Mencintai dengan Apa Adanya

Saya baru dua kali bertemu dengannya. Kedua pertemuan itu pun terjadi saat kami menghadiri sidang di Pengadilan Hubungan Industrial Serang. Kemarin, adalah pertemuan yang kedua kami.

Perempuan yang ramah. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan, dalam dua pertemuan itu. Supel, dan sekilas memiliki kepribadian yang cukup menarik. Setidaknya inilah kesan pertama yang saya dapatkan.

Eits…, jangan dulu berprasangka macam-macam. Tidak ada maksud apapun, jika kemudian saya menjadikannya sebagai tokoh utama dalam catatan ini. Bukan juga karena terpesona oleh pandangan pertama. Itu saya lakukan, hanya semata-mata karena saya mendapatkan pelajaran baru yang berharga, dalam kaitan relasi antar manusia. Dalam satu komunitas bernama rumah tangga, suami – istri.

Ya, perempuan yang saya maksudkan ini adalah istri dari seseorang yang mempercayakan kepada saya untuk memberikan pendampingan terkait dengan kasus yang sedang menimpanya.

Saya paham, manusia seringkali terkesan pada sesuatu yang baru. Pada kawan baru. Pertemuan baru. Juga senyum hangat dan tatapan mata teduh di pertemuan pertama. Dan itulah kesan yang terbentuk setelah dua pertemuan itu.

Kesetiaan untuk tetap bersama, dalam suka maupun duka. Inilah yang membuat saya terkesan. Di tengah tuduhan serius bahwa suaminya melakukan penggelapan terhadap uang perusahaan, dan juga kondisi ekonominya yang sedang jatuh, tidak terfikirkan olehnya untuk pergi menjauh. Sebaliknya, ia semakin mendekat. Menemani sang pujaan hati untuk mendapatkan keadilan di negeri antah brantah ini. Di Kepolisian, di Kejaksaan, di Pengadilan, bahkan saat mengadu ke Komisi IX DPR RI. Ia bukan saja sebagai istri, tetapi juga sebagai seorang lawyer dan psikolog buat suaminya.

Ini sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Pun bukan cerita baru. Sebelumnya, kita bahkan bisa dengan mudah menemukan cerita cinta dan kesetiaan yang jauh lebih heroik dan mendalam.

Tetapi bagi saya hal ini menjadi istimewa. Jarang saya melihat secara langsung, dalam perselisihan hubungan industrial, ada istri atau suami yang begitu nyata memberikan dukungan kepada pasangannya. Dukungan yang tidak saja diwujudkan melalui do`a, tetapi juga kehadiran secara fisik dalam setiap upaya penyelesaian terkait dengan kasus yang sedang membelitnya.

Sebaliknya, saya justru sering mendengar perselisihan hubungan industrial berubah menjadi perseteruan hebat dalam keluarga. Sebagai contoh, cerita tentang ’gayung melayang’ yang sempat saya singgung dalam buku saya, Memorial Gerakan Buruh Tangerang. Seorang teman, baru-baru ini bahkan mengatakan jika istrinya minta cerai karena dirinya di PHK dari tempatnya bekerja.

Rupanya kehilangan pekerjaan, tidak adanya penghasilan yang rutin, bisa membuat seseorang berpaling.

Saya sepakat, cinta tidak akan membuat orang yang lapar menjadi kenyang. Tagihan listrik, bayar kontrakan, hutang-hutang di warung, tidak akan serta-merta lunas dengan hanya bermodal kata cinta. Tetapi bukankah seharusnya kesulitan-kesulitan itu bisa menjadi alasan kuat bagi keduanya untuk mendekat, untuk saling menguatkan satu sama lain, sehingga jalan keluar dari berbagai problema itu menjadi semakin mudah?

Kembali pada perempuan tadi. Saya kira, inilah potret dari sebuah kebersamaan yang tulus. Mencintai apa adanya. Tidak saja disaat mudah, tetapi juga dimasa-masa sulit. Meski tidak seratus persen membantu, dukungan dari orang yang kita cintai terhadap permasalahan apapun yang sedang kita hadapi, menjadi modal berharga untuk bisa terus melangkah.

Bagaimana dengan Anda?

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono

2 thoughts on “Mencintai dengan Apa Adanya

  1. Sukaaaa……. thanks ya mas kahar udh sharing mengenai bagaimana mencintai secara tulus dan menerima apa adanya..”bukan ada apanya??”…
    Apakah semua pasangan bisa melakukan hal itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s