“Kematian Ruyati, Juga Kematian Rakyat Karena Tidak Adanya Jaminan Sosial di Negeri Ini”

Ruyati masih saja menjadi pemberitaan di berbagai media. Perempuan ini dihukum qisas, dipancung setelah divonis bersalah karena membunuh majikan dan tidak dimaafkan oleh keluarga korban. Mati memang takdir. Tetapi bagi Ruyati, banyak sisi lain yang menjadi sorotan. Bukan saja soal bagaimana nyawa terpisah dari raga, tetapi juga fakta tak terbantahkan dari buruknya diplomasi dan kinerja pemerintahan di negeri ini.

Dalam tulisannya, pemerhati sosial budaya yang tinggal di Jakarta, Djoko Suud Sukahar mengatakan, kini masih ada 23 WNI lagi yang akan menghadapi ancaman serupa. Dan itu baru di Saudi Arabia. Belum yang tersebar di negara-negara lain. Memang kita malu disebut sebagai ‘negara babu’. Tapi karena pemerintah tak kunjung berbenah, memanfaatkan kekayaan negeri ini digunakan mengangkat harkat dan martabat bangsa ini, maka rasa malu itu menjadi tragic-komedi. Malu tapi mau apalagi karena terpaksa.

Ya, sebuah keterpaksaan. Ungkapan ini, saya kira tepat untuk menggambarkan apa yang tengah terjadi. Mengingat keterbatasan lapangan pekerjaan di negeri yang pernah disebut-sebut sebagai zamrud di khatulistiwa ini. Jika saja ada, niscaya mereka tidak berminat menjadi babu di negeri orang.

Saat masih di Blitar, Jawa Timur, kata TKW atau TKI bukanlah sesuatu yang asing. Apalagi, banyak tetangga saya yang melakukan ini. Kawan-kawan di sekolah, tidak sedikit yang orang tuanya menjadi pahlawan devisa. Istilah keren untuk menyebut TKW/TKI.

Belakangan saya tahu, beberapa kawan juga mengikuti jejak yang sama. Menjadi TKW, bahkan sejak lulus dari SMP. Beberapa diantara mereka, bahkan menjadikan ini sebagai sugesti. Cukup lulus SMP, lantas mencari ‘duit’ ke negeri jiran. Dari hitung-hitungan ekonomis, setidaknya ini akan lebih baik. Ketimbang sekolah tinggi-tinggi, tetapi kemudian menjadi pengangguran akibat tak terserap lapangan kerja. Sebagian memang menjadi kuli di pabrik dan ‘tuan tanah’, dengan penghasilan yang jauh dari memadai.

Saat itu, saya belum menyadari apa sesungguhnya yang terjadi. Adalah hak semua orang, untuk memperbaiki taraf hidup. Membeli sebidang tanah dan membangun rumah, dari penghasilannya sebagai TKW/TKI. Jika itu disebut jalan pintas, saya kira ada benarnya.

Ketika nama Ruyati ramai disebut-sebut, pemahaman saya tentang kerja, juga tentang TKW ataupu TKI, sudah jauh berubah. Ada yang salah di negeri ini. Dan sebagai sebuah bangsa, selayaknya ada yang bertanggungjawab atas kesalahan itu. Siapa lagi kalau bukan pemerintah?

Sulit untuk dimengerti, jika ada beberapa orang yang mengatakan untuk tidak menyalahkan pemerintah, dan meminta untuk melakukan instropeksi terhadap diri sendiri. Jika semua hal diserahkan kepada diri sendiri, lalu apa pentingnya ada pemerintahan? Mengapa mesti ada NKRI? Saya kira, ini tentang konsesus kita sebagai sebuah bangsa.

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Bahkan kepastian. Tetapi bagaimana orang itu mati, adalah sebuah diskusi, juga pertanyaan kritis untuk mencari sebuah solusi.

Apa yang saat ini sedang diperjuangkan kawan-kawan KAJS, misalnya, agar rakyat mendapatkan pengobatan gratis, untuk semua penyakit dan seumur hidup adalah upaya untuk mengurangi kematian yang sia-sia. Dengan dipancung maupun ketidakberdayaan membayar rumah sakit, kematian tetaplah menebar kesedihan dan dendam. Sedih, karena pemerintahan ini tidak melakukan upaya secara maksimal. Tetapi juga dendam, untuk segera mengganti rezim ini dengan pemimpin amanah yang mencintai rakyatnya.

Ach, cerita tentang pahlawan devisa ini selalu menyisakan air mata. Seperti yang pernah ditulis indah oleh Ana Westy, dalam buku kumpulan puisi ”Senyum Bulan Desember” dibawah ini:

Senyum Bulan Desember

Lama engkau mengadu nasib di luar negeri

Demi aku dan para saudara tiri

Pergimu lama tak sekali

Kabarmu jarang diberi

Hingga suatu kali

Kata mereka engkau akan kembali

Bulan Desember ini

Aku akan melihatmu lagi

Kunanti…dan selalu kunanti

Kedatanganmu di bawah matahari pagi

Tapi diri tak mengerti

Senyummu yang pasi

Detik ini

Aku ingin mati

One thought on ““Kematian Ruyati, Juga Kematian Rakyat Karena Tidak Adanya Jaminan Sosial di Negeri Ini”

  1. sebuah renungan yang baik, sebelum semakin panjang lagi daftar Ruyati-Ruyati lain yang harus mengalami nasib serupa. Pemerintah memang harus sering diberi penyadaran bahwa masih terlalu banyak yang harus dibenahi di Rebuplik tercinta kita. semoga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s