Balada Buruh Pabrik (13): Mempertanyakan Peran Negara

Rasanya, tidak ada kehilangan yang paling menyakitkan selain kematian orang yang kita cintai. Hilang harta bisa dicari, tetapi hilang raga hanya penyesalan yang terjadi.

Emak sakit, dan aku masih saja berkutat dengan pekerjaanku. Saat emak dikabarkan telah meninggal dunia sekali pun, aku tidak bisa benar-benar lepas dari dunia kerja. Harus ada ijin ini itu untuk bisa meninggalkan perusahaan untuk bisa melihat jasad emak di kampung halaman. Benar, ini memang bukan pabrik mbah-ku. Tetapi rasanya, akan lebih elok jika aturan-aturan itu tidak diterapkan dengan kaku. Lebih memanusiakan manusia, begitulah kira-kira, yang aku harapkan.

Kalian tahu, peristiwa ini sangat memukul jiwaku. Butuh waktu berhari-hari, untuk bisa mengembalikan suasana hatiku seperti semula.

Emak sakit. Kita mulai cerita ini dari sini, oke.

Akhirnya sampai juga sebuah kabar kepada diriku, bahwa sebenarnya emak sempat dibawa ke rumah sakit. Tetapi tidak sampai benar-benar dirawat. Karena kemudian dibawa pulang kembali, karena tidak ada biaya untuk membayar kamar dan menebus obat.

“Kami menelpon dan menyuruhmu cepat pulang dengan harapan bisa memberikan solusi. Sebab hanya dirimu yang bekerja di kota, siapa tahu punya simpanan uang yang lebih…,” kalimat Pak Lik, yang justru menghempaskan tubuh ringkihku pada sebuah karang.

Sejak itu, kata ‘sakit’, tiba-tiba menjadi sebuah kata yang paling aku benci di dunia ini. Menggeser kata ‘Subhan’, nama seorang laki-laki yang begitu aku cintai, dan sekarang mencampakkan diriku begitu saja. (Kuharap kalian mengingat Subhan, pria teman sekolahku yang pernah kuceritakan diawal-awal dulu.)

Sakit telah merenggut nyawa emak. Sakit telah menggerogoti bathin dan jiwaku, kini. Seandainya saja emak bisa terobati, mungkin aku masih masih melihat senyumnya. Benar, kematian adalah rahasia Illahi. Tetapi sakit yang dibiarkan tanpa kesungguhan untuk mencari kesembuhan, sama saja dengan membunuh secara perlahan.

Aku memang tidak memiliki daya dan upaya untuk membawa emak ke rumah sakit. Selain posisiku jauh dari kampung halaman, untuk sekedar mengirim uang sebagai biaya berobat pun tidak bisa kulakukan. Jangankan untuk emak. Sedangkan jika hal itu terjadi pada diriku sendiri sekalipun, aku juga tidak yakin akan mampu membayar biaya rumah sakit.

Ach, membiarkan orang mati sia-sia karana ketidakmampuannya untuk berobat, kukira adalah sebuah kejahatan kemanusiaan. Apakah harga untuk sebuah nyawa meski diukur dengan seberapa besar ia memiliki harta? Lalu dimana peran negara?

Entah apa sebabnya, tiba-tiba ingatan tentang emak menautkan pada pemikiran-pemikiran itu. Menuntut tanggungjawab negara terhadap urusan-urusan publik? Kesehatan, pendidikan, perumahan, lapangan kerja……

Jangan mengatakan aku sudah melek politik, hanya dengan menyebut-nyebut, ”dimana tanggungjawab negara?”. Kukira itu masih jauh sama sekali. Mungkin lebih tepatnya, ini bentuk emosional sesaat. Sebagai bentuk kekecewaan, yang entah untuk siapa.

Mengapa rumah sakit harus selalu mencari untung?

Sebegitu tegakah ia menjadikan ‘rasa sakit’ sebagai komoditi?

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono?

Sumber gambar: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s