Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan; Sebuah Catatan Hasil Workshop di Lembah Nyiur (Bagian 2)

Bagaimana cara efektif untuk memperbesar jumlah anggota?

Banyak cara yang bisa dilakukan, dan tidak ada satu pun dari banyak cara itu yang paling efektif. Sebab pada akhirnya, yang terpenting adalah seberapa besar kesungguhan kita dalam menjalankan semua hal yang sudah kita rumuskan.

Menarik untuk mencermati apa yang disampaikan oleh Michael J. Latuwael (PC SPL FSPMI Bekasi). Menurutnya, perubahan drastis yang dilakukan PC SPL Bekasi setahun terakhir dalam rangka melakukan pengorganisasian dan penambahan anggota, berhasil menambah 11 PUK baru. Ini artinya, khusus untuk sektor logam saja, rata-rata dalam sebulan ada penambahan 1 PUK baru. Perubahan drastis yang dimaksud adalah, saat ini pengurus melakukan pengorganisasian dengan langsung turun ke lapangan.

Sering kita melihat, pengurus hanya ada di belakang meja. Ia memposisikan diri sebagai konseptor dan perancang. Sikap ini tidak sepenuhnya salah. Tetapi jika tidak ada yang melengkapinya dengan orang-orang yang mampu bekerja secara teknis dan turun ke lapangan, semua konsep dan rancangan program itu hanya indah di atas kertas.

”Prinsip kerja sosial kan, semakin banyak yang terlibat akan semakin baik hasil yang dicapai,” ujar si jangkung ini penuh keyakinan.

Prinsip ini menjadi penting ketika diimplementasikan dalam gerakan serikat buruh, yang menempatkan kolektivitas dan solidaritas sebagai panglima. Sebab tanpa kebersamaan, serikat buruh akan kehilangan roh perjuangannya. Dan bukankah karena alasan kebersamaan ini pula, kita bergabung dalam serikat pekerja?

Fenomena Garda Metal juga diakui Michael sangat membantu dalam pengorganisasian PC SPL Bekasi. Garda Metal saat ini menjelma sebagai kawah candradimuka kader-kader militan, yang mencintai organisasi ini dengan begitu mendalam. Orang-orang yang gak peduli waktu, gak peduli rumah, bahkan seringkali mengabaikan hal-hal yang berbau administratif. Perpaduan antara konseptor ulung dan pekerja lapangan inilah, kemudian menghasilkan gerak yang dinamis.

Apa yang disampaikan oleh Michael L. Latuwael, mengingatkan saya pada usulan H. Makmur Komarudin (Ketum PP PJM) terkait dengan pentingnya membangun sebuah sistem dalam menjalankan organisasi, dengan tidak hanya mengandalkan figuritas. Orang boleh datang dan pergi dari organisasi ini, tetapi cita-cita dan nilai-nilai perjuangan FSPMI harus tetap menyala.

Sebuah Gagasan Kampanye: AYO BERSERIKAT

Dalam pandangan umum peserta dalam pra pembukaan workshop, saya menyampaikan 10 hal berikut:

o Harus kita sadari, bahwa saat ini tidak sedikit anggota FSPMI yang bangga menunjukkan identitas dan menggunakan atribut FSPMI. Di tengah stigma yang kurang baik terhadap keberadaan serikat buruh, mereka justru secara terbuka dan terang-terangan menampilkan dirinya sebagai bagian dari FSPMI. Tingkat fanatisme seperti ini, menjadi cermin bahwa organisasi telah berhasil mendapatkan pengakuan. Ada nama baik disana. Ada reputasi.

o Jika ingin tetap eksis, organisasi FSPMI harus mampu menjawab tantangan yang dihadapi oleh gerakan buruh saat ini dan kedepan. Kita tahu, ada ratusan serikat buruh terdaftar di tingkat nasional. Dan saya percaya, disini akan berlaku seleksi alam. Serikat buruh yang tidak mampu menjawab berbagai persoalan, lambat laun akan tergusur dan tumbang.

