Seperti Memakan Buah Simalakama

Kemarin saya mendapat kabar, ada seorang kawan yang dipaksa mundur dari pengurus serikat pekerja oleh pimpinan perusahaan, yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Lebih dari itu, dia juga adalah seseorang yang dulu membantunya sehingga bisa bekerja di perusahaan ini. Dan atas nama balas budi itulah, permintaan untuk mundur dari kepengurusan serikat pekerja itu disampaikan. Tentu saja diselingi kalimat tendensius: jika masih ingin menganggap sebagai saudara.

Menggunakan orang-orang terdekat kita, untuk menghalang-halangi kita aktif dalam organisasi serikat pekerja sudah sering terjadi. Bahkan sangat biasa. Oleh karena itu, semestinya kita juga sudah menyadari jauh-jauh hari akan kemungkinan ini, sehingga bisa mengantisipasi.

Komunikasi bisa menjadi alternatif dalam menyelesaikan persoalan seperti ini. Kita bisa memberikan penjelasan, mengapa serikat pekerja itu dibutuhkan hadir dalam sebuah perusahaan. Bukannya malah hendak dimusnahkan.

Ya, itu dalam standar normal. Mengandaikan berjalan tanpa kendala. Bagaimana jika mereka tetap memaksa? Mengancam hendak memutuskan tali persaudaraan?

Sulit, memang. Situasi yang digambarkan sebagai istilah, memakan buah simalakama. Dimakan emak mati, tak dimakan bapak yang mati.

Semua berpulang pada keteguhan dan keyakinan kita. Pada keputusan dan jalan mana yang hendak kita pilih. Walupun kita bisa dengan lantang mengatakan itu adalah bagian dari ’union busting’, tetapi tetap saja sulit bagi kita untuk mendorong ini pada ranah pidana. Melaporkan saudara sendiri kepada pihak berwajib karena pelanggaran kebebasan berserikat? Jelas bukan pilihan yang mudah.

Bertahan pada putusan semula untuk tetap menjadi pengurus. Ini yang terbaik. Jika saja kita cukup memiliki keberanian, teguh pada pendirian, pada saatnya nanti semua juga akan berjalan seperti biasa. Masalahnya, tidak semua orang memiliki keberanian yang sama untuk melakukan ini.

Bukankah tidak seharusnya, sebagai saudara yang sekaligus menjadi orang penting di perusahaan, mengajarkan kita sesuatu yang tidak benar. Mengajarkan kita untuk melawan hukum dengan menanggalkan hak yang melekat pada seorang buruh, menjadi atau tidak menjadi pengurus serikat pekerja.

Lepas dari semua itu, memanfaatkan orang-orang terdekat untuk menghalang-halangi berserikat tidak lebih dari tindakan seorang pengecut, pecundang, dan penakut. Mereka memanfaatkan hubungan yang lemah ini untuk menekan. Melalui tulisan ini, saya berharap hal seperti ini tidak akan lagi terulang. Itu adalah tindakan yang sama sekali tidak beradap, dan hanya merusak integritas diri sendiri.

Pelajaran yang Bisa Diambil

Dari peristiwa ini setidaknya kita menjadi semakin sadar, tentang pentingnya untuk mengintensifkan kampanye kebebasan berserikat. Pentingnya membangun komunikasi dengan orang-orang terdekat. Dengan saudara, keluarga, suami, istri, dengan orang-orang yang kita cintai. Sebab tak jarang, merekalah yang justru menjadi penghalang buat kita untuk aktif menjalankan kegiatan serikat pekerja.

Apalagi, sebagaimana kita sadari, masih banyak orang yang salah kaprah mengartikan serikat pekerja. Ini terjadi antara lain karena:

• Pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman yang minim tentang SP/SB

• Image yang buruk tentang SP/SB

• Kesadaran berserikat yang masih rendah

• Sikap alergi dan phobia terhadap SP/SB

Satu hal yang musti kita sadari, bahwa kita berhak memutuskan untuk menjadi diri sendiri. Untuk tidak hidup dibawah tekanan dan tunduk pada penguasaan orang lain. Kita adalah jiwa-jiwa merdeka, dan membulatkan tekad untuk memerdekakan dari penindasan.

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
Saat gerimis turun di pagi hari, 19 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s