Balada Buruh Pabrik (9): ”Bekerjalah yang Baik, Tapi….”

”Jadilah karyawan yang baik. Nggak usah macem-macem, harusnya kita bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan. Ingat, masih banyak diluar sana orang yang tidak seberuntung kita. Hingga saat ini pun mereka masih berstatus sebagai pengangguran….”

Aku sering mendengar kalimat itu diucapkan orang. Bukan hanya sering, bahkan, pernah satu ketika aku mendapatkan nasehat serupa dari atasanku.

”Airin, kamu harus menunjukkan kinerja yang baik. Jangan ikuti teman-temanmu yang kerjanya nggak bener itu.”

Aku mengangguk.

Entah mengapa, aku selalu merasa penting unuk menjadi anak manis yang penurut. Menunjukkan kinerja yang baik, yang sejatinya memang kewajiban karyawan. Buatku pribadi, ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menunjukkan performa itu.

Akan tetapi, ketika melihat kawan-kawanku, yang satu persatu di PHK tanpa alasan yang jelas, tanpa sadar kekhawatiran itu juga menyusup dalam hatiku. Kurang apa loyalitasnya mereka terhadap perusahaan ini? Sudah belasan tahun mereka bekerja tanpa jeda. Tetapi, dengan sebegitu mudahnya dicampakkan.

Apakah hal yang sama juga akan terjadi pada diriku, nanti?

Aku masih baru bekerja disini. Baru satu tahun. Masa depanku masih panjang. Selalu, hal inilah yang kemudian memberikan sugesti kepada diriku pribadi. Orang bilang, aku lagi senang-senangnya kerja. Tapi dalam benakku, aku sedang memperjuangkan diriku sendiri agar tetap pantas berada di perusahaan ini. Minimal, kontrakku akan selalu diperpanjang.

Bagaimana penilaian prestasi di perusahaan ini? Ini pun, sebenarnya sulit untuk dimengerti. Hampir tidak ada yang bisa menjelaskan secara rinci. Satu hal yang pasti, hanya mereka yang memiliki kedekatan dengan pimpinan perusahaan lah yang dipastikan bisa mendapatkan posisi. Hampir dipastikan, karena semua toh bisa dilihat dengan kasat mata.

”Kerja disini mah bukan otak. Yang penting kuat,” seorang kawan pernah mengatakan itu. ”Kuat tenaga, kuat malu, kuat nahan hidup susah karena penghasilan yang nggak seberapa….”

Ini memang bukan dalam cerita.

Ada dalam kehidupan nyata.

Lantas, apa makna kerja keras yang selama ini aku lakukan? Demi prestasi kerja, yang sebenarnya juga tidak pernah diketahui bagaimana standarnya? Atau semata karena ketakutan-ketakutan yang tak beralasan?

Dan jika ternyata alasan kedua ini yang terjadi, bagaimana hati ini bisa damai? Bagaimana kita bisa yakin, ini semua akan mengantarkan kita pada kesejahteraan penuh kebahagiaan? Pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban.

One thought on “Balada Buruh Pabrik (9): ”Bekerjalah yang Baik, Tapi….”

  1. iya bener, buruh memang selalu dianggap sebelah mata. kerja buruh memang harus tahan mental dan tahan malu. tapi satu bagi saya, apapun pekerjaannya yg pnting halal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s