Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan; Sebuah Catatan Hasil Workshop di Lembah Nyiur (Bagian 1)

Jum`at hingga Minggu, 16 – 18 September 2011 kemarin saya hadir dalam workshop bertajuk ‘Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan’ di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua. Entah bagaimana ceritanya, dalam kesempatan ini saya diminta hadir dalam kapasitas sebagai PP SPAI FSPMI. Sebagaimana kebiasaan saya, saya akan membuat catatan terkait dengan system mencicil. Ini saya lakukan sekaligus untuk mengikat makna, agar apa yang saya dapatkan tidak hilang begitu saja.

Sebagaimana kita pahami bersama, pengorganisasian tidak mengenal kata akhir. Sebab ketika pengorganisasian berhenti, bisa dipastikan organisasi akan mati. Persis pada titik inilah, saya hendak menegaskan, bahwa apapun rekomendasi yang dihasilkan dari workshop ini tidak lantas menjadi kata akhir. Apalagi, harus juga diakui, workshop ini pun belum sepenuhnya menjawab pertanyaan, bagaimana pengorganisasian berkelanjutan itu akan dilakukan.

Workshop serupa juga akan diadakan di Hotel Santika, Jakarta, pada tanggal 22 – 23 September 2011. Beberapa pengurus DPP dan para Ketua Umum SPA dijadwalkan hadir dalam workshop yang juga dihadiri kawan-kawan dari Lomenik dan SP LEM.

Lepas dari apa yang akan dibicarakan di Hotel Santika nanti, saya menangkap banyak ide dan pencerahan selama berada di Lembah Nyiur. Disini, ada beragam pendapat disampaikan. Gagasan-gagasan menarik yang bermunculan. Semua itu semakin meneguhkan semangat dan keyakinan saya, betapa banyak peluang dan tantangan yang kita hadapi untuk menjadikan serikat buruh sebagai lokomotif gerakan sosial di Indonesia. Memperbesar anggota, melakukan kerja-kerja publik tanpa harus kehilangan konsentrasi terhadap berbagai persoalan di pabrik.

Di ujung workshop, kami mencoba untuk melihat lebih detail bagaimana kerja-kerja pendidikan dan advokasi bisa diarahkan untuk melakukan pengorganisasian. Tetapi sebelum kesana, saya hendak merangkum beragam pemikiran yang berserak dalam workshop ini. Bagi saya, mengetahui proses dan dinamika berfikir kawan-kawan, jauh lebih penting ketimbang apa yang kemudian disimpulkan.

Membangun Unit Usaha

Terngiang di telinga saya, bagaimana saat bung Jamsari, Dept. Advokasi, menyebutkan perlunya dana yang memadai dalam rangka menunjang kegiatan dan program organisasi. “Penting untuk membentuk unit usaha yang konkrit, dengan harapan dana yang diperoleh dapat untuk membantu program organisasi,” ujarnya pasti.

Menariknya, bukan hanya bung Jamsari yang menyoroti pentingnya unit usaha. Karena kemudian Muryanto, Heriyanti (PP SPAMK), hingga Nur Hidayah (Dept. Pendidikan) juga mengusulkan hal yang sama. Saya menangkap, keberadaan unit usaha dalam organisasi menjadi penting. Penting, karena inilah yang kemudian memaksa kita untuk tetap realistis. Saat kita mengembara ke langit dengan ide-ide yang serba hebat itu, betatapun kaki harus tetap menginjak bumi. Dana memang bukan segala-galanya, tetapi segala- galanya membutuhkan dana.

Jika kemudian solusinya adalah membanggun unit usaha, dan bukan mengoptimalkan cost/iuran, saya sih berbaik sangka dalam hal ini. Bisa jadi, kawan-kawan memang sudah mengidealkan bahwa besaran iuran anggota 1 persen dari UMK berjalan lancar. Lagipula iuran adalah kewajiban anggota, yang melekat pada setiap individu yang bergabung dalam organisasi ini. Untuk itu, harus ada upaya serius untuk mencari alternatif pendanaan diluar cost. Ini pun sebenarnya sudah dimiliki oleh FSPMI. Jangan lupa, salah satu pilar organisasi FSPMI adalah Induk Koperasi Buruh Metal Indonesia (Inkopbumi). Seharusnya, memang, Inkopbumi bisa menjadi jawaban terkait dengan pentingnya unit usaha dalam organisasi.

Jika kemudian Inkopbumi dirasakan belum mampu berfungsi secara ideal sebagaimana ia dicita-citakan saat pendiriannya, harus segera dicarikan jalan keluar. Sekedar mengatakan bahwa Inkopbumi jalan ditempat tidak akan menyelesaikan apa-apa. Bukankah akan lebih segera menyalakan lilin, ketimbang sibuk mengutuk kegelapan?

Saya kemudian sadar, saat kita berbicara satu bagian dalam organisasi ini, selalu akan bersinggungan dengan bagian-bagian lain. Ia tidak pernah bisa berdiri sendiri. Semua sama pentingnya, tidak ada yang boleh direndahkan. Ibarat kesebelasan, tidak semua pemain harus mencetak goal, meski kita tahu, bahwa goal adalah kunci sebuah kemenangan. Lantas karena itu, bukan berarti penjaga gawang, yang senantiasa berada di garis belakang menjadi tidak penting. Inilah substansi dari pengorganisasian.

Berbicara pengorganisasian, kita pasti akan berbicara tentang pendidikan, advokasi, SDM, dan tidak kalah pentingnya, apa yang saya sampaikan di atas, pendanaan. Ini membutuhkan kerja bersama, dan tidak lagi bisa mengandalkan orang per orang.

Kebersamaan menjadi kata kunci. Kita boleh berbeda dalam pendapat, tetapi itu bukan alasan untuk terjadinya sebuah perpecahan. Selama workshop berlangsung, saya menangkap, hal inilah yang coba untuk dikedepankan. Kebersamaan akan menjadi pondasi yang sedemikian kokoh, buat kita untuk membahas lebih tajam, bagaimana pengorganisasian di FSPMI akan kita lakukan.

… Bersambung ke Bagian 2

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
Penulis adalah peserta workshop ‘Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan’ di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua. Tanggal 16 – 18 September 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s