Balada Buruh Pabrik (8): Ketika Diam Dijadikan Solusi

Terkadang, diam adalah cara terbaik buat kita untuk menghindar dari masalah. Tetapi, satu hal yang pasti, diam bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah.

Untuk sesaat, bisa jadi diam adalah solusi.

Sekali lagi, hanya sesaat.

Seperti api dalam sekam, ia akan tetap menyimpan daya bakar meskipun sudah terlihat mati. Roda hidup terus berputar. Tidak pernah ada hari yang benar-benar sama. Tidak pernah ada jaminan, bahwa apa yang kita dapatkan hari ini akan tetap kita dapatkan nanti.

Hari ini mbak Linda. Beberapa bulan yang lalu, mbak Oca. Masalah yang sama, yang sudah bertahun lamanya berulang dan berulang di perusahaan ini. Selalu ada giliran untuk kita, sebelum mata rantai itu benar-benar diputuskan.

Kesannya berlebihan jika aku mengatakan, banyak kawanku sebagai buruh perempuan yang kemudian menolak hamil agar tidak kehilangan pekerjaan. Atau setidaknya, gimana caranya agar jangan sampai hamil. Sampai-sampai, terpikirkan olehku, peraturan yang seperti ini adalah cara efektif untuk memaksa KB.

Itu untuk buruh-buruh perempuan. Bagi pekerja laki-laki, aku ambil contoh Marno, problemnya lain lagi. Lelaki ini senantiasa terlihat resah. Ia kehilangan kepercayaan diri, akibat statusnya yang karyawan outsourcing. Apa pasal? Rupanya, tidak adanya kepastian kerja selalu membuat dirinya menjadi ragu untuk segera menyunting gadis pujaan hati.

“Bulan depan saja aku tidak tahu masih bekerja disini atau tidak? Kalau sudah berkeluarga nanti, mau dikasih makan apa anak dan istri?” Ini yang pernah dikatakannya kepadaku, dulu.

“Kan rejeki tidak hanya di pabrik, No” kataku.

”Kata-kata itu kan hanya pembenaran. Buktinya lo sendiri aja, nggak usah jauh-jauh. Mau kerja apaan kalau enggak di pabrik? Jauh-jauh dari Blitar kesini hanya untuk jadi buruh kan?”

Masuk akal juga perkataan Marno.

”Makanya, Rin, jangan mau menikah dengan buruh pabrik. Sengsaranya sudah pasti.”

”Untung pacar gue bukan buruh pabrik. Gue mah nggal level dengan buruh pabrik. Sudah keukur”

Marno nyengir. Mungkin tersinggung karena ucapanku. Tetapi aku yakin, dia tidak akan sampai marah. Kami sudah dekat, dengannya, aku sudah terbiasa bicara elu – gue.

“Sombong lo, Rin.”

“Dibilangin nggak percaya.”

“Terus apa profesi kekasih, lu.”

“Petani.”

“Apa?” Marno seolah tak percaya.

“Petani. Nggak denger apa?”

Marno diam. Sorot matanya meredup. Mungkin kasihan kepadaku. Apa hebatnya petani dibandingkan dengan buruh? Cantik-cantik punya pacar petani.

Ah, itu cerita dulu. Sebelum aku tahu jika lelaki itu sudah benar-benar menghilangkan jejak. Tak memberi kabar, tak meninggalkan pesan.

Inilah yang aku benci dari laki-laki. Seenaknya saja memainkan perasaan wanita. Begitu mudah mencampakkan. Lihat saja, betapa banyak wanita yang menjadi korban laki-laki. Lalu, dengan seenaknya saja mereka mencari korban berikutnya. Kalau saja satu saat nanti aku bertemu Subhan, sumpah tujuh turunan, aku akan melampiaskan dendam.

Bagiku, cinta bukan soal profesi. Aku tidak pernah peduli dia mau kerja apa. Aku cinta dia apa adanya, itu saja. Harta bisa dicari. Tetapi cinta, ia tak bisa dipaksa-paksa.

Sudahlah, kita kembali berbicara tentang permasalahan di tempatku bekerja. Abaikan tentang Subhan, mantanku itu. Ia sama sekali nggak penting.

Tadinya, kukira, hal ini hanya terjadi di perusahaan tempatku bekerja. Tetapi, aku mendengar, ada perusahaan lain yang menerapkan aturan serupa. Tidak sama persis, memang, tetapi cara-cara yang dipakai hampir sama. Dan, selalu ada kesamaan. Kesamaanya adalah, tidak memiliki serikat pekerja.

Itulah sebabnya, ketika seseorang menawarkan agar kami bergabung dan membentuk serikat pekerja, terlihat sebagai sebuah ide yang masuk akal. Tetapi ketika ditanya siapa yang bersedia menjadi pengurus, semua mundur teratur.

Lagi-lagi, diam adalah cara yang aman.

Entah sampai kapan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s