“Justru karena takut di PHK, saya bergabung dengan serikat pekerja…”

Untuk kesekian kalinya, saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan kawan-kawan pekerja/buruh yang memiliki keinginan untuk membentuk serikat pekerja. Dan diskusi seperti ini selalu memberikan pengalaman baru. Menemukan semangat baru. Saya begitu menikmati pengalaman ini. Seperti ada perasaan asing yang menyenangkan, dan membuat saya terlupa pada semua problema.

Sulit untuk dipungkiri, saat-saat seperti ini, adalah saat-saat dimana ketika harapan dan ketakutan dipertemukan. Harapan untuk memiliki organisasi serikat pekerja yang mampu memberikan perlindungan dan pembelaan. Memiliki sebuah alat perjuangan yang mampu menjadikan pekerja/buruh semakin bermartabat. Juga ketakutan yang menyeruak kedalam jiwa. Takut di PHK, diturunkan pangkatnya, dikucilkan oleh management, dan beragam hal lain yang dilekatkan sebagai dampak negatif dari adanya serikat pekerja.

Harapan dan ketakutan, terkadang menjadi dua hal yang saling mengisi. Ketakutan juga bisa dipahami sebagai tokoh antagonis dalam sebuah pentas sandiwara. Ia harus ada, agar kita lebih berhati-hati dan tidak gegabah dalam melangkah. Hanya saja, yang tidak boleh terjadi, jika kemudian ketakutan itu terlampau mendominasi, sehingga kita berhenti untuk mewujudkan harapan.

”Apakah kawan-kawan siap di PHK?” Pertanyaan ini hampir tidak pernah ketinggalan, setiap kali saya berdiskusi dengan kawan-kawan yang menyatakan niatnya untuk membentuk serikat pekerja.

Jawabannya pun seperti sudah tersedia sebelumnya.

Serempak mereka berteriak, “Siaappp!”

Ada kesan, serikat pekerja adalah jalan terakhir, ketika eksploitasi terhadap buruh sudah tidak lagi tertahankan. Serikat pekerja hanyalah menjadi seperti pemadam kebakaran, dibutuhkan ketika kobaran api sudah membesar. Serikat pekerja hanya untuk mereka yang sudah siap di PHK, sementara bagi mereka yang masih cinta dengan pekerjaannya, jangan coba-coba.

Jawaban tadi sekaligus cermin, dari apa yang dipahami oleh kebanyakan pekerja saat ini.

Tetapi jika pertanyaan yang sama ditujukan kepada saya, saya akan mengatakan tidak siap.

“Justru karena saya tidak siap di PHK, saya membentuk dan bergabung dengan serikat pekerja. Agar jika suatu saat nanti perusahaan melakukan PHK secara semena-mena terhadap saya, ada yang memberikan pembelaan dan perlindungan terhadap saya.”

Jika saya menginginkan terjadinya PHK atas diri saya, lantas apa pentingnya lagi bergabung serikat pekerja? Bagaimanapun, saya tidak hendak menodai reputasi organisasi yang begitu diagung-agungkan oleh kalangan pekerja ini hanya untuk mendapatkan pesangon. Cita-cita serikat pekerja, jelas lebih besar ketimbang itu.

Saya ingin memiliki kepastian kerja dan kepastian pendapatan. Bekerja hingga saatnya nanti tiba masanya untuk pensiun. Dan serikat pekerja, adalah satu-satunya organisasi yang saya percaya bisa menjaga dan mewujudkan mimpi-mimpi saya.

Ya, serikat pekerja bukan semata untuk memperjuangkan apa yang belum kita dapatkan. Tetapi juga mempertahankan agar apa yang sudah kita dapatkan sekarang tetap kita dapatkan nanti.

Sudahkan anda berserikat?

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
Aktivis Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia

One thought on ““Justru karena takut di PHK, saya bergabung dengan serikat pekerja…”

  1. Saya bekerja disuatu perusahaan swasta. Diperusahaan saya awal 2012 ini diberlakukan 6 hari kerja yg semula 5 hari kerja. Yg membuat saya kecewa adalah ada sebagian (besar) karyawan yg 5 hari kerja. Hal ini jelas menimbulkan kecemburuan diantara karyawan. Apakah yg dilakukan perusahaan dgn memberlakukan 2 peraturan hari kerja ini melanggar undang-undang? Terima kasih, jawabannya saya tunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s