Balada Buruh Pabrik (3): Bekerja, Tapi Masih Harus Disubsidi

Kata orang, bahagia itu pilihan. Karena itu, singkirkan jauh-jauh segala sesuatu yang menghalangimu untuk bisa bahagia. Usir pergi. Jika perlu, tulis besar-besar dengan tinta merah, jangan lagi menginjakkan kaki disini. Aku sendiri selalu memilih untuk bahagia. Jika pun sulit, setidaknya, pura-pura untuk berbahagia. Apalagi ketika berada di kampung halaman, di musim mudik lebaran ini.

Biar tidak punya harta, jika wajah kita terlihat cerah ceria, orang akan senang dibuatnya. Berikan senyum terindah. Bukankah senyum adalah sedekah paling gratis yang bisa kita lakukan dimana saja? Kapan saja?

Inilah yang aku praktekkan, sekarang. Setidaknya untuk membahagiakan emak. Aku pulang tidak membawa apa-apa, selain baju ganti dan oleh-oleh ala kadarnya. Kulihat mata emak berbinar. Kebahagiaan nampak memancar dari matanya yang menyorot sinar senja. Air mata itu mengalir, membasahi keriput di pipi.

”Bisa melihatmu pulang dengan sehat, emak sudah sangat senang, nduk.”

Itu kalimat emak yang menyusup hingga kedalam hati. Bahkan, sebelum aku mengatakan permohonan maaf tidak bisa memberikan apa-apa.

Aku tidak bisa lagi berkata-kata. Habis mau apa lagi? Akankah aku ceritakan kepadanya tentang labour market flexibility? Emak pasti akan bertanya, itu makhluk dari dunia mana? Apalagi jika kuceritakan kepadanya tentang statusku yang hanya karyawan outsourcing, dan saban bulan stress mikirin diperpanjang atau tidak. Ah, tidak. Emak tidak boleh tahu. Itu hanya akan menambah beban pikirannya? Pun, emak pasti akan tambah tak mengerti jika kujelaskan tentang politik upah murah di negeri ini. Apalagi jika kusebutkan pekerjaanku tanpa ada kepastian kerja dan jaminan sosial, wanita yang tidak pernah tamat SD itu pasti pusing tujuh keliling. Maka, kupersembahkan kepada emak wajah paling manis yang bisa kuperbuat.

”Gimana pekerjaanmu, nduk? Lancar to?”

”Lancar, mak.”

”Masih tetap kerja di pabrik Jepang, kan?”

”Masih.”

”Orang Jepang pancen hebat. Dulu negerinya pernah di bom nuklir sama Amerika, tapi malah semakin maju.”

Entah, apa yang dipikirkan emak soal Jepang. Sehingga ia begitu terpesona dengan kata-kata itu. Seolah, Jepang adalah pusat segala kehebatan yang ada di dunia.

”Di pabrikmu karyawannya ada berapa, nduk?”

”Kurang lebih empat ribu, mak.”

”Ye, uakeh tenan yo? Itu semuanya digaji yo, nduk?”

“Ya iyalah, mak. Mana ada yang mau kalau kerja nggak digaji.”

“Jakarta itu jauh yo, nduk?”

”Lumayah jauh. Perjalanan sehari semalam kalau dari desa kita ini.”

”Kalau deket saja, pingin rasanya emak melihat tempatmu kerja. Emak pingin lihat pabrik Jepang yang muat dimasuki empat ribu orang. Pasti gede banget…,”

Aku tercekat mendengar kalimat yang terakhir itu. Aku merasakan, kalimat ini adalah sebuah permintaan yang halus. Dalam kalimat lain, emak ingin mengatakan, kapan kamu akan mengajak emakmu ini melihat kota Jakarta?

Emak memang selalu begitu. Pantang baginya untuk meminta kepada anak-anaknya. Emak terlalu khawatir, jika permintaannya justru akan membeni. Emak tidak pernah merasa, sebagai anak, aku memiliki hutang budi. Melahirkanku, merawat dan mendidik, adalah kebahagiaan tersendiri. Tulus, tidak mengharap imbalan apapun.Meski, sebagai anaknya, permintaan emak adalah kidung cinta yang mengalun indah. Ya, apa yang lebih bahagia, selain bisa mengabulkan permintaan orang tua? Maka, seringkali, akulah yang harus mengerti. Harus tahu diri, apa yang sebenarnya emak harapkan dari diriku.

Mengajak emak ke Jakarta?

Nah, inilah masalahnya. Aku pasti akan mengajaknya kesana. Betapapun, harapan itu harus kukabulkan. Entah, kapan. Tetapi tidak untuk saat ini. Jangankan mengajak emak, sedangkan untuk ongkosku kembali ke tempat kerja saja tidak ada.

Kesal juga jika mengingat, bahwa aku ini sudah memiliki pekerjaan, tetapi mengapa masih saja tetap harus disubsidi? Jika begini jadinya, apa yang bisa dibanggakan dengan status sebagai karyawan? Dan lagi-lagi, aku tak bisa berkata apa-apa. Meski hasil survey menyebut biaya hidup di kota industri sebesar 2,4 juta, dan aku diupah jauh lebih rendah dari itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s