Balada Buruh Pabrik (4): Harapan

Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Subhan tidak datang ke rumah. Padahal, aku yakin sekali jika laki-laki itu mengetahui aku sedang pulang kampung. Untuk yang kesekian kalinya, harapanku bertepuk sebelah tangan. Kukira ini pelajaran berharga yang bisa diambil dari sini, janganlah terlalu berharap, sebab jika harapan itu tak terwujud, sakitnya luar biasa.

Tetapi, cinta adalah perasaan paling aneh yang pernah ada di dunia. Sebuah kegilaan, kukira. Buktinya, meski kutahu harapan itu hanya bertepuk sebelah tangan, nyatanya aku tidak pernah berhenti untuk berharap. Selalu ada perasaan untuk itu. Timbul tenggelam, tiap saat. Setahun di rantauan, lelah rasanya berharap Subhan akan menghubungiku, yang ternyata sia-sia. Melotot tanpa kedip kepada setiap orang yang baru turun dari kereta, berharap Subhan ada diantara mereka, pernah. Menunggu sampai beku kehadirannya, tak juga nongol batang hitungnya.

Bahkan, sampai-sampai aku mengira, jika diadakan kontes wanita paling setia, akulah pemenangnya. Bayangkan, hampir setahun aku mengenggam janji untuk setia. Ya, satu tahun. Tahukah kalian, dalam kamus orang-orang jatuh cinta, seminggu tak bertemu, rasanya seperti sewindu.

Baiklah, akan kuceritakan kepada kalian tentang Subhan yang sebenarnya. Kami satu kelas, saat masih bersekolah di SMA. Sosok yang pendiam. Tidak banyak mengumbar kata, tetapi jika berbicara, mendalam dan substansial. Ini mengingatkanku pada filosofi ilmu padi: Semakin berisi, semakin menunduk.

Seperti kebanyakan anak SMA, cinta kami tumbuh secara perlahan dan diam-diam. Kami tak pernah sekalipun mengikrarkan diri sebagai sepasang kekasih. Tetapi kami tahu, kami memiliki hubungan yang spesial itu. Hati kami disatukan dengan tatapan mata yang teduh – lebih sering dengan mencuri-curi pandang, yang malu-malu penuh keraguan. Atau, terkadang saling melempar senyum, hingga dada ini sesak dibuatnya. Seumpama mawar yang sedang mekar, hati ini serasa menjelma sebagai taman bunga. Kelak aku menyadari, perasaan ini adalah candu.

Bagiku, entah bagi Subhan, cinta hanyalah soal rasa. Perasaan dekat. Kedamaian. Nyaman yang teramat sangat. Cemburu. Ingin dimengerti. Dorongan kuat yang membuatku selalu ingin datang lebih pagi ke sekolah. Yang membuatku giat belajar, bukan untuk pintar, tetapi hanya karena tidak ingin terlihat bodoh di mata sang pujaan. Beginilah kami saling mencintai. Cinta dua anak manusia yang tertib susila, jauh dari apa yang aku lihat saat sudah memasuki dunia kerja. Di Jatake, atau setidaknya di tempatku bekerja, melihat bagaimana teman-temanku di pabrik berpacaran, rasanya cinta mengalami perluasan arti. Cinta berarti saling memiliki. Cinta adalah sebuah politik atas nama, untuk tidur bersama.

Hingga akhirnya, saat ebtanas sudah selesai, dan pengumuman kelulusan disampaikan, mulailah kami berbicara tentang masa depan. Dalam kegirangan karena lulus ujian, dengan teman-teman sekelas, kami saling berpelukan satu sama lain. Hangat, penuh rasa syukur dan persahabatan. Tiga tahun kami bersama, satu kelas yang kompak, satu kelas yang lulus tanpa tersisa. Air mata tumpah, jarak antara kami menjadi begitu dekat.

”Kemana setelah lulus, Rin?” Itu pertanyaanmu, ketika kita duduk berdua di pojok kelas pasca pengumuman itu.

”Aku akan ikut saudara ke Jakarta, mencari kerjaan disana. Setidaknya itu langkah pertama, sambil memikirkan kuliah jika ada kesempatan. Kamu sendiri bagaimana?”

”Aku nyangkul. Mau kemana lagi. namanya juga anak petani.”

”Owh.”

”Enak ya jadi pegawai kantoran. Terima gaji tiap bulan. Jauh dari lumpur dan panasnya matahari.” Matamu menerawang jauh kedepan.

”Ya mana aku tahu, kerja aja belum.”

”Aku pasti akan kehilanganmu.”

”Aku nggak ngerti?”

”Ya, kamu pergi ke Jakarta. Sementara aku tetap berada di kampung ini. Kita pasti akan jarang ketemu.”