o FSPMI harus mampu memerankan dua lini perjuangan dengan sama baiknya. Perjuangan di tingkat perusahaan (pabrik) dan perjuangan di tingkat kebijakan (publik). Kita sadar, bergerak dari pabrik ke publik bukanlah sesuatu yang gampang untuk dilakukan. Itu hanya bisa dilakukan oleh organisasi serikat pekerja yang kuat dan established. Oleh karenanya, perjuangan di tingkat publik jangan sampai membuat kekuatan kita di pabrik menjadi keropos. Persoalan-persoalan klasik seperti upah, buruh kontrak, K3, tidak boleh dikesampingkan. Kualitas dan kuantitas PKB harus terus ditingkatkan.

o Pada akhirnya, kita memang harus merumuskan dengan lugas, apa sesungguhnya yang menjadi kekuatan organisasi FSPMI. Kelemahan kita, seringkali gagal mendeskripsikan potensi apa yang kita miliki. Sehingga kita menganggap organisasi ini biasa-biasa saja, padahal banyak mutiara bersembunyi disana. Untuk menyebut satu contoh, seberapa besar, misalnya, kekuatan advokasi FSPMI dalam rangka membela dan melindungi pekerja/aggota sehingga menjadi daya tarik pekerja untuk mau menjadi anggota FSPMI?

o Menyambung hal di atas, perlu dipublikasikan secara intens keberhasilan FSPMI dalam bidang advokasi dan penanganan kasus-kasus perburuhan di Indonesia? Banyak keberhasilan yang kita capai. Kasus union busting di Jawa Timur, perjuangan upah sektoral, advokasi berbasis solidaritas yang kita kembangkan, dan banyak yang lain. Kita harus mempublikasikan capaian kita, meskipun itu hanya kemenangan-kemenangan kecil. Bukan untuk pamer. Tetapi untuk menebarkan semangat, bahwa serikat pekerja mampu berbuat banyak. Saya kira, ini akan mengikis sikap apatis banyak orang terhadap gerakan.

o Apa indikator mulai menguatnya organisasi FSPMI? Salah satunya adalah, pola perjuangan yang kita lakukan ternyata menimbulkan resistensi dan ketakutan dari sebagian pengusaha, sehingga mereka melakukan berbagai upaya agar FSPMI tidak berdiri di perusahaan itu. Konkretnya, mereka seperti hendak mengatakan, boleh ada SP/SB di perusahaan, asal bukan FSPMI. Bukan hanya pengusaha, beberapa kawan dari serikat pekerja lain pun mengaku khawatir jika anggotanya beralih ke FSPMI.

o FSPMI telah menjadi magnet gerakan bagi buruh Indonesia. Ibarat sebuah brand, ia sudah mendapatkan tempat tersendiri di dalam masyarakat. Tantangan kita adalah, bagaimana menjadikan semua ini menjadi semakin lebih baik. Tidak lantas membuat kita pongah dan lupa diri.

o FSPMI harus terus tumbuh dan berkembang. Sudah saatnya kita memikirkan untuk membentuk sebuah tim organizer di tiap daerah, tidak saja mendidik juru runding dan juru didik, tetapi juga menyiapkan juru kampanye. Jika FSPMI diibaratkan gula, kita tidak boleh lagi berharap semut-lah yang akan mendatangi kita. Pemahamannya musti dibalik, FSPMI harus menjadi semut yang dengan semangat gotong royongnya itu melakukan jemput bola.

o Pendidikan di FSPMI sebaiknya juga melibatkan kawan-kawan pekerja dari serikat pekerja lain, dan bahkan mereka yang belum berserikat. Kita memiliki training center FSPMI, yang bisa digunakan untuk melakukan pendidikan-pendidikan model ini.

o Dalam rangka mengenalkan dan mempublikasikan serikat pekerja dan FSPMI di kalangan masyarakat luas, kita perlu membuat kampanye ”AYO BERSERIKAT”. Buruh yang tidak terorganisir jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang sudah terorganisir. Karena itu, kita juga harus merebut hati mereka. Mendorong mereka agar bersedia ikut berpartisipasi dalam gerakan untuk perubahan.

… bersambung ke Bagian 3

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
Penulis adalah peserta workshop ‘Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan’ di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua. Tanggal 16 – 18 September 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s