Balada Buruh Pabrik (15): Heboh Jaminan Sosial….

Tiba-tiba saja, banyak orang yang memperbincangkan jaminan sosial. Lebih spesifik lagi, tentang jaminan kesehatan. Kelak ketika jaminan sosial ini dijalankan, tidak akan ada lagi rakyat Indonesia, yang ketika sakit tidak mampu berobat ke rumah sakit. Aku kira, ini adalah kalimat yang terdengar indah. Sebuah sensasi, yang mampu membuat siapapun juga menjadi bergairah. Jaminan kesehatan seumur hidup bagi seluruh rakyat Indonesia? Siapa yang akan menolaknya?

Tetapi, buatku, keraguan bahwa negara sanggup memberikan jaminan kesehatan kepada seluruh rakyat Indonesia masih saja terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin itu bisa dilaksanakan untuk mereka yang bekerja dan yang tidak lagi bekerja? Tak peduli apakah ia kaya atau miskin? Tua atau muda? Buktinya hari ini saja, meski masih berstatus sebagai karyawan di sebuah perusahaan, bisa berobat ketika sakit menjadi sesuatu yang istimewa.

Ya, istimewa.

Dengan upah minimum, jangankan untuk berobat dan membayar rumah sakit. Untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, meski sudah menerapkan jurus penghematan tingkat tinggi, masih saja tidak tercukupi. Dan ketika ada yang mengatakan bahwa kita bisa mendapatkan jaminan kesehatan, seumur hidup, tanpa limitasi dan diskriminasi, tetap saja rasa tidak percaya itu begitu mendominasi. Bermimpi pun tidak untuk mendapatkan keistimewaan itu.

Bukan sekarang saja aku mendengar tentang jaminan sosial tenaga kerja, atau yang biasa disebut jamsostek. Konon salah satu programnya adalah jaminan kesehatan. Pernah kudengar dari seorang kawan, katanya semua tenaga kerja harus diikutsertakan dalam program jamsostek. Buktinya, di perusahaan tempatku bekerja tidak mendapatkan. Jika sakit, alih-alih mengganti biaya berobat yang kita keluarkan, upah mereka pun akan dipotong.

Itu untuk karyawan, yang jelas-jelas ada pengusaha dan pabrik tempat bekerja. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak bekerja? Orang-orang miskin, gelandangan, dan pengangguran? Terdengar menjadi lebih tidak masuk akal.

Tetapi bukankah Jaminan Sosial adalah hak rakyat dan negara wajib melaksanakannya? Bukankah itu adalah amanah konstitusi, yang harus dijalankan oleh siapapun pemimpin di negeri ini?

Lalu apa yang tidak mungkin? Bagaimana hal-hal seperti ini dikatakan tidak masuk akal? Sedangkan di banyak negara lain, yang namanya jaminan sosial sudah sejak bertahun-tahun yang lalu dijalankan.

Tetapi kita harus mengiur?

Ya, bagi yang mampu, mereka mengiur untuk dirinya sendiri. Sedangkan bagi yang tidak mampu, iurannya akan dibayarkan oleh negara. Inilah indahnya gotong royong. Untuk bisa dikatakan sebagai jaminan sosial, itu memang belum sempuna. Tetapi ini adalah awal, bukan akhir. Anggaplah ini tahapan pertama, yang kelak dikemudian hari, harus semakin diperbaiki.

Buatku, itu adalah sesuatu yang tidak menjadi persoalan benar. Anggap saja, iuran itu sebagai bentuk ’sedia payung sebelum hujan’. Bersiap sebelum sakit. Bukankah sebagai pekerja formal, sebagaimana iuran jaminan kesehatan dalam jamsostek, dibayarkan oleh pengusaha (meski itu esensinya juga uang kita)?

Emak sakit, dan ia meninggal dunia karena ketidakmampuan kami membawanya ke rumah sakit. Aku tahu, itu tidak hanya terjadi pada emak. Ada jutaan orang lain yang bernasib sama. Jika benar, bahwa jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat Indonesia itu bisa diwujudkan, aku pasti bersedia untuk ikut memperjuangkannya.

Ditulis Oleh: Kahar S. Cahyono
Tulisan ini dibuat berdasarkan riset kecil terhadap buruh-buruh pabrik di Serang dan Tangerang, Banten.

Sumber Gambar: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s