Mimpi di Bulan Mei

Bagi saya, bulan Mei adalah bulan yang istimewa. Betapa tidak, lembaran hari di bulan ini dibuka dengan peringatan May Day, dilanjutkan dengan Hari Pendidikan Nasional, dan disusul kemudian dengan hari lahir saya, 3 Mei.

Mungkin itulah sebabnya, Mei selalu menebarkan aroma optimisme. Juga harapan-harapan….

Saya masih bisa mengingat dengan baik, dulu, saat masih duduk di bangku sekolah, bulan ini sekaligus menandai bahwa ujian kenaikan kelas akan segera dimulai. Ada satu sensasi untuk belajar lebih giat, setidaknya dengan sebuah penyemangat bahwa itu akan menjadi kado indah ulang tahun saya. Ya, apalagi yang bisa dibanggakan dari seorang anak laki-laki dari keluarga sederhana, selain itu. Saat ini semangat itu juga masih terus menggelora, meski dengan skala yang berbeda.

Apa impian dan harapan saya?

Buat saya ini adalah pertanyaan besar. Sulit untuk merumuskan secara konkret, setidaknya ketika saya menulis posting ini. Tetapi satu hal, passion saya adalah menulis. Sedangkan saya bekerja di FSPMI, yang terkait erat dengan perburuhan. Tentu saja, saya sangat menyukai pekerjaan saya. Dan perpaduan dunia menulis dan penguatan kapasitas kaum pekerja itulah yang kemudian mempengaruhi mimpi-mimpi saya.

Dalam banyak hal, saya menyadari bahwa jalan hidup yang saya tempuh tidak terencana. Kepada bung Kris, salah seorang sahabat baik saya, saya pernah mengatakan bahwa karena begitu banyaknya agenda yang harus saya kerjakan, membuat kehidupan saya serasa mengalir begitu saja. Saya cenderung melakukan apa yang ingin saya lakukan, bukan apa yang penting dan harus saya lakukan. Tolak ukurnya bukan pada pentingnya agenda, tetapi pada apa yang saya sukai.

Hasilnya? Bisa ditebak. Saya seperti tidak memiliki target yang jelas. Hanya menyelesaikan apa yang ada di depan mata, tanpa berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menggali setiap potensi yang ada dalam diri saya. Saya seringkali mengejar kesenangan-kesenangan, yang ternyata adalah semu. Saya banyak melakukan sesuatu yang tidak penting, dimana hal itu tidak berkonstribusi banyak pada passion saya. Saya larut dalam mimpi-mimpi, dan ketika terjaga baru menyadari banyak hal yang terbengkalai. Banyak janji yang tidak bisa saya tepati, banyak capaian yang biasa-biasa saja, padahal saya percaya punya kemampuan lebih untuk membuatnya menjadi sempurna.

Saya ingat pada satu kalimat indah yang berbunyi: Jika jalan yang kau lalui menurun, janganlah terlalu gembira. Karena setelah itu, jalanan itu akan menanjak.

Dalam kalimat lain, barangkali inilah yang disebut titik balik. Ibarat angka nol, yang berdiri gagah sebagai pembatas bilangan positif dan negatif. Kita bisa melompat dari satu bagian ke bagian yang lain, jika kita ingin melakukannya. Jika kita, memang mengambil pilihan untuk melakukan hal itu.

Sabtu malam kemarin, dalam perjalanan pulang sehabis mengikuti satu kegiatan di Serpong, saya menemukan titik balik itu. Malam sudah larut, saat itu, dan saya seperti tersadarkan bahwa ada yang salah dalam diri saya. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, saya seperti menemukan kembali jalan besar yang mengarah pada cita-cita yang sejak dulu saya idam-idamkan. Selama ini saya terlalu asyik menyusuri jalanan setapak, yang justru membuat saya semakin menjauh dari tujuan. Sesuatu yang selama ini saya pertahankan mati-matian.

Tentu saja, harapan saya, setelah ini saya bisa lebih fokus pada hal-hal besar. Mengerjakan sesuatu yang harus saya lakukan, bukan apa yang ingin saya lakukan.

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s