”Tetapi jika nanti aku berhasil, toh juga buat kita.”

”Iya kalau kamu masih mengingatku.”

Begitulah dirimu, melankolis. Aku bahkan menjadi tak sabar jika dirimu sudah mulai bersikap apatis. Apakah ini pengaruh cinta? Yang menjadikan lelaki sebagai anak kecil. Yang membuat manusia tidak lagi bisa berfikir realistis?

”Aku pasti akan selalu mengingatmu.”

”Janji?” Ujarmu sambil mengulurkan tangan ke arahku.

Aku menyambut uluran tanganmu itu. Menjabat erat, dan berkata lirih. ”Aku janji.”

Tetapi janji tinggal janji. Begitu mudahnya. Apakah engkau mengira, aku tak memiliki rasa? Dan aku baru ingat, ini bukan sekali kau lakukan. Saat berada dalam situasi seperti ini, ingin rasanya aku membalas dendam. Ya, membalas dendam. Untuk menyakiti hatimu, sesakit-sakitnya.

Balas dendam itu, pernah kulakukan kepada Subhan, dulu. Bagiku, itu tidak sulit. Sebagai gadis remaja, jawara kelas, aku bisa memainkan peran genit. Kegenitan gadis belia, menggoda, tapi jual mahal. Dalam sekejap, aku sudah menjelma sebagai primadona. Bak piala, semua ingin memperebutkannya. Aku tahu, engkau melihat prosesi ini semua dengan sorot mata kecewa. Tetapi aku lebih tak peduli. Jangankan membiarkanmu ikut dalam kompetisi itu, aku bahkan menutup semua akses yang membuatmu bisa menjangkau diriku. Mendiamkanmu berhari-hari. Aku memang menjaga jarak, tetapi tetap berupaya engkau melihat ini semua.

Kau tahu kan, Han. Jika yang kulakukan itu adalah sebuah sandiwara. Itu hanyalah sebuah kegairahan, untuk menarik perhatianmu. Untuk melihatmu cemburu, atau tepatnya, untuk membuatmu cemburu. Sebab, saat berhasil membuatmu cemburu, saat itulah aku merasa bisa memilikimu dengan sempurna. Cemburu adalah tanda cinta nomor satu. Aku hanya melakukan itu, jika aku yakin engkau melihatnya. Jika tidak, sumpah mati, aku kehilangan gairah untuk melakukan semua itu.

Sebelum tiba pada titik engkau benar-benar membenciku, aku menyerah. Kita pun berbaikan kembali. Kurasakan, engkau begitu sayang jika aku sedang marah. Sampai-sampai, aku berencana untuk selalu marah kepadamu.

”Saat kau menjadi api, aku rela menjadi airnya.” Kalimat indah yang selalu kukenang.

”Tapi mengapa kau selalu membohongiku? Kau tahu kan, itu yang membuatku marah.”

”Cinta adalah pembohongan yang sempurna, Rin. Coba perhatikan kata-kata gombal mereka yang jatuh cinta. Siang malam aku teringat wajahmu, adinda. Belahlah dadaku, namamu akan terukir disana. Lautan akan kuseberangi, gunung pun akan kudaki untuk bisa medapatkanmu. Kau tahu, Rin, itu kata-kata bohong semua. Itu memang kalimat romantis, tetapi dalam praktek, tidak sebegitunya kan? Masalahnya, wanita suka dibohongi.”

Aku mencibir. Cinta memang pembodohan.

* * *

Ada dua harapan yang menempati daftar teratas dalam hidupku. Pertama, berharap kontrakku di perusahaan akan terus diperpanjang. Dan kedua, berharap Subhan aku datang. Setidaknya sampai aku kembali ke tempat kerja, di Tangerang, dua hari lagi.

Pekerjaanku adalah kehidupanku. Setidaknya menjadi satu hal yang bisa kubanggakan. Yang membuatku memiliki jawaban saat ditanya, kerja dimana? Sedangkan Subhan, lelaki itu adalah cinta pertamaku. Sosok yang membuatku terus bermimpi tentang masa depan, sosok yang mampu membangkitkan sesuatu dalam diriku, yang tidak bisa kuceritakan secara detail.

Aku juga pernah berharap mendapatkan upah yang lebih besar dari yang aku dapatkan sekarang. Tetapi hanya sebatas pernah. Sebab, memikirkan apakah kontrakku akan habis bulan depan saja, sudah membuatku insomnia hampir setiap malam. Sampai-sampai, agar tetap bisa tetap bekerja, tak masalah jika pun harus dibayar lebih rendah dari yang sekarang.

Aku tak tahu, prinsip ini salah atau tidak. Tetapi aku kira, akan semakin salah, jika aku tidak memiliki harapan sama sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s