Balada Buruh Pabrik (1): Rindu Kampung Halaman

Stasiun Blitar. Ini adalah stasiun yang paling aku tunggu. Bukan stasiun terakhir, sebab kereta ini akan terus melaju menuju Malang. Blitar memang tujuanku. Akhir dari perjalananku.

Masih seperti setahun yang lalu, tidak banyak perubahan yang terjadi. Aku bahkan masih mengingat dengan benar setiap detailnya. Pak Tua, penjual dawet srabi, masih yang dulu. Deretan kursi panjang di ruang tunggu penumpang, juga masih sama dengan yang kita duduki saat engkau mengantar kepergianku. Bahkan kata-katamu, ”Subhan Sayang Airin”, yang engkau tulis di sandaran kursi ketika itu, masih bisa aku jumpai. Memang sudah pudar dan kusam, tetapi masih bisa kubaca dengan jelas hingga sekarang.

Aku tidak segera beranjak dari stasiun ini. Kuamati orang-orang yang berlalu lalang, berharap salah satunya adalah dirimu. Tetapi, setelah sekian belas menit berlalu, harapan itu tinggal harapan. Baru aku sadari, cinta adalah kesetiaan untuk menggenggam harapan. Meskipun, terkadang harapan itu, terkesan absurd.

Bagaimana tidak absurd, jika setahun ini saja aku tidak pernah tahu bagaimana kabarmu. Engkau tidak pernah bisa aku hubungi. Pun begitu juga dengan dirimu, sia-sia aku berharap ada kabar darimu. Setiap hari. Setiap detik. Lalu atas dasar apa kini mengharap dirimu hadir disini untuk menjemputku.

Entahlah, sulit rasanya untuk tidak mengaitkan stasiun ini dengan dirimu, Han. Tempat ini benar-benar telah menjelma sebagai museum yang menyimpan segala kisah tentang kita. Disini, terekam segala resahku. Tersimpan semua kerinduan, yang kutahu hanya untukmu.

“Hati-hati, Rin. Jangan lupakan aku jika dirimu sudah jadi orang. Jika kelak engkau pulang membawa sedan dan berpapasan aku di tengah jalan, jangan lupa untuk menyapa orang desa sepertiku ini,” itu adalah kalimat panjang yang selalu kukenang. Engkau memang begitu. Selalu menggodaku.

Dan aku hanya tersenyum mendengarnya. Kuanggap itu do`a, waktu itu.

Tetapi jika dirimu mengatakannya saat ini, mungkin ceritanya akan menjadi lain. Kukira akan lebih terdengar sebagai lelucon ketimbang do`a. Biarlah kuceritakan ini kepadamu. Ternyata menjadi buruh pabrik tidak seistimewa yang kita bayangkan waktu itu. Upahku, setelah dikurangi biaya hidup, jangankan untuk membeli sedan. Rodanya pun, tidak terbeli.

Kaukira aku hebat bisa pulang ke kampung halaman, lebaran ini? Padahal jika aku harus jujur mengatakan ini kepadamu, untuk kembali ke Cikarang, tempat dimana aku bekerja, aku minta diongkosin si mbok. Kasihan sebenarnya, membayangkan bagaimana ibuku itu harus menjual setidaknya tiga ayam jago, untuk bisa mengirimkan kembali ke kawasan industri.

Dan yang membuat hatiku semakin teriris, ketika mengingat kata-kata emak kepada orang-orang sebelum keberangkatanku dulu. Engkau pasti mengingatnya, kan, Han? Aku saja masih ingat, dirimu sedang bersiap untuk mengantarku ketika emak mengatakan ini.

“Airin sekarang sudah kerja di Jakarta.” Mata si mbok berbinar ketika mengatakan ini. Bagi banyak orang di kampungku, kata-kata Jakarta memang menghipnotis mereka. Terbayang gemerlapnya kota, segala kemudahan, yang hebat-hebat ada disana.

Padahal, yang benar, aku berada di Cikarang. Sebuah kawasan industri yang terletak di Bekasi, di pinggiran Jakarta. Meski begitu, aku tidak hendak meralatnya. Biarlah itu menjadi rahasia mereka. Sebab, barangkali, itulah kebanggaan yang masih tersisa.

Jika saja mereka tahu tempat tinggalku, kontrakan petak yang aku huni bertiga untuk menghemat ongkos sewa, niscaya mereka akan menganggap ini adalah kecelakaan sejarah. Bagaimana mungkin kembang desa yang selalu menjadi juara satu itu bernasib seperti ini?

”Kerja dimana?” Orang-orang bertanya dengan penasaran.

”Di perusahaan bonafit, pokoknya. Perusahaan Jepang.”

Kemudian aku sadari, ternyata kalimat itu menyayat luka dihatimu. Ini terbukti, dengan kalimatmu yang abadi menggema di ruang hatiku. ”Jika kelak engkau pulang membawa sedan dan berpapasan aku di tengah jalan, jangan lupa untuk menyapa orang desa sepertiku ini.”

Lantas, perlahan dirimu menjauh dariku. Kita terjebak dalam bayang-bayang. Padahal kita masih berada di pusaran yang sama. Engkau memilih sebagai petani, kuhormati itu. Aku disini sebagai buruh, yang teperangkap dinding pabrik, kadang lebih dari 8 jam sehari.

Han, semua cerita-cerita indah itu bohong. Omong kosong. Engkau lebih beruntung bisa merasakan damainya kehidupan di desa. Maaf, aku bukannya kurang syukur jika hendak menceritakan ini kepadamu. Hanya, memang, seperti itulah adanya. Banyak kawanku yang bilang, sebagai buruh pabrik lebih sebagai keterpaksaan, dan bukan cita-cita.

Jujur aku iri denganmu, yang begitu damai bisa menggarap sawah warisan orang tua. Tetapi engkau tahu, aku tidak seberuntung itu, Han. Aku tidak punya tanah untuk bercocok tanam. Tidak punya modal untuk berdagang. Aku hanya mempunyai tenaga, dan karenanya harus menjual tenaga untuk bisa hidup.

Arus Balik, 3 September 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s