Balada Buruh Pabrik (14): Ketika Sakit….

Tidak ada manusia di dunia ini yang kepingin sakit. Aku yakin sekali dengan kalimat itu. Sebab, kesehatan adalah kekayaan yang paling bermakna. Ketika sakit, makanan kesukaan pun akan terasa hambar. Banyaknya harta tidak lagi menjadi jaminan untuk bisa merasakan bahagia.

”Gunakan masa sehatmu sebelum datang sakitmu,” kalimat indah, yang sekaligus menegaskan bahwa sakit adalah sebuah kondisi yang tidak menguntungkan bagi mereka yang mengalaminya.

Itulah sebabnya, saat sakit datang mendera, seorang buruh harus dibebaskan dari kewajiban bekerja. Dan pengusaha harus membayar penuh upah mereka. Jangankan satu hari. Jika pun sakit itu mereka alami selama satu tahun lamanya, kewajiban pengusaha untuk tetap membayar upah tidak menjadi hilang.

Tetapi, terkadang realita dan hukum bisa berbeda di negeri ini.

Semua keistimewaan bagi si sakit, yang tertuang dalam Undang-undang Ketenagakerjaan itu hanya kata-kata penuh pesona, tetapi sesungguhnya adalah tipuan semata. Seperti permata indah di dalam kaca. Semua orang mengagumi keindahannya, namun sulit untuk bisa menyentuhnya.

Seperti yang terjadi di tempatku bekerja. Disini, jika seorang buruh tidak masuk bekerja, meski sudah dibuktikan dengan surat sakit dari dokter, upahnya tetap akan dipotong. Lebih tragis lagi, jika kita tidak masuk bekerja selama satu hari, maka upah kita akan dipotong dua hari. Jika kita tidak masuk dua hari, maka pemotongan upahnya adalah tiga hari. Begitu selanjutnya, hingga maksimal lima hari. Dan jika pada hari keenam kita masih juga tidak bekerja, maka kita akan dianggap mengundurkan diri.

Itu jika sakit. Apalagi jika kami tidak masuk kerja karena mangkir. Pemotongan upah kelipatan dua hari akan berlaku.

”Peraturan ini untuk memotivasi agar para karyawan memiliki kedisiplinan yang tinggi,” tutur pimpinan perusahaan, ketika kami mempertanyakan dasar kebijakan dari peraturan ini.

Prinsip no work no pay, dengan beberapa alasan bisa aku terima. Tetapi jika sakit pun masih tetap tidak digaji, bahkan dikenakan denda pemotongan upah selama satu hari, sungguh sangat tidak manusiawi. Apalagi perusahaanku tidak mengikutsertakan buruh-buruhnya kedalam Jamsostek. Sudah harus membayar biaya berobat sendiri, gaji dipotong pula!

Entahlah, siapa yang harus disalahkan atas kondisi di tempatku bekerja. Pemerintah yang tidak optimal melakukan pengawasan, apakah kami yang terlalu pasrah menerima nasib?

Penulis: Kahar S. Cahyono
Tulisan ini dibuat berdasarkan riset kecil terhadap buruh-buruh pabrik di Serang dan Tangerang, Banten.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s