Virtual Meeting: Langkah Cerdas Membangun Gerakan


Sabtu malam, 6 Agustus 2011 kemarin, saya kira menjadi hari yang istimewa. Ini adalah untuk pertamakalinya, Serikat Pekerja Aneka Industri – Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPAI-FSPMI) melakukan – apa yang disebut Ketua Umum SPAI Obon Tabroni sebagai – Virtual Meeting berbasis facebook. Ini bukan hal yang baru, sebenarnya. Tetapi kali ini, dilakukan secara lebih terorganisir. Jika dikembangkan secara serius, ada peluang bisa menjadi media alternatif dalam melakukan konsolidasi.

Saya tidak hendak mengatakan Virtual Meeting ‘edisi percobaan’ ini berjalan sempurna tanpa kendala. Tetapi sebagai sebuah awalan, ini adalah capaian yang layak untuk diapresiasi. Disana ada cita-cita besar. Inilah yang harus dijaga. Agar kedepan, kita bisa mengambangkan ini menjadi sebuah alternatif dalam melakukan komunikasi dan koordinasi dengan anggota FSPMI yang tersebar di berbagai provinsi.

Lebih dari itu, ini adalah langkah cemerlang, yang efisien dalam segala hal. Bayangkan, dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di facebook, kita bisa tetap berkomunikasi dengan banyak kawan dari berbagai daerah yang saling berjauhan.

Mengapa facebook? Karena ini adalah media sosial yang merakyat. Mudah digunakan, tak perlu menghadap komputer, handphone pun jadi. Inilah juga, media sosial yang paling sering digunakan oleh pekerja/buruh. Prinsipnya pun sangat sederhana. Mengubah cara pandang banyak kawan yang saat ini menggunakan facebook hanya untuk hal-hal yang bersifat pribadi, menjadi sesuatu hal yang berkonstribusi terhadap gerakan.

Saya memang pernah mendengar, jika Lintasarta pernah mengeluarkan Virtual Meeting dan Business Continuity Plan (BCP). Sebagaimana yang pernah dikatakan General Manager Marketing Lintasarta M. Ma’ruf, “Solusi Virtual Meeting dibuat agar para karyawan yang berada di tengah laut, lepas pantai (offshore), hutan, atau di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau, tetap dapat berinteraksi dengan anggota keluarga mereka di rumah.” Tetapi, bukankah sikap bodoh namanya, jika kita berhenti melakukan inovasi dalam melakukan komunikasi dan koordinasi, hanya karena alat canggih itu tidak kita miliki.

Apa Arti Sebuah Nama?

Vitual bisa diartikan semu, bukan benda aslinya, maya, simulasi/latihan/demo, bekerja secara electronic, bisa berpindah-pindah saat anda berada dimana saja, tidak benar-benar secara fisik. Atau jika kita melihat dalam en.wikipedia, Virtual diartikan sebagai: Istilah virtual adalah sebuah konsep diterapkan di berbagai bidang dengan konotasi agak berbeda, dan juga, denotasi berbeda. Istilah ini telah didefinisikan dalam filsafat sebagai “sesuatu yang tidak nyata”, tetapi dapat menampilkan kualitas yang menonjol dari nyata. Bahasa sehari-hari, ‘virtual’ digunakan untuk berarti hampir, terutama bila digunakan dalam bentuk misalnya adverbial “Itu hampir [hampir] tidak mungkin.

Sedangkan ’meeting’, secara sederhana diartikan sebagai pertemuan. Atau dalam en.wikipedia, diartikan sebagai (1) sebuah tindakan atau proses yang datang bersama untuk merumuskan tujuan yang sama. (2) Sebagai pertemuan dua orang atau lebih yang telah diselenggarakan dengan maksud untuk mencapai tujuan bersama melalui interaksi verbal, seperti berbagi informasi atau mencapai kesepakatan. (3) Pertemuan dapat terjadi tatap muka atau secara virtual, seperti yang dimediasi oleh komunikasi teknologi, seperti panggilan konferensi telepon , sebuah panggilan konferensi skyped atau konferensi video .

Tanpa bermaksud untuk berumit ria dengan istilah-istilah itu, agar mudah dipahami oleh mereka yang awan, kami menyebut ‘virtual meeting’ sebagai rapat yang dilakukan secara online melalui facebook. Bukankah yang terpenting adalah substansi, daripada sekedar gegap gempita yang malah tidak menghasilkan apa-apa?

Apakah tidak berlebihan jika hal semacam ini kita namakan Virtual Meeting? Saya kira jawabnya tegas. Tidak. Saya menyakini, ini bisa menciptakan revolusi baru dalam jagad media sosial. Banyak berita yang bisa kita akses bagaimana efek domino media sosial telah menjalar ke banyak negara di Timur Tengah, setelah Tunisia, kini Mesir, lalu berlanjut ke Yaman, Aljazair, Yordania dan Syria. Media Sosial dengan jejaring sosial atau jaringan sosialnya yang disebut sebagai suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dan lainnya benar-benar menunjukan kekuatannya disana. Vivanews dot Com, misalnya, dengan lugas pernah menulis, “ … Dari internet mereka turun ke jalan.” baca: http://sorot.vivanews.com/news/read/233615-dibangkang-bersih-2-0

Merekam Sejarah

Tepat pukul 20.17, ketika Obon Tabroni (Ketua Umum SPAI) menulis, “bung kahar dah sampai tangerang,” melalui fasilitas ’Ngobrol dengan Grup’ di grup SPAI FSPMI. Pada saat yang bersamaan, seluruh anggota grup yang pada saat itu sedang online bisa melihat pesan ini.

