Catatan Cinta di Hari yang Fitri

Dear kawan-kawan,

Mungkin hanya kalimat ini yang bisa kurangkai, tuk mewakili betapa dalamnya kata maaf yang hendak kuhaturkan pada dirimu. Harusnya aku berlari menghampirimu. Menjabat erat tanganmu dalam hangatnya genggaman. Tapi nyatanya, hanya melalui media ini kita dipertemukan di malam yang fitri ini.

Tetapi kita sama-sama sadar, yang terpenting adalah substansi. Terlalu sering kita mendengar pidato yang berbusa-busa, janji yang setinggi langit, tetapi jika itu hanya ‘omdong’, maka tidak akan menghadirkan makna apa-apa. Kita sudah sama-sama sering belajar, untuk mempercayai seseorang dari apa yang dikerjakan, bukan pada apa yang dikatakan. Itulah sebabnya, aku berharap, ini tidak mengurangi rasa hormatku pada kalian.

Dari detik ini kukatakan, aku sangat menyayangi kalian. Mengutip kalimat Hilal Ahmad, denganmu aku seperti senja yang tak akan pernah meninggalkan langit, seperti putik yang tak akan membiarkan kelopak bunga menjadi sunyi. Aku bangga bisa mengenal kalian, sosok hebat yang telah banyak memberikan inspirasi. Biar kuceritakan padamu tentang satu kisah….

Sejak mengenal kata ‘Solidaritas tanpa Batas’, aku ingin selalu berada di sisi kalian. Membagi tawa, merangkai air mata, dan bisa lebih merasakan kepedihan yang dialami sesama. Dalam diskusi. Dalam aksi. Cerita kita sama. Dari situ aku semakin memahami, bahwa kita adalah manusia, yang memiliki tugas untuk memanusiakan yang lainnya.

Itulah yang membuatku rela tetap berada disini. Dalam senyap, dalam sepi. Satu dua hari sekali masih harus menyambangi kawan-kawan di basecamp perjuangan. Ya, aku tidak bisa memberikan apa-apa. Kecuali empati, dan tenaga yang juga tidak seberapa.

Kawan. Engkau tahu, air mataku menetes saat menuliskan bagian ini. Bagaimana kita hendak memaknai, ada sekian banyak kawan kita yang tidak bisa merasakan hari kemenangan ini dengan sempurna. Di SGS, di PLMB, di Kanefusa, di Kymco, di Gimmil, dan masih banyak lagi. Jika dirimu tak paham juga apa yang kukatakan, baik, kuperjelas.

Sebagian diantara kita, mungkin menjadikan lebaran ini sebagai jeda atas keletihan menjalani jelujur kehidupan di kota industri yang hampir tanpa koma. Benar-benar sebagai momentum untuk melakukan istirahat secara total. Kesempatan berharga untuk bisa bercanda, bermanja dengan keluarga di kampung halaman. Tetapi jangan pernah lupa, ada banyak kawan kita yang tidak mendapatkan kesempatan seistimewa itu di hari bahagia ini. Mereka masih saja tidur di tenda perjuangan, tanpa atribut apapun yang menjadi kebanggan kita untuk bisa menyandang predikat manusia paling pantas berada di dunia.

Baiklah, biarkan lebaran ini menjadi jeda. Sebab setelah ini, akan ada banyak pekerjaan menunggu. RUU BPJS di depan mata. Perjuangan UMK dalam giliran berkutnya. Belum lagi rutinitas yang lain, perselisihan hubungan industrial yang susul menyusul, tak pernah ada habisnya. Entah sampai kapan.

Kadang kita berbeda pendapat. Tetapi hati kita sama. Sama-sama terluka melihat ketidakadilan begitu vulgar terpampang di depan mata. Saat aku lelah, engkau menguatkan. Saat aku merasa kerdil, engkau tampil untuk menghebatkan.

Wajarlah jika disini, aku akan sangat merindukan kalian. Liburan ini memang seminggu, tapi entahlah, rasanya seperti menjadi berwindu-windu. Semoga Tuhan akan mempertemukan kita kembali, di jalan perjuangan ini….

Saat takbir menggores hati,

Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin

One thought on “Catatan Cinta di Hari yang Fitri

  1. Kunci utama dalam berjuang dalam kehidupan kita ini adalah, JANGAN PERNAH PUTUS ASA. Hasil memang penting, tetapi yang lebih penting adalah Proses. Setiap yang kita perjuangan haruslah berorientasi pada Proses. Kalah dan berhasil bukan yang utama untuk dipersoalkan. Kebanyak kita sering mengabaikan proses. Kita sering ngotot untuk segera berhasil. Akibatnya, sering kita kecewa ketika hasil akhir yang kita dapatkan adalah kegagalan.

    Selain daripada itu, adalah Tawaqal. Karena itu doa dan ikhtiar hanya prasyarat dalam perjuangan kehidupan ini. Segala hasil yang kita dapatkan – Kalah atau Berhasil, bukan karena doa dan ikhtiar kita, tetapi karena itulah KEHENDAK ALLAH AZZA WA JALLA. Itulah tawaqal. Itulah kesabaran. Itulah keihklasan.

    Terus berjuang kawan. Sekali layar terkembang, berpantang surut ke belakang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s