Optimis, Apa Susahnya?

Beberapa minggu belakangan ini, saya bertemu dam berdiskusi dengan banyak teman. Tentang beragam hal. Dari isu perburuhan, jaminan sosial, organisasi, hingga politik. Diskusi memang tidak serta merta merubah kondisi di negeri ini menjadi lebih baik. Namun setidaknya, dari sini kita bisa menemukan cahaya, yang akan menuntun langkah kita agar tidak tersesat di tengah jalan.

Ada, memang, jiwa-jiwa yang sudah terlalu pesimis. Melihat dunia hanya dari sisi negatif, bahwa segala kebobrokan ini adalah realita yang semestinya diterima begitu saja. Tidak perlu memikirkan orang lain. Apalagi melakukan sesuatu untuk mereka. Diri sendiri saja masih banyak cela. Begitu sebagian dari mereka berpendapat.

Sikap seperti ini, dalam taraf tertentu bisa dimaklumi. Bahkan, bisa jadi baik. Ini bentuk kewaspadaan, juga kesadaran. Pemetaan yang cermat terhadap sebuah masalah, bahwa memang ada sisi kelam dalam kehidupan ini. Masalahnya adalah, jika kemudian sikap seperti ini justru mendominasi pikiran, yang teraplikasi dalam tindakan.

“Untuk apa berjuang? Kalau toh tidak akan merubah keadaan?” Aha, inilah kalimat yang sering mereka gunakan sebagai pembenaran.

Tidak berhenti sampai disini, biasanya mereka akan membuat stigma buruk terhadap jiwa-jiwa yang berbuat tanpa pamrih: kurang kerjaan, pahlawan kesiangan, ada udang dibalik batu.

Apa untungnya sebuah diskusi yang penuh caci maki? Yang mereduksi nilai-nilai luhur keikhlasan dalam berbagi?

Bukannya membangun sinergi dan memperkuat energi, tetapi justru memberi keyakinan bahwa apa yang sedang dikerjakan sesungguhnya akan berakhir sia-sia.

Akan tetapi – dan ini yang menarik – ditengah serbuan sikap pesimisme dan apatis itu, selalu ada yang melegakan hati saya. Ini terjadi, ketika menemukan jiwa-jiwa yang penuh optimisme. Memandang masa depan dengan semangat. Bahwa tercapainya cita dan asa adalah soal waktu.

Menemukan orang-orang seperti ini, membuat saya seperti tengah berada di sebuah oase. Seperti mendapatkan energi baru. Tersemangati. Dan dari binar mata banyak orang yang saya temui, pertemuan dengan jiwa-jiwa yang selalu menebar semangat dan optimisme, sungguh adalah pertemuan yang istimewa.

Orang bijak mengatakan: Jika pun saya tahu esok akan mati, tetapi akan tetap ketanam pohon ini. Memang, bukan saya yang akan memanen buahnya kelak. Tetapi anak, dan anak dari anak-anak saya yang akan menikmati hasil jerih payah dari ikhtiar yang saya lakukan saat ini.

Hati saya selalu tergetar ketika bertemu jiwa-jiwa damai seperti ini. Yang tidak mengukur langkahnya, hanya semata-mata untuk kepentingan pribadi. Pikirannya jauh kedepan, melampaui apa kebanyakan orang. Melintasi batas waktu. Atau, dalam istilah indah yang saya dapatkan ketika berdiskusi dengan teman-teman petani di Batang – Jawa Tengah: Mereka setia menggenggam harapan.

Bisa jadi, memang tidak saat ini kita akan memetik hasilnya. Tetapi setidaknya, tonggak sudah kita tancapkan. Sejarah yang akan mencatat, bahwa kita bukanlah jiwa-jiwa pecundang yang terdiam melihat ketidakadilan.

Siapa menanam, pasti menuai.

Catatan Kehidupan: Kahar S. Cahyono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s