Balada Buruh Pabrik (5): Menghargai Kerja, Bukan Omong Kosong

”Ono opo sih, Rin?” Pagi itu emak berkata lirih, saat aku duduk termenung di teras rumah.

“Enggak ada apa-apa, mak?”

“Mbok ya jangan menyembunyikan sesuatu dari emak. Emak ini yang melahirkanmu, yang mengandungmu sembilan bulan, jadi emak tahu kapan saatnya engkau bahagia, kapan saatnya engkau gundah gulana. Kamu menantikan kehadiran seseorang, kan?”

Aku menatap wajah emak. Menatap ke telaga matanya yang memancarkan sinar keteduhan. Jika kesempurnaan cinta dan kepastian kerja adalah harapanku, maka sesungguhnya emak dan Subhan adalah dua orang yang membuatku selalu menjadi tidak berdaya. Emak adalah sosok yang melahirkanku, sosok yang di bawah telapak kakinya lah surga bersemayam. Sedangkan Subhan adalah belahan jiwa, sosok yang membuatku mabuk kepayang, siang dan malam.

“Siapa yang kamu tunggu kehadirannya? Si kurus teman SMA mu itu?” Kata emak, seolah tahu apa yang saya rasakan.

Lagi-lagi aku mengangguk. Kurasakan pipiku memerah.

“Dia sudah lama pergi meninggalkan kampung ini. Mencari pekerjaan di kota.”

”Yang benar, mak?” Mendadak aku menjadi antusias. ”Kemana?”

”Ke Surabaya.”

Entah mengapa, detik itu, aku merasa lega. Sesak di dadaku perlahan menghilang. Seandainya dari kemarin aku menanyakan masalah ini kepada emak, tentu tidak perlu aku menyimpan resah ini selama berhari-hari. Jika saja aku terbuka dan memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa di hati, tentu aku akan segera akan mendapatkan jawabannya. Dimana arjunaku itu kini berada.

Aku benci dengan diriku sendiri yang selalu ragu. Banyak pertimbangan, sehingga lambat dalam bertindak.

Subhan mencari kerja di Surabaya? Kabar ini menari-nari dalam benakku. Menyeretku pada satu perbincangan empat mata, di pinggir kali yang eksotis di siang yang terik.

”Aku akan tetap berada di sini. Di kampung sendiri. Menjadi petani. Siapa yang akan membangun kampung kita jika semua pemudanya pergi ke kota?”

Dulu, saat medengar pertamakali engkau mengatakan itu, aku bisa merasakan idealisme yang mengalir dalam darahmu. Tetapi saat ini baru aku sadari, jika hampir semua kata-katamu tidak ada satu pun yag terbukti.

Sadarkah, Han. Engkau pernah mengatakan tidak akan meninggalkan kampung kita. Mau nyangkul, memberi makan orang-orang kota, bohong. Engkau mengatakan akan menjaga cinta kita, menghidupkan mimpi-mimpi kita, bulsit.

Engkau tahu, Han, jelek-jelek gini aku adalah buruh pabrik. Pelajaran paling berharga yang aku dapatkan sebagai buruh adalah, aku akan dibayar jika aku bekerja, dan aku tak dibayar jika tidak melakukan pekerjaan. Aku diajari untuk banyak kerja dan sedikit bicara. Sebab, kata-kata yang tidak diikuti dengan tindakan merupakan sebuah dusta. Kebohongan yang nyata.

Perlahan rasa simpati kepadamu memudar. Jika denganku, orang yang sangat mencintaimu ini engkau tak pernah menempati janji, bagaimana dengan yang lain? Satu tahun, Han. Satu tahun aku menjaga nyala api cinta kita. Dan kini, setelah dua belas tahun berlalu, aku memiliki alasan untuk memadamkannya.

”Rin, Airin….” Emak membuyarkan lamunanku.

”Eh, iya mak. Ada apa?”

“Kapan balik ke Jakarta?” Pertanyaan ini sebenarnya jauh dari dugaanku. Kukira, emak akan menanyakan perihal hubunganku dengan Subhan, ternyata bukan. Dan ini membuatku merasa sangat bersyukur. Baru aku sadar, emak adalah ahli dalam psikologi. Ia tidak ingin anaknya terjebak dalam bayang-bayang asmara, dan mengalihkan pada sesuatu yang lebih nyata. Lebih bermanfaat.

“Besok, mak.”

“Sudah disiapin semua, apa saja yang akan kamu bawa?”

“Belum.”

“Sudah sana, buruan disiapin.”

Aku bangkit dari tempat duduk. Kucium pipi emak, dan melangkah masuk kedalam rumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s