Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan; Sebuah Catatan Hasil Workshop di Lembah Nyiur (Bagian 3)

Dalam sebuah obrolan ringan, Nani Kusmaeni (DPP FSPMI) mengatakan ada perbedaan sikap yang sangat mendasar antara buruh di luar negeri dan di Indonesia. Di luar negeri, menurutnya, meskipun tingkat kesejahteraan mereka sudah relatif baik, mereka tetap antusias menjadi anggota serikat pekerja. Mereka sadar, tidak ada jaminan bahwa apa yang mereka dapatkan saat ini akan tetap mereka dapatkan di kemudian hari. Disinilah serikat pekerja hadir, untuk memastikan bahwa apa yang sudah didapat bisa tetap dipertahankan. Sebaliknya dengan buruh-buruh di Indonesia. Di negeri ini, ketika buruh sudah sedikit sejahtera, banyak yang tidak mau lagi menjadi anggota serikat pekerja.

Hal ini sebenarnya menunjukkan belum utuhnya pemahaman banyak orang terhadap serikat buruh. Sebagaimana disimpulkan oleh Heriyanto (PP SPAMK) bahwa, “Kesadaran anggota untuk masuk dalam serikat pekerja belum optimal karena minimnya tentang sejarah gerakan buruh.”

Kita bisa melihat, jumlah buruh yang terorganisir kedalam serikat masih sangat rendah. Justru, disaat yang bersamaan kita mengatakan bahwa kekuatan utama serikat buruh adalah anggota yang terorganisir. Serikat buruh adalah organisasi kepentingan berbasis massa (buruh). Ia bisa saja menjadi kelompok penekan, idiologis, dan oleh karenanya harus mewujud dalam sebuah gerakan. Pertanyaan kemudian, seberapa besar upaya yang telah kita lakukan untuk mengorganisir buruh-buruh yang belum terorganisir.

Mengenalkan SP Sejak Dini

Menyadari hal ini, saya kira cukup beralasan jika kemudian Heriyanto mengusulkan agar pengenalan terhadap serikat pekerja dilakukan sejak dini, baik secara formal maupun non formal. Bahkan, jika perlu, dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah.

Saya ingat, saat beberapa tahun yang lalu mengadakan road show ke sebuah SMK di Cikande untuk memperkenalkan dunia perburuhan kepada siswa-siswi yang baru lulus. Kami memperkenalkan hak dan kewajiban sebagai pekerja/buruh, selintas tentang hukum perburuhan, dan juga serikat pekerja. Mereka, yang 80% lebih mengaku akan memilih untuk mencari kerja setelah lulus dari SMK ini terlihat begitu antusias mendengarkan pemaparan tentang apa yang terjadi dengan hubungan industrial di Indonesia hari ini.

Cara ini, setidaknya bisa memberikan pembekalan terhadap calon tenaga kerja. Saya tidak memiliki tolak ukur tentang efektivitas dari kegiatan itu, tetapi saya menyakini, saat masuk kedalam pabrik mereka tidak lagi buta tentang siapa jati diri mereka yang sesungguhnya. Bahwa mereka adalah buruh, memiliki beragam hak dan juga kewajiban. Dan satu hal yang tak kalah penting, mereka mendapatkan pemahaman tentang apa itu serikat buruh sejak dini. Sebelum terkooptasi oleh pemahaman sesat, bahwa serikat buruh adalah musuh.

Departemen Korban PHK

Terobosan pemikiran lain yang menarik saya kira tentang usulan untuk membentuk sebuah departemen penanganan mantan anggota (departemen korban PHK). Di FSPMI, misalnya, tak terhitung lagi berapa banyak anggota yang keluar dari organisasi karena perusahaannya tutup atau sebab-sebab yang lain. Kebersamaan yang pernah terjalin, suka dan duka menyusuri jalan perjuangan teramat indah untuk dilupakan begitu saja. Setidaknya, departmen ini yang akan menautkan hubungan emosional mereka dengan FSPMI. Pada titik inilah, departemen ini menjadi penting.

Sebagai contoh kasus, adalah terkait dengan tutupnya PT. Mutsuki Electric Indonesia, yang kemudian FSPMI berhasil memperjuangkan konpensasinya dengan relatif baik. Di jejaring sosial, facebook, kita menemukan ’Komunitas Mantan Karyawan Mutsuki.’ Oke, kita lupakan saja apa dan siapa dibalik pembuatan akun ini. Tetapi satu hal yang segera tergambar dalam benak kita adalah, bahwa ’Komunitas Mantan Karyawan Mutsuki’ ini dibentuk untuk terus menghidupkan indahnya kebersamaan.

Pendek kata, pengorganisasian yang kita lakukan adalah bukan saja untuk merekrut anggota baru, tetapi juga melakukan kaderisasi dan pemberdayaan terhadap pekerja/buruh yang sudah terdaftar sebagai anggota. Lalu tidak berhenti sampai disini, sebab kita juga mengorganisir mereka yang sudah ’purna’ sebagai anggota. Agar kelak, kita tidak disebut sebagai organisasi yang ’habis manis sepah dibuang’.

… bersambung ke Bagian 4

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
Penulis adalah peserta workshop ‘Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan’ di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua. Tanggal 16 – 18 September 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s