Menuju Gerakan Sosial dan Politik (5): Membangun Kemandirian Gerakan

“Saya dulu takut melihat orang pakai dasi. Tetapi setelah ikut Omah Tani, sekarang saya tidak takut lagi. Disini saya diajari untuk tidak takut kepada orang. Toh mereka sama-sama makan nasi.” Rangkaian kalimat ini keluar dari bibir wanita tengah baya, anggota Omah Tani, ketika memperkenalkan dirinya dalam Lokakarya Gerakan Serikat Buruh Nasional di Batang.

Untuk sebagian orang, bisa jadi kalimat itu biasa saja. Namun tidak bagi saya, yang mendengar secara langsung bagaimana wanita ini saat mengucapkannya. Di telinga saya, kalimat itu tidak hanya sekedar kata-kata. Ia memiliki ruh. Mungkin karena diucapkan dengan hati, dan didasari atas sebuah refleksi atas apa yang mereka alami selama ini. Ada kejujuran disana. Getaran suaranya, seolah memberi pesan ini muncul karena sebuah kesadaran.

Berbicara tentang kesadaran, seringkali kita terjebak kedalam perdebatan panjang. Apalagi jika itu disampaikan dengan perspektif negatif, sehingga yang mengemuka hanyalah keluhan. Ini biasanya, terkait dengan rendahnya kesadaran buruh untuk berorganisasi. Terkait dengan minimnya kesadaran kaum buruh untuk memperjuangkan nasibnya. Lantas, kita hanya sibuk disitu, dan tidak melakukan apa-apa. “Percuma memberikan penyadaran kepada orang yang tidak pernah mau sadar,” kalimat pasrah, sebagai pembenaran untuk menyerah.

Ini adalah proses yang tidak instant. Seperti halnya yang dilakukan di Omah Tani, proses penyadaran itu dilakukan terus menerus dan berulang. Bahkan hampir setiap hari. Disini, konsolidasi menjadi kata kunci. Organisasi tidak hanya berfungsi untuk menghimpun anggota, tetapi juga menjadikan anggota bersedia ikut berpartisipasi untuk mensukseskan kerja-kerja organisasi.

Ya, ini adalah kerja jangka panjang. Sama seperti yang dipikirkan peserta lokakarya, untuk membangun gerakan serikat buruh yang lebih kuat. Bukan hanya di lingkup pabrik, tetapi juga publik. Menuju gerakan sosial dan politik, bukan sekedar mengurusi hal-hal, yang kata Bung Karno, remeh temeh.

Dalam Lokakarya ini, peserta juga mendiskusikan lebih serius bagaimana kelanjutan dari Forum Aliansi Serikat Pekerja Serikat Buruh se-Jawa dan Sumatera. Tentang bagaimana kedepan forum ini benar-benar mampu memberikan sumbang sih yang berharga bagi gerakan buruh Indonesia.

Memang, peserta menyepakati untuk melakukan pertemuan lanjutan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada akhir Oktober tahun ini. Akan tetapi, tanpa adanya arah dan tujuan yang jelas, saya kira pertemuan-pertemuan ini hanya akan menjadi seremonial belaka. Tentu saja, ini adalah point penting yang harus kita diskusikan dengan lebih serius. Tentang platform, tentang cita-cita kita bersama.

Saya kira, optimisme itu tetap membari. Apalagi, forum berisi aktivis buruh dari berbagai daerah yang memiliki pemikiran revolusioner dan hati nurani. Jika potensi ini bisa dioptimalkan, saya kira bisa menjawab berbagai permasalahan terkait dengan fragmentasi serikat buruh, yang selama ini dikritik banyak orang.

Hal lain, yang tidak kalah pentingnya adalah soal ‘kemandirian gerakan.’ Bagaimana forum ini bisa tetap eksis dan menghidupi dirinya sendiri. Kedepan, forum tidak boleh lagi mengandalkan LSM atau lembaga donor untuk memfasilitasi pertemuan. Memang terasa berat untuk saat ini, tetapi itu harus dilakukan. Kita pasti bisa. Pasti!

Tulisan lain:

4. Menuju Gerakan Sosial dan Politik (3): Mengedepankan Prasangka Baik

3. Menuju Gerakan Sosial dan Politik (3): Setia Menggenggam Harapan

2. Menuju Gerakan Sosial dan Politik (2): Buruh dan Petani, Bersatulah!

1. Menuju Gerakan Sosial dan Politik (1): Belajar Gerakan Politik dari Petani Batang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s