariyah, Anwar Sanusi, dan Kristian Lelono. Bung Kris dan bung Anwar, begitu saya biasa memanggil, adalah sosok yang pernah terlibat dalam proses penulisan buku saya: Memoar Gerakan Buruh Buruh Tangerang. Sedangkan mbak Maria, beberapa tulisannya pernah dimuat di Koran Perdjoeangan.

Kepada mereka saya menyampaikan beberapa ide penulisan. Salah satunya adalah, “Outsourcing Undercover”. Ini adalah sebuah buku berbasis kisah nyata, tentang pernak-pernik kehidupan buruh outsourcing. Lengkap dengan semua hal yang melatar belakanginya: Premanisme, Aktivis berkedok, tipu muslihat, dan sebagainya.

Tetapi, rupanya, sebuah ide akan memancing ide yang lain. Dari satu ide saja, kami bisa mengembangkan banyak gagasan. Dan situasi dimana ide-ide kami melimpah, seringkali menimbulkan sensasi. Warna-warni. Dan saya sungguh menikmatinya.

Dari apa yang saya pelajari dari seorang Sidney Sheldon hingga diskusi di Sastra Plaza sore itu, saya bisa menyimpulkan satu hal: bahwa setiap kita dikarunia kecemerlangan berfikir. Permasalahannya kemudian, tinggal bagaimana kita. Mengoptimalkan keberadaanya, atau justru sebaliknya, mematikannya melakukan tindakan-tindakan bodoh yang sama sekali tidak berkonstribusi pada tercapainya cita-cita.

Apa yang kita anggap sederhana, ternyata menjadi sesuatu yang luar biasa saat kita tampilkan dengan cara yang tidak biasa.

2 thoughts on “Ternyata Tidak Sesederhana yang Kita Duga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s