Mencatat Kemenangan (kecil)

Serikat buruh, semestinya memposisikan diri sebagai pemimpin dalam gerakan sosial. Pernyataan ini tidak berlebihan, karena memang, buruh dengan serikat-nya adalah komunitas yang lebih terorganisir. Serikat buruh memiliki basis yang jelas, dan juga, dari mereka bisa ditumbuhkan adanya kesadaran kelas.

Banyak, memang, yang meragukan buruh-buruh di Indonesia mampu melakukan peran itu. Setidaknya untuk saat ini. Mereka justru senang memaparkan dalam berbagai seminar dan diskusi, bahwa serikat buruh di Indonesia menuju pada jurang perpecahan. Semakin terfragmentasi. ”Buktinya, saat ini saja ada ratusan serikat buruh yang terdaftar di tingkat nasional,” begitu mereka sering memberikan argumen.

Saya, sebagai orang yang setiap hari hidup dan berkecimpug dalam gerakan serikat buruh, tidak hendak berpolemik lebih jauh terhadap hal ini. Ketimbang mempebesar sikap pesimisme dan apatis terhadap masa depan gerakan buruh Indonesia, yang terpenting sekarang adalah melakukan langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.

Lagi pula, pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Ini bukan soal optimisme yang berlebihan. Tetapi didasarkan pada beberapa hal, dimana gerakan serikat buruh hari ini semakin mengarah pada persatuan. Ada tiga indikator yang bisa disebut. Pertama, fenomena Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) yang gigih berjuang agar negara ini menjalankan Sistem Jaminan Sosial Nasional. Kedua, tumbuhnya berbagai aliansi lokal lintas SP/SB di berbagai daerah. Ketiga, fenomena berpindahnya anggota serikat buruh ke serikat buruh lain yang dianggap lebih maju dan lebih mampu membela serta melindugi kepentingan anggota dan keluarganya.

Tiga hal di atas, buat saya merupakan kemenangan (kecil) yang layak untuk diapresiasi. Ini adalah capaian yang penting, bahkan sangat menentukan untuk terwujudkan kemenangan lain yang lebih besar.

Itulah sebabnya, kondisi seperti ini harus terus dijaga. Ibarat tangga, kita sudah naik satu undakan. Tak dipungkiri, butuh energi dan komitment yang lebih besar untuk naik ke undakan berikutnya. Tetapi jika kembali turun, setelah apa yang kita capai sekarang ini, saya kira hanyalah sikap bodoh yang sempurna.

Aksi demi aksi yang sudah kita lewati bersama, justru baik untuk membangun militansi dan kesadaran anggota terhadap organisasi. Melalui rapat umum, mimbar rakyat, dan berbagai konsolidasi yang kita lakukan, semakin meneguhkan keyakinan, bahwa dengan kebersamaan akan semakin banyak hal yang bisa kita lakukan.

Akhirnya, kembali pada pernyataan saya di awal tulisan ini. Kapan tiba saatnya, serikat buruh menjadi lokomotif gerakan sosial di negeri ini?

Perjuangan terhadap jaminan sosial sudah menyemai harapan itu. Kedepan, kita berharap, akan semakin banyak lagi isu yang bisa kita advokasi secara bersama-sama. Tentu saja, ini mengandaikan bukan hanya gerakan serikat buruh semata. Akan tetapi, sebuah gerakan yang melibatkan banyak element. Sudah saatnya gerakan buruh Indonesia beranjak dari pabrik ke publik. Tidak hanya terjebak dalam isu sektoral, yang disebut Bung Karno sebagai perjuangan yang remeh-temeh.

Selamat berjuang, kita pasti menang!

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. CahyonoAktivis Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), berbagai tulisan dan pemikirannya bisa dilihat di https://kaharscahyono.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s