Balada Buruh Pabrik (7): Menghukum Sebagai Perempuan

Tidak selayaknya seseorang mendapatkan sanksi hanya semata-mata karena terlahir sebagai perempuan atau laki-laki. Tidak ada yang pernah meminta untuk terlahir sebagai perempuan, dan oleh karenanya, tidak boleh dipersalahkan.

Jika itu terjadi, ini sungguh sulit untuk dimengerti.

Sadarkah orang-orang itu, bahwa mereka terlahir dari seorang perempuan. Pernahkah terfikir olehnya, bahwa mereka tanpa rasa malu pernah sembilan bulan berada di dalam rahim ibunya. Lalu kini, hanya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, mereka membuat peraturan yang tidak menghormati hak-hak perempuan. Di perusahaan tempatku bekerja, buruh perempuan yang hamil, dipaksana mengundurkan diri dari perusahaan. Tidak cukup sampai disitu, karena kemudian diikuti kata-kata sakti; dengan tidak berhak menuntut apapun.

Perusahaan macam apa yang membuat peraturan seperti ini? Bukankah melahirkan, adalah fitrah perempuan yang paling mulia. Tidak bisa tergantikan oleh mesin? Pun ini bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga, untuk peradapan kemanusiaan

Aku tidak pernah bisa melupakan mbak Linda. Temanku di pabrik.

Semakin hari, perutnya semakin membesar. Mbak Linda hamil. Awalnya, ia mencoba menutup-nutupi kehamilannya. Tetapi itu hanya sementara, karena lambat laun perubahan di tubuhnya tidak bisa disembunyikan.

Karena kehamilannya, membuat mbak Linda tidak selincah sebelumnya dalam bekerja. Atasannya memanggil. Menanyakan kinerjanya yang akhir-akhir ini menurun. Seolah hendak menyalahkan kehamilannya, yang membuatnya menjadi sedikit lambat.

Sebenarnya, pemanggilan ini saja sudah membuat mbak Linda cukup tersinggung. Ia memiliki suami. Itu kehamilan yang terhormat. Tetapi mengapa atasannya menjadi sewot? Padahal, dirinya sudah cukup lama bekerja di perusahaan. Sejak masih gadis, bahkan. Kini, usianya sudah menginjak kepala tiga. Bertahun-tahun mbak Linda menunda kehamilan, hanya untuk mempertahankan pekerjaan.

”Kau bisa memperbaiki kinerjamu tidak?”

”Saya akan berusaha, pak. Tetapi bolehkah saya diijinkan untuk bekerja non sift. Dengan kehamilan ini, rasanya terlalu berat jika saya harus bekerja di malam hari.”

”Tidak bisa. Kau tahu sendiri kan, karyawan di perusahaan ini sudah memiliki job desc masing-masing. Tidak bisa seenaknya saja bikin aturan sendiri. Kalau sudah tidak mampu kerja, mendingan keluar saja dari sekarang….”

Bertahun-tahun bekerja di perusahaan ini, akhirnya mbak Risa mendengar kata-kata itu. Bukan sesuatu yang baru, sebenarnya. Hampir setiap tahun, ia menyaksikan teman-temannya diperlakukan seperti yang terjadi pada dirinya sekarang.

Saat mbak Linda menceritakan hal ini, di sela-sela waktu istirahat, aku merasakan hatiku tersayat dan luka. Apalagi, belakangan, karena tidak memenuhi target produksi, gaji mbak Linda dipotong. Upah yang sudah minim, bertambah minim akibat pemotongan itu.

”Makanya, Rin, jika ada kesempatan carilah pekerjaan yang lebih baik. Seumur hidup engkau akan menjadi babu jika bertahan di perusahaan ini,” nasehat mbak Linda.

Aku tersenyum. Getir.

Saat kehamilan menginjak tujuh bulan, akhirnya mbak Linda mengundurkan diri. Bukan karena kemauannya, melainkan sebuah keterpaksaan.

Aku tahu, ini sakit. Justru saat mbak Linda membutuhkan banyak biaya untuk mempersiapkan persalinannya, ia harus kehilangan pekerjaan. Kapitalis keparat.

Beberapa kawan mengatakan jika apa yang dilakukan mbak Linda melanggar undang-undang ketenagakerjaan. Katanya, karyawan yang hamil atau melahirkan tidak boleh di PHK. Bahkan seharusnya diberi kesempatan untuk mengambil cuti selama 1,5 bulan sebelum dan sesudah melahirkan. Mereka sepakat dalam satu hal, bahwa perusahaan ini biadab.

Pernah aku usulkan untuk memprotes hal ini.

”Percuma. Bahkan bisa-bisa kita yang akan di PHK karena dianggap menentang peraturan perusahaan.” ujar mereka.

Aku diam. Sebagai karyawan baru, kukira memang lebih baik begitu. Tidak usah ikut campur terlalu jauh dalam urusahan ini. Meskipun, sempat terlintas, satu saat nanti giliranku yang akan bernasib seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s