Balada Buruh Pabrik (12): Kehilangan Jati Diri

Entahlah, mengapa aku menjadi begitu individualis. Menjadi begitu mementingkan diri sendiri, sehingga kehilangan kepekaan terhadap sesama. Padahal, dulu, sebelum masuk ke pabrik, aku sering dipuji banyak kawan sebagai sosok yang memiliki jiwa sosial cukup tinggi.

Kemana semua itu menghilang?

Kini, sebagian besar waktuku habis di dalam pabrik. Berangkat pagi dan pulang ketika matahari sudah tenggelam. Di perusahaanku bekerja memberlakukan jam panjang. Ini berarti, aku pulang 2 jam lebih lama, karena harus melakukan ’lembur wajib.’

Tak bisa dipungkiri, dengan sistem ini aku mendapatkan tambahan upah yang lumayan besar. Jangan tanya sebesar apa? Karena nyatanya jalan hidupku tetaplah biasa-biasa saja. Satu yang pasti, dibandingkan dengan UMK, dengan lemburan ini upahku menjadi lebih tinggi. Hanya, memang, aku harus membayar mahal untuk semua ini. Waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga kanan kiri semakin sedikit, akses untuk mengembangkan pengetahuan nyaris tertutup. Belum lagi, lelah fisik dan psikis seringkali datang mendera.

Sempat juga terbesit dalam benakku, apa gunanya gaji besar jika itu membuat kita semakin tumpul secara intelektual? Menjadi tidak peduli terhadap sesama? Tetapi, itu hanya ada dalam pikiran. Bagaimanapun, uang juga berbicara. Pengorbananku pulang malam – jika itu layak disebut pengorbanan – untuk mendapatkan penghasilan tambahan, kukira akan membuatku mencapai kebebasan finansial.

Baru kemudian kusadari, itu hanyalah fatamorgana. Sebagai buruh bergaji UMK, berapa jam pun aku melakukan kerja lembur, tetap saja tidak banyak memberikan tambahan penghasilan. Aku justru merasa hampa, karena tidak lagi memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Tidak lagi bisa beristirahat dengan cukup, tidak ada waktu mengerjakan apa yang menjadi kesukaanku.

Perlahan namun pasti, aku semakin menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Jika aku sakit, toh aku juga yang harus mengeluarkan uang untuk membayar biaya berobat. Jika aku lapar, aku juga yang harus membeli makanan itu, dengan duitku sendiri. Apa peduli orang lain? Perasaan-perasaan inilah yang kemudian menyeretku pada pemikiran, bahwa peduliku adalah mencari uang. Sebanyak-banyaknya.

Jangankan emak yang ada di kampung halaman, dengan tetangga sebelah kontrakan pun aku jarang sekali ngobrol. Dengan teman-teman di pabrik? Kami hanya saling mengenal, tetapi tidak menjadi saudara. Aku sekedar memaknai mereka sebagai rekan kerja, terkadang, bahkan, sebagai kompetitor. Apa saja dilakukan untuk mendapatkan posisi. Jika perlu, dengan menjilat atasan.

Kami saling berlomba satu dengan yang lainnya, untuk bisa tetap bertahan di perusahaan ini. Jika ada kawan yang di PHK, bukannya bersimpati, kadang malah terselip dalam hati perasaan; untung bukan kami. Kami memang sama-sama membenci sistem kerja yang mengekang ini. Membicarakannya hampir disetiap kesempatan. Tetapi jika ada seorang kawan yang mendapatkan sanksi, kami hanya terdiam.

Emak sakit. Kabar ini pun tidak juga menyadarkanku untuk lebih menghargai arti sebuah nyawa. Bahwa kerja sejatinya adalah untuk membangun peradapan kemanusiaan, dan bukannya menyeret kita pada perbudakan. Aku tetap saja larut dalam kesibukanku. Jangankan datang menjenguk dan memeluknya sepenuh cinta, sekedar menelponnya pun tidak. Aku sibuk kerja, kata-kata ini seolah menjadi pembenaran yang tak terbantahkan.

Hingga akhirnya, sebuah kabar datang dengan tergesa, emak sudah berpulang ke rahmatullah. Dalam sekejap, sebuah tsunami meluluhlantakkan semua bangunan argumentasi yang aku jadikan pembenaran itu. Tetapi semuanya sudah terlambat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s