“Biarkanlah Begitu, Tetaplah Berbuat Baik”

Aku paham dan juga merasakan kalian semua dengan keihkhlasan perjuangkan upah orang lain setinggi mungkin tapi kalian tidak merasakan. perjuangkan martabat orang setinggi mungkin tapi martabat kalian direndahkan. perjuangkan jaminan kesehatan dalam kesakitan. perjuangkan agar tak ada yang terPHK tapi kalian korban. perjuangkan THR tapi kalian hanya dapat terima kasih. lalu semua berjalan seperti semestinya.Kalimat di atas ditulis dalam status Facebook Obon Tabroni, Ketua Umum SPAI FSPMI, tepat pada tanggal 24 Agustus 2011, pukul 13:22. Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dari tulisan itu. Tetapi karena ditulis dalam situasi dan kondisi yang tepat, ia menjadi terasa lebih bermakna. Meresap kedalam jiwa.

Tulisan ini mengingatkan akan realitas kawan-kawan FSPMI yang terserak dari cabang dan pusat, tulis Obon, dalam satu komentarnya. Ya, saya juga merasakan hal yang sama. Membaca tulisan itu, refleks ingatan kita akan bertaut pada wajah-wajah yang telah menghibahkan sebagian besar tenaga dan waktunya, meski mereka tahu, ini bukan semata-mata untuk kepentingan diri pribadinya.

Mengapa pernyataan di atas menarik perhatian saya? Apakah karena saya merasa sebagai salah satu yang disebut dalam tulisan itu? Bisa jadi memang begitu. Bisa pula, barangkali inilah juga yang dirasakan Wiji Thukul, saat ia menulis syairnya: “Aku rumput, butuh tanah.”Mereka tidak mengeluh, tetap saja berjuang. Lantas, kita melihat semua berjalan seperti semestinya. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dan memang, ini bukan berarti petaka.

Buat saya, ini menjadi semacam instropeksi. Kita dipaksa untuk melihat kedalam. Melihat diri sendiri, dengan lebih apa adanya.

Saat menulis ini, tidak sedikit kawan-kawan kita yang berada di dalam tenda-tenda perjuangan. Tidak sedikit kawan-kawan kita yang tengah mengalami perselisian hubungan industrial, dan belum mendapat penyelesaian. Upah tidak dibayarkan, THR tidak diberikan. Meskipun begitu, mereka tetap menunjukkan semangat dan optimisme.

Dua hari yang lalu, saat mengadakan kunjungan solidaritas untuk kawan-kawan PUK yang mengalami perselisihan, lagi-lagi saya mendapatkan pelajaran baru. Membayangkan bagaimana Bung Wardi, tengah malam, menerobos dinginnya malam dari Jatiuwung ke Balaraja dengan sepeda motor tua, seorang diri. Melihat kawan-kawan yang baru pulang sift 2, dengan antusias ikut bergabung disini. Saya tahu mereka lelah. Tetapi mereka memaksa, untuk bisa melampaui dirinya sendiri.

Ternyata masih banyak, diantara kita, yang tidak melulu berfikir soal uang.

Seorang kawan, mengatakan ini sudah biasa. Namun, buat saya, ini luar biasa.

Jangan kemudian kita menyederhanakan sesuatu, hanya karena kita menganggap itu sudah biasa terjadi. Apalagi jika kemudian, kita menganggap tidak pernah terjadi apa-apa. Bukti kedewasaan kita dalam gerakan, adalah ketika kita dengan ikhlas memberikan apresiasi kepada mereka yang nyata-nyata memberikan sumbang sih lebih besar terhadap gerakan ini.

Benar, kita harus melakukannya dengan ikhlas. Bukan hanya ikhlas, tetapi juga sabar. Dan sabar, tidak pernah ada batas. Sebab ketika kita menyerah, disitulah kesabaran kita terkikis dan habis.

“Aku paham dan juga merasakan kalian semua dengan keihkhlasan perjuangkan upah orang lain setinggi mungkin tapi kalian tidak merasakan. perjuangkan martabat orang setinggi mungkin tapi martabat kalian direndahkan. Perjuangkan jaminan kesehatan dalam kesakitan. Perjuangkan agar tak ada yang terPHK tapi kalian korban. Perjuangkan THR tapi kalian hanya dapat terima kasih.” Lagi, kalimat itu terngiang untuk yang kesekian kali.

Lalu, banyak orang menganggap itu sebuah keniscayaan. Seperti tidak terjadi apa-apa.

Dalam situasi seperti ini, mampukan kita bercermin dalam kalimat-kalimat indah Bunda Theresa:

Kalau kamu jujur dan terus-terang, orang akan mengira kamu sedang berbuat curang. Biarkanlah begitu, tetaplah berlaku jujur.

Apa yang kamu bangun selama bertahun-tahun, bisa saja dihancurkan oleh seseorang dalam waktu satu malam. Biarkanlah begitu, tetaplah membangun.

Kalau kamu berada dalam kedamaian dan kebahagiaan, orang-orang pasti iri dan cemburu, maka dari itu tetaplah kamu bahagia dan tersenyum dalam kedamaianmu.

Perbuatan baik yang hari ini kamu lakukan, bisa jadi dilupakan oleh orang esok hari. Biarkanlah begitu, tetaplah berbuat baik.

Berilah dunia ini yang paling bagus yang kamu miliki, dan itu belum tentu cukup. Tetapi bagaimanapun juga, tetaplah memberi.

Dan kamu akan lihat pada akhirnya bahwa semua ini hanya urusan antara kamu dan Tuhan saja”.

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. CahyonoAktivis Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), penulis novel Cinta Sang Aktivis, serta pernah menjadi juara 3 Rose Heart Writing Competition. E-mail: kahar.mis@gmail.com. Blog: https://kaharscahyono.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s