Menulis Sejarah: Di Bawah Pohon Bambu

Hingga hari ke-26 Ramadhan, ketika banyak kawan mulai melakukan perjalanan mudik, saya mulai merasakan sepi. Kota ini nyaris mati. Jauh-jauh hari saya sudah merencanakan untuk menghabiskan liburan disini, tidak ikut mudik. Ach, saya merasa, ada momentum yang hilang untuk kali ini. Meskipun, situasi ini justru membuat saya memiliki banyak waktu untuk berefleksi dan melakukan instropeksi diri.

Sepanjang Ramadhan ini, saya mengikuti beragam kegiatan. Mulai dari FGD Needs Analysis FSPMI di Jakarta, Mimbar Rakyat di Tangerang, lokakarya gerakan serikat buruh di Batang, mendampingi salah satu PUK dalam mediasi di Tangerang Selatan, terkait gugatan kawan-kawan PLMB di PHI Serang, hingga menghadiri berbagai kegiatan konsolidasi yang dirangkai dengan buka puasa bersama, yang hampir saban hari ada.

Dari beragam aktivitas tersebut, yang masih terus membekas dalam ingatan saya adalah saat mengikuti kunjungan solidaritas yang dilakukan kawan-kawan FSPMI – Garda Metal Tangerang – ke salah satu PUK yang sedang bermasalah. Ini dilakukan semalam. Dimulai menjelang berbuka, hingga masuk waktu sahur.

Kamis sore, kami berangkat dari Sekretariat PC, di Jatiuwung (Kota Tangerang), menuju Balaraja (Kabupaten Tangerang). Misi utama dalam kunjungan solidaritas ini, sebenarnya hanya ada dua. Pertama, memberikan dukungan moril kepada kawan-kawan PUK yang sedang mengalami perselisihan hubungan industrial, dan kedua, memberikan bantuan solidaritas, dari hasil pengumpulan sebagian dana THR yang dihimpun dari anggota FSPMI se-Tangerang.

Hanya, memang, kemudian ada misi rahasia yang diinisiasi oleh Pangkorda, bung Sarjono. Yaitu, melakukan grebek sahur di kediaman bung Riden (Ketua KC FSPMI Tangerang, sekaligus Ketua DPW FSPMI Banten).

Begitu datang di basecamp kawan-kawan PUK ini, kami disambut dengan begitu hangat. Menu berbuka yang istimewa. Kesan pertama, yang saya kira sungguh mempesona.

Saat malam mulai merangkak, kami melanjutkan dengan bakar ayam dan ikan. Makan bersama, di hamparan daun pisang, selaksana meneguhkan kebersamaan itu.

Setelah perut terisi, dalam keheningan malam itu, kami semua berdiri dan menyanyikan mars FSPMI. Dan lagu ini, seperti api yang memercik kedalam busi. Kami tersemangati. Entah bagaimana awalnya, malam itu diskusi mengalir dengan sendirinya. Menjadi semacam refleksi panjang, atas setiap jejak juang yang pernah ditorehkan oleh kawan-kawan FSPMI. Kebetulan, hadir juga mantan anggota FSPMI dari PUK Santoso. Salah satu PUK militan, yang lebih dari sepuluh bulan hidup dalam tenda perjuangan. Tanpa diupah, dengan beragam persoalan yang membelit.

Satu persatu kawan-kawan membuka cerita. Tentang FSPMI, tentang perjuangan, tentang dukungan keluarga, juga tentang mimpi-mimpi mereka. Ya, buat saya, mereka adalah saksi hidup yang akan senantiasa menyegarkan ingatan kita semua, bahwa dalam setiap jejak langkah ini, sejarah selalu terukir.

Saya terdiam sepanjang itu. Ini sejarah, lirih dalam hati saya. Saya merasa belum apa-apa, hanya bisa menuliskannya.

Di bawah pohon bambu, dalam keheningan malam itu, tiba-tiba saja menjadi universitas kehidupan. Kami belajar satu sama lain. Hangat, dekat, dan bersahabat. Belum pernah dalam diskusi yang saya ikuti, ada sebuah forum yang sebegitu hangat seperti ini. Mereka berbicara dengan hati, beberapa, bahkan dengan kalimat yang terbata-bata. Jauh dari kepentingan yang tersembunyi.

Semakin malam, semakin banyak kawan yang datang. Dari berbagai PUK berkumpul disini. Tanpa undangan resmi, hanya melalui SMS dan status di Facebook.

Pak wardi, bahkan, yang mengetahui agenda ini pukul setengah dua belas, tengah mala, dari Jatiuwung langsung meluncur dan bergabung.

Saya merasa beruntung, bisa melihat bagaimana sejarah itu berlangsung. Disaat banyak elit serikat buruh berbicara berbusa-busa tentang persatuan dan solidaritas, mereka bahkan sudah melakukannya. Dalam senyap, jauh dari sorot kamera, jauh dari puja dan puji.

Acara ini ditutup dengan sahur bersama di rumah Ketua KC FSPMI Tangerang, Bung Riden. Seolah, hendak melengkapi perjalanan di malam ini.

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. CahyonoAktivis Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), berbagai tulisan dan pemikirannya bisa dilihat di https://kaharscahyono.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s