Setelah Aksi Besar 22 Juli: Benih Revolusi Semakin Subur?

Aksi KAJS pada 22 Juli 2011 memang sudah usai. Gegap gempita ribuan orang, yang menggedor dan menggetarkan dinding DPR RI dan Kantor Jamsostek untuk mendukung RUU BPJS memang sudah tidak lagi terdengar. Saya menyakini, sebagaimana yang dijanjikan peserta aksi, ini bukanlah aksi yang terakhir. Kendati juga, bukan aksi yang pertama.

Diberitakan di banyak media, Jalan Gatot Subroto, tepatnya yang menuju ke arah slipi lumpuh total. Mudah-mudahan, ini bukan bentuk provokasi media, bahwa demonstrasi hanyalah biang keladi kemacetan. Tetapi untuk menunjukkan kepada publik, betapa besarnya aksi ini.

Ya, ini memang layak disebut aksi besar, dari banyaknya element yang bergabung, juga kesetiaan para demonstran untuk tidak bubar hingga aksi berakhir lewat pukul 17.00 di depan Kantor Jamsostek. Hari-hari ini kita semakin sulit melihat kawan-kawan KSPI, KSPSI, KSBSI, berbagai SP/SB lain serta mahasiswa secara bersama-sama turun ke jalan untuk mengusung isu yang sama.

Tidaklah mengherankan, jika banyak yang mengatakan, RUU BPJS telah menyatukan gerakan buruh di Indonesia. Kecuali, memang, mereka yang tidak ingin bersatu.

Hasilnya, Ketua DPR Marzuki Alie, secara tertulis berjanji menyelesaikan pembahasan Rancangan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial pada masa sidang pertama DPR yang berlangsung 18 Agustus-21 Oktober mendatang. Janji tertulis itu akan mengikat DPR, setidaknya menerbitkan harapan bagi banyak orang, Negara ini akan memiliki jaminan sosial.

Saya tidak hendak menyampaikan disini, apa urgensi BPJS diundangkan. Saat ini, saya justru tertarik dengan aksi itu sendiri.

Sebagaimana yang saya sampaikan di awal, aksi yang dilakukan oleh KAJS ini bukanlah aksi yang pertama. Ada banyak rangkaian gerak yang dilakukan teman-teman KAJS, lebih dari 1,5 tahun yang lalu. Dan setiap gerakan dari pabrik menuju publik, buat saya selalu istimewa. Istimewa, karena ini dilakukan oleh pekerja, yang musti membagi waktu setelah 40 jam dalam seminggu berada di dalam pabrik. Bukan demo bayaran, oleh orang-orang yang memang pekerjaannya mencari hidup dari polemik yang terjadi di masyarakat. Yang dengan tega menjadikan kemiskinan sebagai ‘proyek’.

Ini aksi yang istimewa. Dan menjadi lebih istimewa, ketika pada hari keesokan harinya (23 Juli), di Sekretariat Forum Solidaritas Buruh Serang kami mengadakan evaluasi dan konsolidasi, yang secara khusus ditujukan untuk mengawal RUU BPJS pada hari-hari mendatang. Diskusi terus berlanjut, ketika dalam beberapa hari kemudian – saat saya menulis catatan ini – rapat umum 22 Juli juga masih disebut-disebut.

Ini artinya, rapat umum seperti ini semakin membuat anggota menjadi lebih percaya diri. Meningkatkan keyakinan mereka, bahwa solidaritas yang sesungguhnya adalah mewujud dalam gerakan. Bahwa persatuan, kekuatan kolektif, memang akan menjadikan kita kuat dan tak terkalahkan. Kesadaran inilah yang telah menggerakkan mereka. Belum optimal, memang, tetapi proses menuju kearah sana terus tercipta.

Ini adalah pendidikan yang efektif dan efisien. Anda bisa membayangkan, ketika seorang buruh berdiri diantara ribuan kawan seperjuangan, mendengarkan para pemimpinnya berorasi dan memberikan pencerahan, maka dalam sekejap semua rasa ketakutan itu akan hilang. Kesadaran bahwa keadilan itu harus direbut, penguasa tirani yang tidak mencintai rakyatnya harus dilawan, tumbuh secara cepat.

Saya tahu betul, bagaimana teman-teman berjibaku untuk bisa bergabung dalam aksi besar di DPR RI. Bagi unit kerja yang memiliki anggota relatif besar, memang mengandalkan cost (iuran anggota). Tak heran jika beberapa kawan berkomentar, kas mereka bahkan minus untuk membiayai aksi ini. Tidak apa, toh keberadaan iuran anggota dalam serikat pekerja bukan untuk tabungan. Ini bukan koperasi yang harus untung. Namun, disinilah kekuatan itu. Kesadaran mereka untuk membayar iuran 1% dari upah semakin menguat, karena mereka tahu, uang itulah yang digunakan organisasi untuk terus melawan.

Kesadaran seperti ini memang harus dirawat. Bukankah serikat pekerja adalah organisasi gerakan? Setidaknya, seberapa besar anggota bisa digerakkan untuk memperjuangkan perbaikan-perbaikan, maka sebesar itu juga organisasi serikat pekerja akan dihitung. Saya tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika serikat pekerja tidak pernah menginstruksikan anggotanya untuk turun ke jalan.

Hidup buruh…,

Catatan Ketenagakerjaan: Kahar S. Cahyono
https://kaharscahyono.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s