Surat Untuk Fadlan (1): Kebahagiaan Itu…

Saat mentari pagi menebar cinta,
di hari Kamis yang damai….

Hari ini, 6 tahun yang lalu, adalah saat-saat yang mengharu biru bagi abimu. Ketika untuk pertamakalinya tangismu pecah menjelang subuh, tepat di akhir bulan Juni 2005. Saat yang sama, ketika air mata menganak sungai di pipi abimu ini. Tangis bahagia? Atau luapan cinta dan lautan syukur yang tak bertepi?

Masih hangat dalam ingatan Abi, saat-saat engkau dilahirkan di dunia ini. Di tengah rasa sakit tak terperi yang mendera Umimu, juga lantunan do`a yang tak terputus dari orang-orang yang mencintai dan menginginkan kehadiranmu.

Entahlah, semua rasa menjadi satu ketika itu. Takut, khawatir, gelisah, pasrah, juga bahagia. Dirimu adalah anak pertama, buah cinta Kahar dan Maimunah, yang kelak engkau panggil Abi dan Umi. Harta paling berharga, tambatan hati dan penerus cinta dan asa orang tuamu ini.

Di ruangan bersalin itu, hanya ada Umi, Abi, dan Bidan Dewi yang membantu proses kelahiranmu. Dan sejujurnya ingin aku katakan, itulah saat-saat yang paling menegangkan. Abimu ini telah banyak berada dalam berbagai situasi dan tekanan. Tetapi detik-detik menunggu kehadiranmu di dunia, adalah saat-saat yang paling menguras pikiran.

Engkau terlahir sebagai laki-laki. Abi sadar, itu adalah sebuah ketetapan dari-Nya. Tetapi itu juga yang semakin memperkuat keyakinan akan sebuah jawaban dari satu pertanyaan: Nikmat apalagi yang hendak kau dustakan?

Fadlan…,

Kuberitahukan kepadamu, Abi dan Umi menikah pada penghujung tahun 2003. Saat usia Abi memasuki 21 tahun. Pernikahan dini, kata banyak orang. Akan tetapi, waktu 2 tahun menunggu kelahiranmu justru adalah waktu yang terasa sangat lama. Umimu bahkan selalu resah setiap akhir bulan. Mengingat saat itu, tanda kehadiranmu tak kunjung terlihat.

Abimu, yang jauh meninggalkan kampung halaman, Blitar. Juga Umimu yang sudah beberapa tahun merantau dari Palembang, secara tidak langsung mempercepat proses pendewasaan itu. Sebuah kesadaran, yang juga kebutuhan, bahwa hidup harus dijaga. Karena pada akhirnya, tidak ada yang tersisa, kecuali lantunan do`a dari sang buah hati.

Itulah sebabnya, bahagia tak terkira saat tangismu terdengar. Seperti menggenggam purnama dengan sempurna. Ya, apalagi harapan terbesar sebuah mahligai keluarga, jika bukan melengkapinya dengan si buah hati.

Ini keajaiban. Perasaan inilah yang selalu menggelayut dalam pikiran Abimu ini. Baru kemarin rasanya rumah ini sepi tanpa hadirmu. Dan sekarang, ada sosokmu yang terus tumbuh. Celoteh kritismu. Dan pertengkaran manja antara dirimu dan adikmu, Haya, yang tak jarang berujung tangis. Tangis yang justru terdengar manis. Tidak mengiba, tetapi penuh akan cinta.

Selamat ulang tahun anakku…,

Berilah bobot bumi dengan langkah yang penuh arti…,

Catatan:
Fadlan lahir tepat di tanggal 30 Juni 2005. Tulisan ini terlambat diposting di blog ini, karena sebelumnya di posting di Fb.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s