Menuju Gerakan Sosial dan Politik (4): Mengedepankan Prasangka Baik

Tulisan saya tentang Menuju Gerakan Sosial dan Politik 1 sampai 3 menuai beragam tanggapan. Beberapa mengatakan, ini adalah tulisan yang penting. Menjadi semacam laporan atas study banding ke Batang, melihat langsung bagaimana petani disana mengelola sebuah gerakan sosial dan politik. Informasi ini penting, agar pelajaran berharga ini tidak saja dimiliki segelintir orang. (Setidaknya mencoba lebih baik dari anggota DPR yang tidak pernah transparan melaporkan hasil studi bandingnya, hehe…)

Ada, memang, yang menyebut tulisan ini sebagai pesanan. Hanya untuk mempopulerkan kelompok tertentu. Untuk itu perlu saya tegaskan disini, saya memang memiliki maksud tertentu setiap kali menulis. Saya kira tidak perlu lagi diperdebatkan, tulisan merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pikiran. Dan sebagai orang yang terlibat secara langsung dalam dinamika gerakan, tidak berlebihan jika kemudian saya menggunakan media ini untuk bersuara.

Jika kemudian ada kelompok tertentu yang diuntungkan karena tulisan ini, semestinya tidak perlu iri. Saya kira, kita harus belajar sportif. Memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan organisasi/lembaga lain, jika memang itu positif. Bukannya malah menutup mata, hanya karena yang melakukan kebaikan itu bukan dari kelompok kita. Merasa benar sendiri, dan senantiasa mengerdilkan orang lain, justru akan menjadi kan diri kita kerdil. Atau dalam bahasa sebagian peserta lokakarya, kita mesti membangun saling percaya.

Saling Percaya

Tentang kata ‘saling percaya’ ini, sempat menjadi perdebatan bagi peserta lokakarya di Batang. Ini bermula dari presentasi kelompok 3, yang menyatakan bahwa untuk membagun sebuah aliansi yang kuat, salah satunya harus dilandasi rasa saling percaya.

Adalah Marwanto, peserta dari FSPMI yang pertamakali membantah pendapat ini. Menurutnya, kata-kata ‘saling percaya’ itu abstrak. Sebab yang diperlukan adalah tindakan konkret, sebagai wujud dari rasa saling percaya itu. Sepercaya apapun kita kepada seseorang, tetap saja harus ada kontrak politik. Harus tetap dikontrol.

Dua kata ini akhirnya dipersoalkan hingga berlarut-larut. Diperdebatkan. Saling mempertahankan argument.

Dari sini, sesungguhnya ada pelajaran berharga yang bisa kita petik. Bukan tanpa sebab jika kemudian ada yang mempersoalkan ‘saling percaya’ sebagai syarat untuk membangun aliansi. Salah satunya, adalah soal pengalaman. Betapa seringnya aliansi dibangun, lalu bubar di tengah jalan karena adanya penghianatan-penghianatan. Adanya kecurigaan yang berlebihan terhadap kelompok lain yang menjadi anggota aliansi, yang pada akhirnya memupus rasa percaya ini.

Ketika berulangkali berjanji akan mengerahkan ribuan massa dalam aksi, namun nyatanya tidak pernah terbukti. Karena itu, kata-kata ‘saling percaya’ tidak tepat digunakan sebagai landasan.

Belum lagi, kata ‘saling percaya’ seringkali disalahgunakan elit.

“Masak anda tidak percaya sama saya?” Kalimat yang sejatinya menekan. Seolah memaksakan sebuah kehendak, untuk mempercayai satu dengan yang lainnya. Masak tidak percaya sama saya, saya sudah cukup senior di organisasi ini, memiliki rekam jejak yang baik. Masih tidak percaya?

Lalu apa?

Prasangka baik.

Ya, bisa jadi, ini adalah kata yang tepat. Adanya prasangka baik. Boleh jadi, saya tidak percaya dengan kelompok lain, akan tetapi dengan mengedepankan prasangka baik, semestinya hal itu tidak lagi menjadi kendala dalam membangun sebuah kebersamaan. Tanpa prasangka baik, cita-cita perjuangan hanya akan menjadi omong kosong. Sebab tidak mungkin kita bisa bekerja dengan optimal, jika selalu dicurigai.


Kentang dalam Karung

Gambaran ini disampaikan oleh Handoko, sang pendiri Omah Tani. Ia mengibaratkan petani itu seperti kentang yang dimasukkan kedalam karung. Jika karung itu dibuka, maka kentang akan tercerai berai. Tidak pernah ada kentang yang sebesar karung, dan itulah sebabnya, dibutuhkan banyak kentang untuk bisa memenuhi isi karung tadi.

Ini berarti, butuh adanya persatuan. Butuh sebuah pengikat, agar tidak tercerai berai. Butuh organisasi.

Dalam sebuah perjuangan, misalnya, Handoko menyebut gerakan buruh seharusnya bisa lebih solit. Digambarkan, dalam sebuah aksi yang melibatkan buruh dan petani, buruh lah yang paling konsisten. Sebab petani akan sering ijin, untuk memberi makan ternaknya, mengairi sawahnya, merawat padinya. Sedangkan buruh, dia tidak akan berfikir lagi bagaimana kondisi pabriknya. Semakin pabrik itu berhenti, itu tanda revolusi sudah didepan mata.

Akan tetapi, dimana gerakan buruh itu kini bersembunyi? Bahkan beberapa kalangan mengatakan mulai sunyi. Buruh semakin sibuh di pabrik-pabrik, lalu abai dengan persoalan di dalam masyarakat.

Jika kemudian saat ini kita mulai sering memperbincangkan adanya transformasi gerakan serikat buruh menuju gerakan sosial dan politik, apa yang menjadi tolak ukurnya? Jangan-jangan ini hanya euforia sesaat terkait isu jamsos, lalu keletihan di tengah jalan dan kemudian tiarap. Mungkin kita tidak berharap ini akan terjadi. Pertanyaanya kemudian, apa yang bisa kita lakukan?

Satu hal yang pasti, tidak boleh saling menyalahkan. Sebaliknya, kita harus selalu berprasangka baik. Sebab sejatinya, kaum tani, buruh, dan nelayan sama-sama menjadi korban dari sebuah system. (bersambung….)

Tulisan lain:

3. Menuju Gerakan Sosial dan Politik (3): Setia Menggenggam Harapan

2. Menuju Gerakan Sosial dan Politik (2): Buruh dan Petani, Bersatulah!

1. Menuju Gerakan Sosial dan Politik (1): Belajar Gerakan Politik dari Petani Batang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s