5 Kecenderungan Alamiah Seorang Pekerja/Buruh

Sampai hari ini saya masih belum bisa mengerti, jika ada pekerja lebih memilih untuk bergabung dengan serikat pekerja yang direkomendasikan oleh pengusaha ketimbang serikat pekerja yang dibentuk murni dari kalangan pekerja. Alasan klasik, untuk menghindar dari resiko yang mungkin terjadi, buat saya terlalu mengada-ada. Apakah mereka hendak menggadaikan martabat dan masa depannya dengan ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan itu: takut di PHK, takut diintimidasi, dikurangi upahnya, takut tidak naik pangkat, takut melarat?

Saya sadar, di negeri ini, membentuk serikat pekerja itu gampang. Keluar dari serikat pekerja lama, dan bergabung dengan serikat pekerja yang lainnya, juga semudah membalikkan telapak tangan. Sama sekali tidak ada masalah dengan hal ini. Jika memang semuanya diniatkan dan didedikasikan untuk kejayaan kaum pekerja.

Masalah yang sesungguhnya adalah, jika, seseorang keluar dari serikat pekerja hanya untuk bergabung dengan ”serikat pekerja” yang jelas-jelas dibentuk untuk tunduk merunduk kepada majikan. Saya terpaksa harus memberi tanda kutip pada kata ”serikat pekerja” dimaksud, untuk menegaskan, meskipun mereka beranggota para pekerja, tetapi tidak dibentuk dari dan oleh pekerja.

Ini terjadi, bukan sekali dua kali. Oleh karenanya, saya merasa perlu untuk membuat catatan khusus tentangnya dalam blog ini.

Ketika management membuat ”serikat pekerja” baru guna menandingi serikat pekerja benar-benar konsisten melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap anggotanya. Celakanya, jika kemudian, “serikat pekerja” gadungan ini digunakan pengusaha untuk melegalisasi kebijakan/aturan yang menindas buruh. Dan dengan alasan “untuk menjaga sawah dan ladang kita”, buruh-buruh yang dibodohi ini memposisikan diri sebagai kepanjangan tangan kapitalis ketimbang memenangkan kepentingan buruh.

Sadarkah mereka, sebagai buruh, ada 3 (tiga) kecenderungan yang kemungkinan besar terjadi. Ketiganya adalah:

1. Tidak Ada Kepastian Kerja

Bagaimana ada kepastian jika kerja kontrak dan outsourcing dibiarkan merajalela. Ketika seseorang bisa dengan mudah di PHK kapan saja, dengan sebuah kalimat yang dijadikan mantra: Tanpa berhak menuntut apa-apa.

Situasi ini semakin para saat kita melihat kinerja pegawai pengawas Dinas Ketenagakerjaan yang terasa sangat mengecewakan. Bukan saja melakukan pembiaran, tetapi juga, ada kesan hendak melanggengkan fleksibelitas pasar kerja yang saat ini tengah menggurita. Outsourcing bukan saja menempatkan manusia sebagai produk yang bebas diperjual belikan, tetapi juga telah menghilangkan kepastian kerja.

2. Tidak Ada Kepastian Pendapatan

Jika bisa membayar upah lebih rendah, mengapa harus membayar lebih tinggi? Kecenderungan perusahaan adalah memangkas semua pengeluarkan (upah) untuk buruh. Karena memang, itulah yang paling mudah dilakukan. Jangan heran, meski dalam regulasi dikatakan UMK/UMSK hanya berlaku bagi pekerja lajang yang memiliki masa kerja dibawah satu tahun, mereka yang sudah 20 tahun pun masih diupah minimum. Bahkan lebih rendah dari itu.

Ada juga yang tidak bersedia membayar upah lembur, dengan alasan itu adalah bagian dari loyalitas dan tanggungjawab terhadap pekerjaan.

3. Dipekerjakan Tanpa Mengenal Lelah

Tidak boleh tidak, minimal delapan jam sehari, empat puluh jam dalam seminggu, seorang buruh harus berjibaku didalam pabrik. Ini belum terhitung dengan lembur, yang dalam banyak perusahaan menjadi kewajiban. Rutinitas ini akan terus berulang, sepanjang ia masih menyandang gelar sebagai karyawan. Mereka kehabisan waktu, untuk keluarga, masyarakat, bahkan dirinya sendiri. Terasing dalam keramaian.

Tenaganya lebih penting dari otaknya. Untuk memastikan mesin produksi terus berjalan tanpa jeda. Jika satu saat ia terkapar tak berdaya, karena sakit dan tubuh yang semakin menua, perusahaan tidak akan lagi sudi menggunakan.

4. Dibawah Perintah Mutlak

Sebagai seorang buruh, kita seperti menjadi tidak lebih dari “suruhan” majikan. Seolah, mereka bebas memperlakukan apa saja terhadap kita. Aspirasi kita jarang didengar, apalagi untuk menentukan secara bersama-sama syarat-syarat dan kondisi kerja. Doktrin yang ditujukan kepada kita adalah: kerja, kerja, kerja dan taat mutlak pada atasan. Mereka membuat berbagai peraturan dengan beragam sanksi yang memberatkan, tanpa pernah sedikitpun menanyakan apa pendapat kita atas semua peraturan itu.

5. Memiliki Posisi Tawar yang Rendah

Selalu, kebersamaan akan menjadikan kita semakin kuat. Berbanding lurus dengan itu, posisi tawar kita juga akan semakin meningkat. Management pasti akan lebih mendengar aspirasi yang disampaikan secara bersama oleh seluruh perusahaan, ketimbang hanya disampaikan oleh seorang buruh.

Sebaliknya, sebagai individu, tentu kita memiliki posisi tawar yang sangat rendah. Suara dan aspirasi kita nyaris tidak didengar. Bahkan sama sekali tidak dihitung. Sebagai individu, keberadaan diri kita akan tenggelam dilibas bisingnya bunyi mesin dan keangkuhan dinding-dinding pabrik.

Kelima hal di atas merupakan kecenderungan alamiah yang dialami oleh pekerja. Ini seperti kutukan, yang secara turun-temurun terjadi pada kaum buruh.

Oleh karenanya, tidak ada pilihan yang lebih baik, bagi buruh, selain mengorganisir diri dan membentuk serikat pekerja yang kuat dan bermartabat.

Yakinlah pada satu hal, bahwa kesejahteraan tidak bisa digapai dengan hanya bermanis-manis buka dengan perusahaan. Buktinya, selama belasan tahun Anda bekerja, jalan hidup tidak pernah beranjak dari tempatmu berpijak.

Serikat pekerja adalah cara yang konstitusional bagi kaum pekerja, untuk mengimbangi dominasi management dalam menentuka syarat-syarat kerja.

Serikat pekerja adalah cara yang palih legal, untuk meminta bagian dari keuntungan perusahaan secara adil.

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
Jum`at, 23 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s