Balada Buruh Pabrik (11): Tumpulnya Kepedulian Pada Sesama

Untuk kedua kalinya, semenjak memutuskan merantau ke kota industri, aku merasakan kehilangan. Pertamakali adalah saat aku kehilangan jejak Subhan. Ya, memang ini bukan mutlak salahku. Akan tetapi, setidaknya, jika saja aku tidak pergi merantau, kami masih bisa terus bersama. Kedua, saat kehilangan emak. Dan ini, kurasa kehilangan terbesar dalam hidupku.

Jika saja aku diijinkan oleh perusahaan untuk menjenguk emak, ketika sakitnya tempo hari, mungkin aku bisa merasa sedikit tenang. Setidaknya, meskipun sebentar, aku masih bisa merasakan hangatnya pelukan emak di penghujung hayatnya. Saat ini, aku tak pernah lagi bisa melihatnya kembali. Emak sudah dimakamkan ketika aku sampai di rumah.

Teringat olehku, betapa selama ini aku mengabaikan emak. Jarang sekali aku menelpon wanita yang sudah melahirkanku itu. Sekedar menanyakan kabar pun jarang, apalagi mengiriminya uang setiap tanggal gajian. Kesibukan kerja menjadi alasannya. Kesibukan, yang terkadang aku sendiri tidak tahu kapan akan berakhir. Jam demi jam, yang terfikir hanyalah bagaimana target produksi bisa tercapai. Sampai-sampai aku merasa, itu lebih penting dibandingkan dengan diriku sendiri.

Kesibukan kerja, yang nyaris tak diimbangi dengan hak badan untuk beristirahat yang cukup. Tanpa diimbangi dengan makanan dan lingkungan tempat tinggal yang memadai. Lihat saja, meskipun kami bekerja seharian, tetapi tak jarang saat makan siang hanya menyantap mie. Jauh dari cukup untuk memenuhi energi yang kami butuhkan. Sama sekali tidak menyehatkan. Istirahat pun kurang.

Penyesalan selalu datangnya di akhir.

Jika saja waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya aku memperbaiki semua kesalahan yang pernah kubuat. Aku tidak akan lagi mengabaikan emak. Setidaknya, dua atau tiga hari sekali aku akan menanyakan kabar. Di jaman yang sudah canggih ini, seharusnya tidak ada alasan lagi komunikasi terhenti. Aku tidak akan lagi membiarkan diriku menjadi mesin industri, yang tidak lagi peka terhadap sesama.

Oh ya, baru saja aku ingat satu hal. Jangankan dengan emak, dengan tetangga kanan kiri kontrakan pun, kami jarang bersosialisasi. Bagaimana interaksi itu terus tumbuh, jika sehari-hari kami larut di dalam dinding pabrik, dan pulang ketika malam sudah menjelang.

Entahlah, mengapa aku menjadi sangat individualistis. Kata-kata ’gotong-royong’ yang dulu kudengar begitu indah, kini nyaris kehilangan makna. Tidak lagi dipraktekkan dengan tindakan. Semua orang seolah mampu mengatasi masalahnya sendiri. Persetan dengan yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s