Semalam di Pulau Untung Jawa

Sabtu hingga Minggu (3 – 4 Maret 2012), saya menghadiri Konsolidasi Garda Metal Tangerang Raya di Pulau Untung Jawa. Kegiatan yang menarik, apalagi diselenggarakan di sebuah pulau yang eksotis, dalam gugusan kepulauan seribu.

Memang hanya dua hari. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rentang waktu yang sedemikian panjang, dimana perjuangan kaum buruh senantiasa menghiasi lembaran sejarah di sepanjang zaman. Tetapi setidaknya, dua hari ini mampu menghidupkan kembali semangat dan keyakinan pada sebuah cita-cita. Mampu mempertemukan dengan kawan-kawan lama, yang nyaris tidak bisa terwujud dalam hari-hari biasa.

Ini bukan tentang kenangan pada keindahan pantainya yang asri. Bukan juga tentang malam-malam yang terlewati tanpa mimpi. Tetapi tentang sebuah harapan dan cita-cita besar yang tak pernah pudar. Seperti ombak, yang setia merengkuh sang pantai.

Pertemuan-pertemuan besar seperti ini memang harus sering dilakukan. Sebab kebersamaan akan melipatgandakan kekuatan. Keraguan akan hilang. Berganti dengan optimisme. Selalu, bersama lebih kuat dibanding ketika sendirian.

Saat-saat seperti ini, kita bisa menghidupkan atmosfir perlawanan. Dan panen paling besar yang bisa kita dapatkan adalah, bertambahnya kesadaran anggota untuk berpartisipasi secara langsung dalam perjuangan organisasi.

Ketika diminta untuk memberikan materi dalam kegiatan ini, saya mengenalkan tentang fordisme. Fordisme tidak lain adalah sebuah metode manajemen industri yang berazaskan assembly line atau sering disebut metode ban berjalan dalam proses produksi yang bersifat massal. Konsep tersebut menggambarkan proses ekonomi produksi dengan cara membagi proses produksi ke dalam ratusan atau bahkan ribuan unit kecil (Sumartono).

Secara lebih sederhana, fordisme merupakan model industri yang semata-mata menekankan ketrampilan-ritmis dan mengesampingkan aspek intelektual dalam proses produksi. Lebih mengedepankan mekanisasi, rutinisasi, penyederhanaan pekerjaa, fragmentasi produksi, spesialisasi, kecepatan kerja dan pemaksaan lebih besar dari pada persetujuan dalam hubungan kerja.

Seorang buruh di pabrik sepatu, misalnya, di bagian potong, seumur-umur pekerjaannya adalah memotong bahan. Begitu juga di bagian pengeleman, jahit, packing, dan sebagainya. Tanpa sadar, berumah menjadi mesin. Rutinitas yang terulang. Dan perlahan akan terisolasi dari komunitasnya. Bahkan dengan kawan satu pabrik, di bagian lain. Di sift yang berbeda.

Jika ini tidak disadari oleh kaum buruh, kelak mereka akan mendapati dirinya telah menua, namun tidak memberikan konstribusi apa-apa. Bahkan lebih bodoh ketimbang sebelum menjadi buruh pabrik.

Pertemuan seperti ini, setidaknya adalah upaya untuk merobohkan sekat-sekat dinding pabrik. Ketika buruh bisa berdiskusi dengan buruh-buruh di perusahaan lain. Merasakan getaran yang sama. Mendiskusikan kepentingan yang sama.

Dan ketika pertemuan-pertemuan seperti ini bisa terus kita tingkatkan, baik secara kuantitas maupun kualitas, maka kita akan melaju dengan cepat. Kita memang harus bergerak cepat. Ini era kita, kesempatan emas bagi gerakan serikat buruh untuk menjadi penentu perubahan.

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
Tangerang, 15 Maret 2012

One thought on “Semalam di Pulau Untung Jawa

  1. lagi nyari2 wisata pantai dekat bekasi selain ancol….
    untuk terapi ibu saya yg menderita paru2 basah, mdh2an cepat sembut. Aamiiin……………..

    http://www.nashwashop.com
    sedia : cloth diaper/popok cuci ulang, menstrual pads/pembalut cuci ulang
    0813 1745 7779, 0857 177 99 519
    YM : nashwashop
    Gtalk : nashwashop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s