Memahami Perempuan

Kawan, dalam kesempatan ini, ingin aku menceritakan satu hal kepada kalian. Ini tentang apa yang aku rasakan dalam dada dan pikiran. Ketika sudah lebih dari sepuluh tahun aku berada dalam gerakan ini, menggelorakan semangat pembebasan, merasakan pedihnya ketidakadilan yang tersistematis. Ada banyak hal yang ingin kubagikan kepadamu: tentang rasa, cita dan asa.

Aku bukanlah orang yang paling tahu tentang gerakan. Tidak juga hendak pura-pura tahu. Sebab aku tidak merasakan bagaimana sakitnya ketika serikat buruh diletakkan dibawah ketiak orde baru. Pengalamanku juga belumlah seberapa, dibandingkan dengan mereka yang telah terlebih dahulu meniti jejak di jalan perjuangan ini. Tapi percayalah, kesetiaanku untuk berdampingan dengan kalian, dalam situasi sesulit apapun, bisa kalian andalkan.

Jika engkau ingin mengetahui lebih banyak tentang serikat pekerja, barangkali aku bisa membantumu. Akan kuberitahukan kepadamu banyak hal, lebih dari apa yang tertulis sebuah buku dan pasal-pasal dalam undang-undang. Sebab di tahun pertama aku menjadi buruh, aku sudah ikut mendirikan dan menjadi pengurus serikat pekerja. Aku tidak hanya belajar tentang teori, tetapi juga mengaplikasikannya langsung dalam kegiatan sehari-hari.

Aku tahu bagaimana melakukan analisis sosial. Sedikit banyak juga memahami, bagaimana sebuah riset seharusnya dilakukan. Sebab aku pernah ikut melakukan riset tentang Labour Market Flexibility selama berbulan-bulan, menuliskan dan mempublikasikan hasilnya. Dan, meskipun belum bisa dikatakan sempurna, aku pernah melakukan pemetaan demokrasi di Serang dan Tangerang.

Bila kalian ingin melakukan mogok kerja, aku bisa dengan baik memberikan motivasi untuk itu. Aku pernah memimpin pemogokan di perusahaan tempatku bekerja. Tahu betul betapa beratnya tanggungawab yang harus diemban. Dikejar-kejar preman dengan golok di tangan, berhadapan dengan polisi dan aparat yang ’dibayar’ perusahaan.

Aku sudah mendampingi banyak PUK dalam bipartit dan mediasi. Memberikan pembekalan untuk itu. Kukenali betul setiap karakter dari masing-masing perusahaan. Bahkan, rasanya aku sudah hapal diluar kepala bagaimana negosiasi efektif itu harus dijalankan. Meskipun, dalam banyak hal, kusadari bahwa kemampuan bernegosiasi tidaklah selalu efektif untuk mendapatkan hasil yang terbaik: kecuali dengan dukungan penuh dan militansi yang tinggi dari seluruh anggota.

Aku pernah terlibat dalam pergulatan ideologi: Sosialisme – Kapitalisme – Islam. Sedikit banyak aku memahami jalan besar dan cabang-cabangnya. Sebab aku pernah aktif dalam halaqoh Hizbut Tahrir, sebuah partai politik yang bertujuan melanjutkan kehidupan dan mengembang dakwa Islam ke seluruh penjuru dunia, selama hampir 2 tahun. Aku tidak kekiri-kirian, tetapi tidak juga kanan.

Aku juga mengerti jurnalistik. Sebab aku pernah mengikuti pendidikan jurnalistik tingkat dasar dan lanjutan. Menjadi pemimpin redaksi majalah Arsitek (Aspirasi Siswa Teknik) dan majalah Garis (majalah komunitas), pernah juga kulakoni. Aku juga pernah menjadi editor di Harian Online Kabar Indonesia. Jika kalian ingin belajar menulis, janganlah ragu untuk menemuiku. Sebab sebagian dari semangatku adalah untuk mengembalikan tradisi menulis di kalangan aktivis. Sebab menulis adalah sarapan pagiku.

Aku tahu bagaimana membuat Surat Gugatan, menulis eksepsi dan jawaban. Jika kalian ingin membuat replik, tenang saja, aku bahkan sudah belasan kali menuliskannya. Dan tentu saja, pengalaman itu bisa aku bagikan kepada kalian. Aku juga tahu bagaimana membuat duplik, meski hanya beberapa kali mempraktekkannya, karena lebih sering bertindak sebagai penggugat ketimbang tergugat.

Pidato dan menjadi pembicara adalah kemampuan lain yang kumiliki. Aku pernah menjadi juara satu dalam lomba pidato dalam acara diesnatalis yang diselenggarakan sekolahku, dulu. Menjadi pembicara dalam berbagai training, seminar, dan lokakarya.

* * *

Tetapi satu hal saja yang ingin kuberitahukan kepadamu, jangan kau tanyakan kepadaku tentang perempuan. Sebab hingga saat ini pun aku tidak pernah berhasil memahami keinginannya. Dan jika ada yang mengatakan, bahwa suami adalah anak laki-laki yang tak pernah menjadi dewasa di mata seorang istri, bisa jadi itu benar adanya.

Meminjam kalimat Romi Satria Wahono, yang kemudian menginspirasi tulisan ini: Dan makin aneh kau rasakan… | Karena ketika kau pikir dia tak bisa dipahami dengan logika. | Dia akan datang kepadamu dengan pemikiran penuh logika. | Dan bahkan teori himpunan matematika

Jika engkau banyak bicara, dia akan menganggapmu lebay. Tetapi jika engkau diamkan, dia akan segera menyiapkan sebuah pemogokan.

Seringkali negosiasi dan siasatnya tak terduga. Bahkan ketika berada dibawah langit dengan keindahan rembulan dan sejuta bintang gemintang, ia bisa tanpa beban memutuskan bipartit telah dead lock dan menemui jalan buntu. Kadang ia menjadi kapitalis, tetapi sekejap bisa berubah menjadi sosialis.

Dan ini hebatnya…. Jika engkau buatkan sebuah gugatan dengan Posita dan Petitum yang brillian, ia pasti dengan mudah membuatnya menjadi niet ontvankelijk verklaard. Dan tanpa ampun, ia segera berubah dari Tergugat menjadi Penggugat Rekonpensi, yang akan menghajarmu dengan dalil-dalil yang tak mungkin engkau tangkis dalam replik sehebat apapun.

Mungkin karena ’perempuan’ berasal dari kata ’empu’, yang berarti ibu, mulia, dihormati, membimbing, mengasuh. Dan, di atas semua itu, aku sangat menghormatimu…

Itulah sebabnya menjadi mutlak: Gender Equality dan Gender Equity.

Catatan: Kahar S. Cahyono
Aktivis dan Penulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s