Balada Buruh Pabrik (6): Dilarang Menikah, Tak Boleh Hamil

Sudah aku perhatikan sejak dulu, setiapkali pasca lebaran, selalu ada saja pemuda/pemudi desa yang ikut merantau ke kota. Biasanya, mereka akan ikut tetangga atau saudaranya yang sudah terlebih dahulu tinggal dan bekerja disana. Setiap tahun pula, aku mendengar berita, ada himbauan dari pemerintah agar orang-orang yang belum memiliki pekerjaan untuk tidak ikut serta.

Tetapi himbauan itu dipastikan tidak berarti apa-apa. Karena buat masyarakat, ketika lapar, yang dibutuhkan adalah makan. Himbauan tidak pernah membut mereka menjadi kenyang.

Di desaku, seperti kebanyakan desa-desa lain di Blitar, mencari pekerjaan keluar daerah seolah sudah daya tarik dan cita-cita banyak pemuda. Ini belum terhitung betapa banyak mereka yang mengadu nasib ke luar negeri, turut andil memberikan konstribusi bagi negara ini melalui jasanya sebagai pahlawan devisa. Nuning, misalnya, kawan sekelasku di SMP, bahkan memilih untuk terbang di Arab Saudi menjadi TKW ketimbang melanjutkan ke SMA. Padahal, pada saat yang sama, ibunya juga menjadi TKW di Hongkong. Jadilah ayah dan suami Nuning menjaga anak-anak di kampung. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu dua keluarga, tetapi banyak yang lainnya.

Karena banyak yang merantau ke kota, saat lebaran tiba, seringkali menjadi sebuah ajang pembuktian. Pembuktian, siapa yang paling sukses di tanah rantau. Atau setidaknya, mereka ingin menjawab kebimbangan banyak orang, bahwa pilihan untuk meninggalkan kampung halaman adalah keputusan yang benar. Tidak ada pun, pasti akan diada-adakan. Semua demi gengsi. Tak perduli, meski hasil kerja setahun akan habis dalam rentang waktu yang hanya satu minggu itu.

Masyarakat melihat ini hanya diluarnya. Bahwa secara kasat mata, hampir semua yang baru pulang dari kota-kota industri terlihat sukses. Dan kemudian, hal itu mendorong orang lain untuk melakukan migrasi.

Aku adalah salah satunya. Tidak kupungkiri akan hal itu. Dan Subhan, lelaki yang dengan gagah perkasa pernah mengatakan akan tetap tinggal di desa, nyatanya juga tidak mampu bertahan.

Eih, mengapa aku memikirkan kembali lelaki itu? Bukankah aku sudah berjanji untuk menyingkirkannya dari relung hati?

Ya, dalam hati, aku pernah berjanji untuk itu. Tetapi tidak untuk sekarang. Biarlah waktu, yang secara perlahan akan menghapus semua kenangan itu. Sebab, jujur saja, aku masih suka dengan sensasi yang timbul saat memikirkannya.

Diantara sensasi itu, adalah saat membayangkan aku dan Subhan menikah dan membangun mahligai rumah tangga. Tinggal dalam satu atap, tidur di ranjang yang sama. Pernah satu ketika, secara tidak sadar aku mengelus-elus perutku, berharap pada saatnya nanti akan mengandung anak dari lelaki itu. Mengingat semua ini, aku suka tersenyum-senyum sendiri. Bukankah persinggahan terakhir dari sebuah petualangan cinta adalah membentuk keluarga, dan hal terindah dalam keluarga adalah ketika melihat anak-anak kita terlahir sempurna?

Menikah?

Tidak-tidak. Tindak untuk sekarang.

Di tempatku bekerja, ada semacam peraturan, jika karyawan menikah selama masa kontrak, maka secara otomatis kontraknya akan dianggap putus dengan tanpa berhak menuntut apapun. Ini belum seberapa, bagi yang sudah menikah, bahkan ada larangan untuk hamil. Ketika ketahuan hamil, maka si karyawati ini dianggap mengundurkan diri.

Sebagai wanita, aku merasa ini sangat tidak adil. Bagaimana mungkin aku dikenakan sanksi hanya semata-mata aku terlahir sebagai wanita? Tetapi, sebagai individu yang sangat tergantung pada pekerjaan, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mempertahankan pekerjaan, jauh terdengar lebih menarik ketimbang menjadi pengangguran.

Duh Gusti, mengapa nasib buruh kontrak seperti ini? Apakah ini kutukan dari-Mu, karena pemerintah gagal melakukan penegakan hukum sehingga outsourcing merajalela. Menghilangkan kepastian kerja, memusnahkan mimpi-mimpi kami untuk hidup sejahtera di negeri yang dulu disebut-sebut sebagai zamrud di khatulistiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s