Balada Buruh Pabrik (10): Ketidakberdayaan – Perpisahan – Penyesalan

Pagi itu, kuterima kabar jika emak sakit. Satu kabar, yang justru membuatku ikut-ikutan sakit. Sakit hati, maksudku.

Apa pasal?

Inilah saat-saat aku merasa menjadi anak yang tidak berguna. Nun jauh disana, emak terbaring tak berdaya, berjuang untuk memulihkan kesehatannya. Sementara aku disini tidak bisa berbuat apa-apa. Pekerjaanku jelas tak bisa ditinggal. Meminta ijin pulang kampung untuk menemani emak, sudah pasti akan ditolak. Kalaupun diijinkan, ongkos pulang-pergi juga menjadi kendala tersendiri.

Aku hanya bisa menangis.

Menangisi ketidakberdayaanku.

Dalam banyak hal, sering aku menghibur diri sendiri dengan kata-kata populer yang satu ini: ”Jauh dimata, dekat di hati.” Tetapi dalam kondisi-kondisi tertentu, saat emak sakit seperti sekarang, misalnya, jelas kehadiran fisik dan berada di sampingnya tidak akan pernah tergantikan.

Emak sakit.

Kenyataan itu terus menyergap pikiranku. Aku sama sekali tidak bisa tenang. Wajah emak yang renta terus terbayang. Ini saja, sesungguhnya menjadi siksaan batin yang tak tertahankan. Akhirnya, setelah menimbang dan memperhatikan banyak hal, aku memberanikan diri untuk minta ijin pulang kampung untuk menengok emak yang sedang sakit.

Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, perusahaan tidak mengijinkan.

Hingga akhirnya, sebuah berita sampai ke telingaku. Emak meninggal dunia.

Aku menangis sejadi-jadinya. Apalagi, seperti yang disampaikan oleh kakakku, di akhir hayatnya emak hanya ingin berjumpa denganku. Aku telah bersalah. Ketakutanku kehilangan pekerjaan, jauh lebih dari ketakutanku kehilangan emak.

Jika saja, saat semua belum terlambat, dan aku cukup memiliki keberanian untuk sehari atau dua hari sedikit memaksa untuk meninggalkan pekerjaan, setidaknya aku masih bisa memeluk emak untuk terakhir kalinya. Aku tahu, persahaan bersalah ini akan aku bawa seumur hidupku.

Kembali aku minta ijin kepada perusahaan untuk pulang kampung. Kali ini, karena orang tua sudah meninggal. Ya, orang tua yang sama, yang beberapa hari lalu aku juga minta ijin untuk menjenguknya karena sakit. Akan tetapi, di dalam benakku, kali ini diijinkan atau tidak, aku akan tetap pulang kampung.

Memang, kemudian diijinkan, meskipun hanya tiga hari. Ini artinya, efektif berada di kampung nanti hanya efektif sehari. Sebab jarak tempuh Blitar – Tangerang, membutuhkan waktu 2 hari untuk pulang-pergi. Itupun dengan syarat, upah tidak dibayar selama aku tidak bekerja, dan posisiku akan dialihkan kepada orang lain jika aku terlambat masuk.

Aku seperti merasakan dendam, yang sulit dijelaskan kepada siapa dendam itu ditujukan.

Disaat mengalami musibah, masa dipersulit. Padahal, sebagaimana yang kuceritakan sebelumnya, aku termasuk karyawan manis yang tidak banyak menuntut. Yang senantiasa berusaha, untuk menyelesaikan pekerjaanku dengan sempurna.

Saat berada di situasi sulit inilah aku ingat perkataan seorang kawan. Bahwa, ada sekelompok orang di dunia ini yang memakan manusia. Tidak ada kata belas kasihan dalam kamus mereka. Yang ada, bagaimana mendapatkan keuntungan yang berkali lipat jumlahnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s