100 Persen Perempuan

Saat saya mulai menulis catatan ini, penunjuk waktu di pojok kanan bawah notebook saya menunjukkan angka 21:50. Malam sudah larut, tetapi mata saya sulit terpejam. Konsolidasi hari ini meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri saya.

Ya, malam ini (28/12/11) saya baru saja pulang dari menghadiri undangan konsolidasi sebuah unit kerja yang baru bergabung dengan FSPMI. Unit kerja yang istimewa. Selain menjadi PUK termuda di Tangerang, di sektor SPAI Tangerang, untuk sementara PUK ini memiliki jumlah anggota terbesar.

Dan ini yang menarik, seluruhnya adalah perempuan.

”Kawan-kawan sangat antusias ingin bergabung dengan FSPMI…,” satu kalimat yang terdengar indah di telinga saya. Seorang pengurus menginformasikan perkembangan jumlah anggota.

Sebelum memutuskan untuk bergabung dengan FSPMI, mereka sesungguhnya sudah menjadi anggota serikat pekerja yang lain. Di tengah upaya sangat keras dari serikat lama untuk mempertahankan dominasinya itulah, kawan-kawan ini dengan ’heroik’ menyeberang ke organisasi FSPMI. Semua membawa harapan, dan juga mimpi untuk mendapatkan perubahan.

Diskusi sempat memanas, ketika beberapa orang yang masih loyal terhadap ketua serikat pekerja yang lama juga ikut hadir dan melakukan protes keras. Mengapa perpindahan ke FSPMI tidak dibicarakan terlebih dahulu dengan si ketua. Dilakukan dengan diam-diam?

”Karena serikat yang lama tidak ada hasilnya.” Riuh jawaban itu keluar dari banyak orang yang hadir dalam pertemuan ini.

”Kalau ngurus serikatnya bener, kita juga tidak bakal pindah serikat.” Timpal yang lain.

”Nggak ada hasil gimana? Nggak bener gimana? Kita bisa mengambil cuti sekarang ini adalah hasil perjuangan serikat yang lama.” Seru si pemrotes, tak kalah sengit.

“Itu mah sudah normatif, tau! Sudah kewajiban perusahaan untuk memberikan.”

Saya kira hari itu perang dunia ketiga akan terjadi, jika saja saya tidak segera menengahi. Saya ingatkan kepada semua yang hadir. Bahwa musuh kita bukanlah sesama pekerja. Pun tidak ada gunanya jika perdebatan ini terus dilanjutkan.

“Bagi yang meginginkan perubahan, silahkan mengisi formulir yang disediakan FSPMI. Tetapi bagi yang tidak, silahkan minggir. Jangan menghalang-halangi niat kami untuk terus maju. Biarkan mereka memilih dengan hati, tanpa intimidasi dari siapapun untuk bergabung dengan serikat pekerja yang mana.”

Suasana kembali tenang. Puluhan orang, semuanya perempuan, larut dalam pikirannya sendiri-sendiri.

Dalam jeda itulah, saya teringat beberapa waktu lalu, ketika kawan-kawan ini mengontak saya dan menyatakan keinginannya untuk menjadi bagian dari FSPMI. Tentang kekecewaannya terhadap serikat pekerja lama, yang dianggapnya lebih pro kepada pengusaha. Juga kinerja yang menurut mereka sangat mengecewakan.

Saya katakan kepada mereka, FSPMI bukanlah dukun yang bisa menyelesaikan semua masalah dengan hanya mengucapkan mantra `bim salabim`. Jika Anda tidak mau menolong diri sendiri, maka FSPMI juga tidak akan bisa banyak membantu. Lalu mereka menyakinkan kepada saya, jika bendera FSPMI berkibar di perusahaan itu, maka seluruh anggota serikat pekerja yang lama akan bergabung dengan FSPMI.

Dan sore ini, hanya empat hari setelah mereka menyatakan hal itu kepada saya, mereka membuktikan janjinya. Dan ini yang menarik, kerja-kerja pengorganisasian ini seluruhnya dilakukan oleh perempuan.

Pulang dari agenda konsolidasi, saya sempat merenung panjang. Banyak sudah kawan-kawan dari serikat pekerja lain menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan FSPMI. Alasannya sama, serikat pekerja lama tidak lagi bisa diharapkan. Mereka menginginkan perubahan.

Tentu ini menjadi tugas berat bagi FSPMI untuk menjawab harapan itu. Sebab jika ternyata FSPMI pun melakukan kesalahan yang sama, maka orang juga akan beranggapan bahwa FSPMI tidak beda dengan serikat pekerja yang lain. Dan itulah pelajaran pertama hari ini, jika engkau berkhianat, maka engkau akan ditinggalkan.

Pelajaran yang kedua, saya kira, kita tidak boleh lagi mengesampingkan peran perempuan. Mereka, dari anggota hingga pengurus, seratus persen adalan perempuan. Tetapi jangan diragukan lagi militansi dan keberaniannya. Menurut pengakuan mereka, mogok kerja bukanlah hal yang asing bagi mereka. Menghentikan proses produksi perusahaan selama dua minggu, bahkan pernah mereka lakukan.

Pelajaran ketiga, adalah betapa pentingnya untuk menjaga dan merawat basis. Sehebat apapun sang ketua, jika ditinggalkan anggotanya, maka tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Dan inilah yang sedang dipertontonkan oleh kawan-kawan ini. Seolah mereka sedang meneriakkan kepada dunia, bahwa kedaulatan tertinggi itu ada di tangan anggota.

Dan ini yang menarik, seluruhnya dilakukan oleh perempuan.

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s