Sebuah Cerita dari Meja Makan

Jarum jam bergerak pasti mendekati angka sembilan, tadi malam. Hujan dari sore masih menyisakan gerimis. Tapi kita tetap saja memutuskan untuk membeli makanan. Bukan makanan istimewa di restoran ternama. Hanya Pecel Ampela di warung kaki lima, tak jauh dari rumah kita. Satu bungkus untuk berdua.

”Dari tadi pagi belum kemasukan nasi,” katamu.

Aku memandangmu, tepat di dua bola mata yang selalu kukagumi keindahannya itu. Engkau selalu berbicara apa adanya. Aku tahu engkau tidak sedang berdusta. Sebab situasi seperti ini – saat di rumah tidak ada lagi yang bisa dimakan – bukan sekali dua kali terjadi.

Soal belum makan, sesungguhnya hal yang sama terjadi padaku. Jangan dikira saat aku berangkat pagi dan pulang senja, segala urusan tentang perut pasti terpenuhi. Pabrik tidak menyediakan makan siang untuk buruh-buruhnya. Akibatnya aku lebih sering makan sekedarnya saat jam istirahat siang tiba. Mie instan, gorengan…. Makan hanya sekedar untuk bisa melanjutkan hidup.

Jika aku tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu, bukan berarti ada yang aku hendak menyembunyikan sesuatu. Aku hanya tidak ingin membebani pikiranmu dengan beragam kesulitan. Kita sudah terlalu banyak berkubang dalam masalah, dan aku tidak hendak menghadirkan masalah baru dalam kehidupan kita.

Aku ingin melihatmu selalu bahagia. Ingin menghadirkan berjuta kupu-kupu. Menjadikan hari-hari kita penuh warna, dengan simfoni lagu cinta yang senantiasa mengalun syahdu di setiap waktu.

”Hutang di warung sudah menumpuk.”

Satu hal yang tidak bisa aku sembunyikan darimu adalah permasalahan finansial. Bisa saja aku berlagak perlente di depan orang lain. Tapi tidak di hadapanmu. Sebab, selain diriku sendiri, engkau yang paling tahu isi dompetku. Hanya ada fotomu yang tersenyum simpul, yang menjadikan dirimu terlihat sebagai sebenar-benarnya wanita. Engkau yang paling tahu, seberapa banyak harta kekayaanku. Yang jika dikalkulasikan, bisa jadi angkanya dibawah nol rupiah.

Begitulah kita, tidak ada lagi rahasia. Nyaris tidak ada jarak, sehingga detak jantungmu pun bisa kurasakan di hatiku.

Kita menghargai realitas. Memaknai penghasilan yang pas-pasan ini sebagai sebuah keniscayaan yang musti dihadapi. Matamu tetap berbinar. Bercahaya penuh cinta. Serasa keteguhan pada janji adanya disini. Di hati kita.

Satu saat kita pernah membahas hal ini. Itu dulu. Dulu sekali. Saat kita mencoba untuk memahami satu dengan yang lainnya. Tentang cinta dan logika. Cinta memang bisa menyatukan dua hati. Tapi untuk sampai ke dalam pernikahan, itu saja tidak cukup.

Apalagi saat anak-anak kita terlahir dan beranjak besar. Mungkin kita sudah terbiasa menahan lapar. Tapi tidak dengan si buah hati, yang belum bisa memahami mengapa susu tak terbeli. Ketika mereka lapar, cinta yang ada pada diri kita akan pernah membuatnya menjadi kenyang.

“Dan itukah alasanmu sehingga buruh-buruh kontrak dan outsourcing itu selalu menunda pernikahannya, karena selalu beralasan tidak memiliki cukup tabungan dan pekerjaan yang mapan?”

“Bisa jadi begitu,” jawabku.

Engkau menatapku tajam, sebelum kemudian berkata pelan. “Mencintaimu adalah kebahagiaan tiada duanya. Dan menikah denganmu, meski sederhana, adalah satu kebanggaan dalam hidupku. Jika hanya karena harta aku bersedia melakukan semua ini denganmu, lantas apa bedanya dengan pelacur?”

Aku terdiam mendengar kalimat itu.

Bisa jadi engkau benar. Buktinya, dengan sebungkus nasi yang kita makan berdua semalam, mampu mengantarkan kita untuk sampai pada pagi yang indah ini.

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

Lepas Konsolidasi Organisasi Menyikapi UMSK Tangerang

One thought on “Sebuah Cerita dari Meja Makan

  1. Sebuah renungan yang menggugah hati, semoga ditengah himpitan kehidupan masih banyak kekuatan lain tuk jadi “penopang cinta” dalam mengarungi lautan hidup.

    Terus berkarya bung… do’aku menyertaimu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s