Balada Buruh Pabrik (2): Marah

Kereta berikutnya tiba. Ini artinya, sudah lebih dari satu jam aku termangu disini. Bunyi besi yang beradu, berderit keras. Susah payah ular besi itu berhenti, setelah sekian lama berlari sekencang yang ia bisa. Dan dalam hitungan detik, stasiun sudah berubah menjadi ramai. Orang-orang berlompatan keluar dari dalam kereta. Ada ratusan orang, mungkin juga ribuan. Dan diantara sekian banyak orang itu, aku masih berharap salah satunya adalah Subhan.

Ini memang seperti tidak masuk akal. Terlalu mengada-ada. Bagaimana mungkin mengharapkan seseorang muncul dengan tiba-tiba dan ada ujung pangkalnya? Ini bukan di film, Rin.

Tak apa jika kalian mengatakan ada yang salah dalam otakku. Sebab, memang, hampir dalam semua hal pikiranku selalu terhubung dengan lelaki itu. Apa saja yang aku lihat, aku pikirkan, selalu bermuara pada sosok bernama Subhan Budianto. Aku benci dengan situasi ini. Tetapi aku tidak berdaya.

Kukira inilah sensasi, dari apa yang dinamakan cinta. Sesuatu yang sukar untuk dijelaskan. Sesuatu yang membuat kita seperti sedang mabuk kepayang. Pusing tujuh keliling. Teradang berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuang rasa itu jauh-jauh. Tetapi kita selalu suka, setiap kali rasa itu hadir.

Hingga kereta itu bergerak kembali meninggalkan stasiun, aku tidak menjumpai Subhan ada bersama mereka. Aku tidak mungkin terlewat. Penglihatanku tidak mungkin salah. Jika saja ada seratus orang berkumpul dengan wajah yang sama persis dengan diri lelaki itu, aku masih bisa mengenali mana yang asli.

Penantian yang tak pasti ini membuatku lelah. Aku marah. Kemarahan yang tak kutahu ditujukan kepada siapa. Kepada lelaki itu, yang ternyata hanya ilusi? Atau kepada diriku sendiri, yang terlalu berlebihan dalam berharap?

”Kenapa harus marah dengan kekasihnya sendiri?” Itu pertanyaanmu dulu, setiap kali aku marah.

”Ih, pe-de. Siapa ngaku kekasihnya siapa.” Ketus jawabku.

”Kalau engkau ingin agar aku membencimu, jangan dengan marah-marah. Tahu enggak, Rin, saat dirimu marah, wajahmu justru terlihat lebih cantik.”

”Gombal!”

”Eh, nggak percaya. Itu adalah kata-kata paling jujur yang pernah aku ucapkan.”

”Aku tuh buenci banget sama kamu.”

”Sama siapa?”

”Kamu!” Aku menyorongkan muka kedepan wajahmu.

Engkau hanya tersenyum. ”Trims udah bener-bener cinta kepadaku. Begitu kan kepanjangan dari kata benci.”

Gubrak.

Dan jika sudah begitu, aku akan kehabisan kata-kata. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah meninggalkanmu sendirian. Lalu mendiamkanmu selama berhari-hari. Meskipun aku sadari, bahwa apa yang aku lakukan ini hanyalah sebuah siasat. Jauh dalam hatiku menginginkan, dirimu akan mengejarku. Atau setidaknya menahan tanganku seperti yang ada di film-film itu. Atau menelponku, datang kerumah, hingga akhirnya aku menyerah. Sesungguhnya, dirimu tidak pernah bisa benar-benar membuatku marah.

Saat kita baikan, pernah kutanyakan ini kepadamu. ”Mengapa kita harus selalu marah? Sedangkan dengan orang lain, kita bisa bersikap ramah.”

”Karena kita saling mencintai, Airin?”

”Cinta kok begitu?”

”Karena cinta menautkan semua rasa. Semarah apapun kita, pada akhirnya selalu ada jalan buat kita untuk kembali bersatu. Kadang kemarahan itu adalah cara kita untuk ingin dimengerti, untuk lebih disayangi…..”

”Oh, pantesan meski hampir saben hari kulihat emak dan bapak ribut, tetapi hampir saban tahun anaknya lahir terus-terusan.”

”Gila lo, Rin. Kualat lo ngomongin orang tua sendiri.”

Mendengar kata-katamu barusan, aku mendelik. Kucubit pahamu, dan lari menjauh.

* * *

Ngomong soal marah, ada satu kisah yang benar-benar membuatku sangat marah. Ini kisah pribadi sebenarnya. Kukira, kalian akan sangat beruntung bisa mendengarkannya, langsung dari diriku. Bermula saat aku minta izin untuk pulang awal karena tamu bulananku datang. Buat sebagian orang, rutinitas yang biasa terjadi pada kaum perempuan ini bukan masalah. Tetapi bagiku, ini adalah sebuah petaka tersendiri.

Kalian tahu, sakitnya luar biasa. Perut terasa kram, seperti sedang dililit ular naga sebesar pohon kelapa. Beberapa kali, rasanya seperti setengah hidup.

Aku baru awal-awal masuk kerja. Dengan kondisi seperti itu, aku minta ijin untuk pulang lebih awal. Tetapi perlakuan yang aku terima, tidak seperti yang kuduga. Seorang personalia meminta satpam – perempuan – untuk mengecek apakah aku benar-benar datang bulan dengan melihat secara langsung. Aku ditarik ke kamar mandi, diminta untuk membuka celana.

Permintaan itu seperti menampar harga diriku. Meskin di pabrik ini tenagaku hanya diupah minimum, tetapi membuka celana untuk membuktikan apakah aku benar-benar sedang mens atau tidak, sangat tidak sebanding dengan bayaran apapun. Akal sehatku tidak bisa menerima ini semua.

Akibatnya? Aku menerima surat peringatan. Dan meskipun hari itu, aku sudah bekerja hingga lewat tengah hari, tetapi dianggap mangkir. Itu sanksi karena melanggar peraturan, katanya. Meski, hingga saat ini, aku bahkan tidak pernah tahu, itu peraturan apa, pasal berapa.

Aku marah.

Menyimpan dendam karena peristiwa itu. Tetapi juga, tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab pilihannya begitu sederhana: ingin tetap kerja, atau kehilangan pekerjaan yang berarti menjadi pengangguran.

Berbulan-bulan kemudian, aku memendam rasa. Ini baru satu hal, kelak, aku akan ceritakan banyak hal kepada kalian. Peristiwa demi peristiwa, yang pada akhirnya, membuat kemarahan itu menjadi sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s