Dalam waktu yang singkat, dengan segera teman-teman lain bergabung. Lintas daerah, lintas wilayah. Selain saya di Tangerang, dan bung Obon Tabroni (Bekasi), juga ada kawan Fajar (Karimun), Oky (Bintan), Thomas (Jakarta), juga Yoni (Batam). Ini tentu, belum termasuk banyak kawan lain, yang ikut nimbrung dalam diskusi di malam itu.

Banyak hal dibahas. Dari Karimun, misalnya, Bung Fajar menyampaikan perkembangan terbaru SPAI disana. Tentang PUK yang terus bertambah, tentang kasus, dan agenda pendidikan yang saat ini dibutuhkan kawan-kawan di sana. Beberapa kawan, yang belum bergabung dengan SPAI FSPMI, juga menyatakan antusiasnya untuk segera bergabung. Mereka berkomunikasi disini.

Saya memang belum pernah ke Karimun, juga Bintan. Namun cerita teman-teman, melalui Virtual Meeting kali ini, membawa saya dalam euforia perjuangan disana. Kedekatan itu sangat terasa, bahwa ada kawan seperjuangan, nun jauh disana. Saya rasa, perasaan ini juga dirasakan oleh semua peserta meeting. Kami semua, yang terbentang dalam berbagai pulau dan provinsi, dapat tetap bekerja sama, meski tanpa harus bersama-sama.

Diluar waktu yang ditetapkan sebagai Virtual Meeting, diskusi melalui Fb sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Pemberian nama ini, saya kira untuk diskusi yang bersifat khusus. Ditentukan waktunya, ada yang bertindak sebagai moderator. Kesamaan waktu ini menjadi penting, agar masing-masing pihak bisa berkomunikasi, memberikan laporan dan klarifikasi secara langsung.

Memetik Manfaat

Manfaat yang paling mendalam dari virtual meeting adalah ketangkasan dan kecepatan organisasi dalam mengambil keputusan. Komunikasi dan informasi dapat dilakukan secara logis, tanpa harus hadir secara fisik. Jika semua bisa terlibat, SDM terbaik yang dimiliki organisasi, di mana pun mereka berada, dapat berpartisipasi dalam sebuah diskusi. Baik saat mereka berada di daerah, atau bahkan di negara lain, bekerja dari rumah, atau bahkan saat bepergian

Pendek kata, komunikasi dan informasi yang efektif dapat diimplementasikan. Suasana seperti ini, tidak hanya akan meningkatkan kinerja dan daya saing, tetapi organisasi dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan. Mengapa tidak? Karena secara berkala, kita bisa tahu berkembangan organisasi di daerah-daerah.

Ini memang membutuhkan konsentrasi dan perhatian yang ekstra. Juga, kesetiaan pada topik yang sedang dibahas. Jika efektif, saya percaya pertemuan seperti ini akan menghasilkan kesimpulan jauh lebih cepat.

Ada manfaat keuangan secara langsung, dengan melakukan virtual meeting. Khususnya terkait dengan biaya perjalanan. Ini berasal dari menghindari tarif, jarak tempuh mobil, hotel dan biaya lainnya saat bepergian ke pertemuan. Sebuah pertemuan dua jam, sering menghabiskan waktu lebih banyak di jalan. Agenda FGD Needs Analisys FSPMI di Sekretariat DPP FSPMI hari Sabtu kemarin, misalnya, saya bahkan harus menghabiskan waktu lima jam lebih perjalanan PP dari Serang, untuk diskusi yang tidak lebih dari 1,5 jam.

Bukan untuk mereduksi gerakan

Virtual Meeting, jelas bukan untuk menggantikan pertemuan secara tatap muka yang sesungguhnya. Ia hanya sebagai media, untuk menjembatani kebuntuan komunikasi karena hambatan jarak dan waktu. Ini hanyalah menjadi alat untuk melakukan konsolidasi. Karena gerakan yang sesungguhnya adalah turun ke jalan.

Jangan sampai kita terjebak, seolah-olah sudah melakukan banyak perubahan, hanya dengan melakukan diskusi di dunia maya. Kita bisa menulis apa saja, tentang yang hebat-hebat, tetapi jika tidak terimplementasi secara nyata, maka akan sia-sia.

Agar ini bisa berjalan optimal, kedepan ada beberapa hal yang yang menurut saya perlu dipikirkan bersama:

1. Menentukan jadwal Virtual Meeting, yang disepakati semua peserta.
2. Perlu adanya moderator. Dia yang akan mengatur lalu lintas diskusi. Misalnya laporan dimulai dari Karimun, dilanjutkan Bintan, lalu ke Bandung, dan seterusnya.
3. Bagaimana dengan kerahasiaan data (jika ada) yang disampaikan dalam diskusi, agar tidak terekspos keluar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s