Menuju Gerakan Sosial dan Politik (2): Buruh dan Petani, Bersatulah!

Jum`at pagi, jam 07.30 kami tiba di Omah Tani. Tidak banyak yang berubah dari Omah Tani, disbanding ketika saya datang ketempat ini pada 2010 lalu. Bedanya, kini sudah ada musholla. Mungil memang, namun nampak eksotis di tengah kebun cengkeh itu.

Sekretariat Omah Tani sendiri menempati rumah Handoko Wibowo, tokoh dibalik keberadaan Omah Tani. Ya, rumah yang dibangun sejak zaman Belanda itu terbuka bagi siapa saja. Selayaknya sebuah sekretariat, rumah ini nyaris tidak memiliki privasi. Dan yang lebih penting, pria yang masih melajang ini tidak merasa terganggu karena semua itu.

Inilah yang kemudian disebut beberapa kawan, jika kita ingin menjadi pemimpin yang baik, maka kita harus memposisikan sebagai pelayan. Dan bukan sebaliknya, ingin dilayani. Sebab dalam sebuah organisasi gerakan, seperti serikat buruh dan tani, hubungan itu menjadi tidak tepat jika diistilahkan atasan dan bawahan. Inilah barangkali, spirit yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara: ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Kami diperlakukan sebagai raja disini. Benar-benar sebagai tamu, dengan sambutan hangat dan jamuan istimewa. Dalam diskusi, misalnya, sebagai tuan rumah, Handoko dan teman-temannya menjawab setiap pertanyaan kami dengan sabar. Saya bisa merasakan setiap kata-katanya keluar dari hati, dan oleh karenanya bisa masuk ke hati kami.


Siapa Handoko Wibowo?

Sebagaimana saya singgung di atas, lokakarya ini memang akan banyak berhubungan dengan Handoko Wibowo, yang oleh sebagian orang disebut-sebut sebagai Guru Demokrasi Petani Batang. Siapa sesungguhnya Handoko Wibowo, laporan Kompas terbitan 6 Februari 2006 ini saya kira bisa memberikan gambaran tentang siapa sesungguhnya Handoko.

Oleh kalangan aktivis demokrasi ia disebut aktor dominan atau aktor eksternal dalam proses demokratisasi di Batang. Oleh rezim yang berkuasa, ia mungkin disebut ”provokator” karena ikut menggerakkan berbagai unjuk rasa petani.

Namun, pengacara kelahiran Pekalongan 9 November 1962 itu lebih suka disebut guru gerakan petani di Batang. Rumahnya di Dukuh Cepoko, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Batang, adalah tempat persinggahan berbagai kalangan.

Handoko adalah kontradiksi. Ia berlatar belakang etnis China dan seorang Kristiani di tengah mayoritas Muslim petani pantai utara Jawa itu. Rumahnya—warisan orangtua—berdiri di atas tanah delapan hektar, di tengah petani penggarap yang rata-rata tidak punya tanah.

Kontradiksi ini pula yang sempat dipertanyakan aktivis Partai Rakyat Demokratik ketika berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Aktivis itu mempersoalkan kondisi borjuasi Handoko yang kontradiktif dengan kelompok petani yang dia perjuangkan. ”Sulit menjelaskannya, tetapi itulah misteri kehidupan,” kata putra sulung pasangan Teguh Budi Wibowo (almarhum) dan Lena Indriana itu.

Keputusannya bertahan sejak tahun 1998 hingga sekarang mendampingi petani Batang merupakan perpotongan pengalaman masa lalu ayahnya, pergaulan masa kecilnya dengan anak petani, serta rasa belas kasihan terhadap nasib petani penggarap Batang.

Ayahnya—orang terkaya di Batang periode 1960-an—ditahan tiga bulan karena diindikasikan anggota Partai Komunis Indonesia oleh orang China sendiri hanya karena aktif di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki).

Ayahnya juga menjadi korban pemerasan pejabat, sehingga selalu ingin dekat penguasa dan jenderal. ”Karena itu Ayah mendorong saya belajar hukum, supaya tidak dikurangajari,” tuturnya.


Apa yang Bisa Dipelajari dari Omah Tani

Lokakarya dimulai pukul 09.00. Risna (TURC), membuka lokakarya dengan menyampaikan latar belakang kegiatan ini. Mencoba menjawab sebuah pertanyaan penting, bisakah kita memaknai perjuangan atas jaminan sosial, sebagai fakta adanya transformasi gerakan serikat buruh menuju gerakan sosial dan politik.

Keberadaan Omah Tani, di Batang, juga mengingatkan kita pada keberadaan Serikat Petani, yang sesungguhnya juga terdapat di banyak daerah. Pertanyaannya kemudian, apa yang membedakan Omah Tani dengan Serikat Petani yang lain? Apakah Omah Tani hanya ada di Batang, dan tidak memiliki keterkaitan dengan yang terdapat di daerah lain? Bagaimana Omah Tani bisa melakukan transformasi dari gerakan tani menuju gerakan politik? Lantas apa pertimbangan Omah Tani, sehingga dalam kongres kali ini mengambil tema, Go Politik? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang terus berkelebat dalam benak saya, sekaligus menuntut sebuah jawaban.

Ya, pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelebat dalam benak saya. Sekaligus menjadi substansi, apa sesungguhnya yang bisa diambil dari serikat buruh, dengan jauh-jauh datang ke Batang guna mempelajari gerakan petani. Dan karena keyakinan bahwa akan ada pelajaran yang bisa diambil, kita bersedia hadir dalam lokakarya ini.

Tentang keberadaan Omah Tani (sebagai Serikat Tani), juga terjadi dalam serikat buruh. Bahkan, di tiap daerah, kita juga menjumpai berbagai aliansi. Sebut saja, Forum Buruh DKI , Aliansi Buruh Serang, Koalisi Buruh Sukabumi, Forum Buruh Depok, Gerakan Buruh Semarang, Aliansi Buruh Jawa Timur, Aliansi Buruh Yogyakarta, Forum Buruh Bekasi, Aliansi Buruh Bogor, hingga Aliansi Buruh Bandung.

Ketika ditanyakan alasan, mengapa saya bersedia hadir dalam lokakarya ini, saya menyebut dua hal. Pertama, saat ini FSBS sedang mengembangkan sebuah organ bernama Blok Politik Masyarakat Serang. Sesuatu yang juga sedang dilakukan oleh Omah Tani. Dengan demikian, kami bisa belajar dan melihat secara langsung, bagaimana Blok Politik dikembangkan di daerah ini. Kedua, saya ingat di pemilu 2009, ketika hampir semua aktivis buruh yang diusung oleh serikat buruh gagal duduk di DPR/DPRD. Uniknya, Omah Tani berhasil menempatkan seorang kadernya di DPRD. Tidak cukup hanya itu, mereka mereka juga memiliki sebelas Kepala Desa, yang semuanya adalah anggota Omah Tani. Adakah sesuatu yang bisa kita adopsi dari pengalaman ini? Jika di daerah industri, misalnya, buruh mencalonkan sebagai Kepala Desa, apakah berhasil terpilih?

Lepas dari itu semua, semoga agenda ini mampu meretas asa, tentang sebuah kolaborasi gerakan yang menggabungkan buruh dan petani. Saya yakin bisa, dan semangat itu nampak dari lokakarya ini. (bersambung….)

Tulisan lain:
1. Menuju Gerakan Sosial dan Politik (1): Belajar Gerakan Politik dari Petani Batang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s